2k readers! Terima kasih banyak!!❤
So far, apa pendapat kalian tentang cerita ini? Let me know💕
Happy reading!🐞
---
Adriel sedang sibuk mencuci motornya ketika Kanaya keluar dari dalam rumah lelaki itu sembari potongan kue di tangannya.
"Adriel, kamu harus coba kue buatan aku," ucap Kanaya.
"Gue nggak suka makanan manis."
Kanaya langsung mengerucutkan bibirnya. "Oh iya, lupa."
Pada akhirnya, Kanaya duduk di kursi taman yang ada di depan rumah Adriel sambil menyantap potongan kue yang tadinya ia bawakan untuk Adriel.
"Lo ngapain disana?" Adriel berdecak pelan.
Kanaya menjawab di sela-sela kunyahannya. "Ngeliatin kamu."
Rasanya kepala Adriel ingin pecah mendengar jawaban Kanaya yang kelewat santai. "Lo mending mandi sekarang, gue nggak mau nungguin lo dandan."
"Iya-iya. Bentar aku habisin kuenya dulu. Kamu aja belum selesai nyuci motornya," balas Kanaya kemudian kembali menggigit ujung kue yang ia bawa.
"By the way, Adriel," kata Kanaya.
Adriel tidak menyahut.
"Adriel!"
Masih tidak ada respon.
"Adriel, nyaut kenapa, sih."
"Hm."
"Adriel!" panggil Kanaya yang rupanya tidak puas jika Adriel hanya menyahutnya dengan gumaman saja.
"Apaan," balas Adriel dengan nada kesal sembari menatap Kanaya. Kanaya langsung tersenyum lebar. "Gitu, dong."
"Aku baru kepikiran sesuatu," Kanaya memulai. "Kamu kan pinter masak, aku pinter buat kue. Jadi kita bisa melengkapi gitu di masa depan. Kamu yang masak, aku buat dessertnya."
Adriel yang memang sedang membelakangi Kanaya karena tengah mengeringkan motornya langsung membalikkan tubuh, menatap Kanaya secara langsung.
Melihat tatapan Adriel yang sangat tidak bersahabat, Kanaya langsung menunjukkan cengirannya kemudian mengangkat tangan kirinya dengan jari membentuk huruf v.
"Bercanda-bercanda. Galak banget, sih."
Perhatian Adriel dan Kanaya seketika teralih saat bunyi raungan motor terdengar mendekat, kemudian berhenti tepat di depan rumah Kanaya.
Itu David.
"Dave," gumam Kanaya pelan. Kanaya buru-buru menghampiri David yang sedang membuka helmnya kemudian merapikan rambutnya.
"Dave, lo ngapain pagi-pagi disini?" tanya Kanaya heran.
David menyodorkan sesuatu yang dibungkus kantong plastik putih. "Bubur ayam, kesukaan lo. Tadi gue sarapan di luar, sekalian beliin untuk lo."
Senyum Kanaya melebar. "Makasih ya, Dave. Emang terbaik deh, lo!"
"Kanaya" panggil Adriel. "Lo cepet siap-siap sana, gue juga mau mandi."
Tanpa menunggu balasan Kanaya, Adriel langsung masuk ke dalam rumahnya. David menatap Kanaya dengan perasaan campur aduk. "Nay, lo mau jalan sama dia?"
Kanaya mengangguk antusias, tak sadar dengan perubahan ekspresi di wajah David. "Aku mau nemenin dia ambil titipan Mamanya."
David hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia menghela nafas berat. Jika diibaratkan dengan balapan, Adriel sudah jauh di depan David. Bagaimana cara Kanaya melihat Adriel, atau sorot mata gadis itu saat ia bercerita sesuatu yang berhubungan dengan Adriel, David tahu gadis itu menyukai Adriel. Memang belum sampai tahap mencintai, namun tetap saja, Adriel mendapatkan sesuatu dari Kanaya yang selama ini justru David inginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsundere [Completed]
Teen Fiction[BAHASA] Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time. *** Kisah ini berawal dari Kana...
![Tsundere [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/114359214-64-k34770.jpg)