38. No Way Out

2.6K 434 13
                                        

Terima kasih untuk 8K readers dan 3K votesnya!🙆

Happy Reading!✨

---

Waktu menunjukan jam 3 pagi saat David tengah memainkan ponselnya dengan posisi berbaring di balik selimut. Matjanya terasa berat, namun ada sesuatu di benaknya yang menahan dirinya untuk jatuh tertidur.

Entah bagaimana, tangan David malah membuka album khusus yang ia namakan "Her." Album foto berisi gambar-gambar Kanaya yang diambil secara candid, atau saat gadis itu berselfie dengan ponselnya.

David tersenyum saat ia melihat satu per satu foto itu. Kanaya dan senyumnya akan selalu menjadi favorit David. David suka saat mata Kanaya membentuk bulan sabit saat kedua ujung bibirnya melengkung ke atas.

Terlihat manis.

Senyum David perlahan memudar saat ia sadar bahwa akhir-akhir ini, ia tidak lagi menjadi alasan tertariknya kedua sudut bibir Kanaya ke atas. Kanaya boleh saja berkata bahwa tidak ada yang berubah untuk keduanya, namun tentu saja terlalu banyak yang berubah bagi David. Rasanya seperti ada dinding pembatas di antara David dan Kanaya, yang membuat David terasa jauh dari Kanaya.

Pemuda itu bangkit dari kasurnya, kemudian keluar dari kamarnya. Ia berniat mengambil segelas air untuk menenangkan pikirannya. Keadaan rumah begitu sunyi. Yang terdengar hanyalah bunyi telapak kaki David yang menyentuh lantai yang dingin, juga suara ketikan dan bunyi mesin cetak yang berasal dari ruang kerja suami Ratna, Ibunya.

Entah David bisa memanggil Pria itu Ayah atau tidak. Bukan, bukan karena ia tidak bisa menerima kehadiran Pria itu sebagai suami baru Ibunya, namun semuanya terasa terlalu cepat. Ayahnya meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil yang menimpanya, dan beberapa bulan setelahnya, David tahu Ibunya sudah mempunyai tambatan hati yang baru.

Pria itu pria yang baik. Dia sering mengajak Sasha untuk membeli boneka barbie atau sekedar mengajak adik perempuannya membeli cupcake. Terkadang ia juga berniat mengajak David untuk sekedar bermain bowling atau makan di restoran, namun untuk beberapa alasan, David memilih menolaknya secara halus.

Fakta bahwa pria itu dulunya mempunyai seorang istri membuat David semakin merasa tidak nyaman. Sebesar apapun keinginan David untuk menolaknya, tetap saja kenyataan mengatakan bahwa ibunya dulu adalah wanita simpanan.

Di beberapa malam, David merindukan Ayahnya. Bagi David, Ayahnya itu tidak tergantikkan. Beliau yang mengajarinya bermain bola kaki, mengajarkannya mengendarai motor. Ayahnya juga yang diam-diam memberikannya uang jajan tambahan saat Ratna memotong uang jajan David karena cowok itu bertengkar dengan teman sekelasnya saat duduk di bangku kelas 1 SMP. Kalau boleh jujur, ia tidak suka dengan kenyataan bahwa Ibunya bisa dengan mudah bergerak maju, tanpa ada niat sedikitpun untuk menoleh ke belakang.

David meletakkan gelas minumnya yang sudah kosong di meja makan yang terbuat dari kaca. Saat ia berniat untuk kembali ke kamarnya, Pria yang tak lain adalah ayah tirinya muncul dari balik ruang kerjanya dengan segelas cangkir kosong di tangannya. "David? Belum tidur?"

David tersenyum canggung. "Belum om--eh, Papa. Lagi nggak bisa tidur."

"Kamu tidur sana. Nggak baik tidur larut, loh."

David mengangguk kaku. "Iya, Pa."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang