Adriel-Kanaya shipper mana suaranya? Wkwkwk😆🤗
Happy reading!✨
---
Langit sudah sepenuhnya gelap saat Kanaya menghempaskan bokongnya di atas bangku taman yang dingin yang ada di taman kompleks rumahnya.
Kanaya mengusap lengannya pelan saat dinginnya malam menerpa tubuhnya. Namun ini lebih baik, daripada ia berdiam diri di dalam kamar. Ia lebih memilih disini, supaya bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya.
Gue masih sayang lo. Kalimat yang dilontarkan David itu masih terus membayangi pikirannya. Ia tidak pernah menyangka bahwa cowok itu masih menyimpan rasa padanya, setelah satu tahun berlalu.
David pertama kali menyatakan perasaannya kepada Kanaya saat mereka baru saja menyelesaikan masa orientasi SMA. Kala itu, David dan Kanaya yang masih menggunakan seragam abu-abu baru mereka tengah duduk di depan teras rumah Kanaya.
Kanaya tidak ingat kejadian persisnya seperti apa, namun masih membekas di ingatan Kanaya saat David meraih tangannya dalam sebuah genggaman yang hangat dengan kalimat "gue sayang lo lebih dari seorang sahabat kepada sahabat" keluar dari bibir David. Kanaya hanya mampu membeku kala itu, sebelum ia berkata, "Dave, maaf."
Kanaya tidak mau lagi mengingat yang setelahnya, karena ia membenci luka yang melintas di wajah David saat itu. Kanaya menyayangi David sebagai seorang sahabat, tidak pernah lebih. Dan ia ingin David melakukan hal yang sama.
"Lo disini rupanya." Suara dalam seorang cowok berhasil memecahkan lamunan Kanaya. Gadis itu mengangkat wajahnya hanya untuk mendapati sosok Adriel yang tengah berjalan ke arahnya.
Kanaya melemparkan senyum kepada Adriel yang sudah mengambil tempat disampingnya. "Kamu nyariin aku?"
"Hm."
"Ngapain?"
Adriel menatap Kanaya lalu mendengus. "Gue nggak membutuhkan alasan untuk nyariin lo."
Kanaya tersenyum lebar. Sejenak ia melupakan masalah yang sedari tadi mengusik dirinya tanpa henti. "Kok gitu?"
Adriel tahu bahwa Kanaya hanya ingin menggodanya dengan pertanyaan itu, namun Adriel tetap menjawabnya. "Cause you're my girlfriend."
Kanaya bisa merasakan pipinya yang dirambati oleh rasa hangat. "Kamu bisa romantis juga ternyata."
Adriel tidak menjawab lagi, namun tangan cowok itu sudah menyusup di sela-sela rambut Kanaya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang begitu lembut. "Lo kenapa?"
"Nggak pa-pa, kok."
"Ck," Adriel berdecak. "Lie to me and you will get a punishment."
"Punishment?"
"Hm. A kiss."
Kanaya tertawa. "Kalau gitu aku mau bohong."
"Jangan mengalihkan pembicaraan," tukas Adriel, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum yang muncul di wajahnya. Tangannya masih belum berhenti memainkan ujung rambut Kanaya.
"Dave," lirih Kanaya. "Dia bilang dia menjauh dari aku karena... Masih sayang sama aku, lebih dari seorang sahabat."
Gerakan tangan Adriel yang memainkan ujung rambut Kanaya berhenti. Bajingan itu. Kedengarannya memang konyol, namun Adriel tidak suka ada laki-laki lain yang juga ingin memiliki Kanaya. Kalau ia sudah tidak waras, mungkin sekarang ia sudah pergi ke rumah David dan menghajar cowok itu, menyuruhnya membuang perasaannya terhadap Kanaya jauh-jauh karena Kanaya adalah miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsundere [Completed]
Fiksi Remaja[BAHASA] Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time. *** Kisah ini berawal dari Kana...
![Tsundere [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/114359214-64-k34770.jpg)