[BAHASA]
Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time.
***
Kisah ini berawal dari Kana...
Soalnya wattpad lagi error kemarin, jadi ada beberapa yang nggak masuk notif atau nggak kebuka gitu partnya.
As always,
Happy reading!✨
---
Kanaya tidak tahu sudah berapa lama ia meringkuk di balik selimutnya. Yang pasti, sudah cukup lama. Dari balik jendelanya, Kanaya tahu bahwa langit sudah gelap.
"Kanaya, sayang. Makan dulu. Kamu belum makan apa-apa loh dari sepulang sekolah," kata Dimas dari balik pintu kamar Kanaya. Ia khawatir dengan kondisi Kanaya yang seperti ini.
"Mau Ayah bawakan makanannya?"
Tidak ada jawaban.
Dimas menghela nafas panjang, sebelum ia turun dan kembali ke ruang makan. Di dalam kamarnya, Kanaya masih memeluk boneka beruang raksasanya erat-erat. Bahunya masih bergetar walau tidak ada lagi air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Beberapa saat lalu, Adriel datang ke rumahnya. Cowok itu mencoba menemui Kanaya, namun gadis itu menolak, bahkan saat Flo dan Dimas sudah mencoba membujuknya. Ia tidak ingin bertemu Adriel. Tidak tahu sampai kapan. Intinya, bukan sekarang.
Rasa marah, kesal, malu, kecewa dan sedih bercampur menjadi rasa sesak yang luar biasa hebat di dalam dadanya. Adriel adalah lelaki pertama yang ia cintai, juga yang pertama menyakitinya.
"Pembohong," lirih Kanaya.
Seharusnya ia mendengarkan kata David. Seharusnya ia tidak semudah itu mempercayai Adriel. Tapi ia terlalu naif untuk melakukan semua itu. Dengan mudahnya, ia jatuh dengan semua kata demi kata Adriel. Dan sekarang, ia terluka.
Kanaya membawa boneka dan ponselnya turun, lalu mematikan lampu kamarnya dan keluar dari kamar sebelum akhirnya melangkah menuruni tangga dan masuk ke kamar tamu. Melihat balkon kamarnya membuat Kanaya terus-menerus teringat Adriel.
Kanaya membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tak lama kemudian, knop pintu ditekan dan Flo masuk ke dalam kamar tamu yang ditempati Kanaya dengan wajah khawatir. Flo lalu duduk disisi kasur sembari mengusap rambut Kanaya. "Kamu kenapa, sayang?"
"Aku nggak pa-pa, Bunda."
"Bunda nggak pernah ngajarin kamu bohong, Kanaya."
Kanaya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan tangisnya yang terancam pecah. "Kanaya nggak pa-pa kok, Bun."
"Kanaya, Bunda nggak suka dibohongin."
Tangis Kanaya yang sedari tadi gadis itu coba tahan pada akhirnya pecah. Ia bangun dan memeluk Flo erat-erat. "Bunda," panggil Kanaya di tengah tangisannya. "Adriel jahat sama Kanaya, Bun. Adriek jahat."
Flo memeluk balik putri semata wayangnya dengan penuh kasih. "Adriel jahat gimana sama Kanaya?"
Tangis Kanaya semakin keras. Ia mengeratkan pelukannya kepada Flo sembari tersedu-sedu. "Dia bohongin Kanaya, Bunda. Dia selama ini ternyata bohongin Kanaya."
Flo tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi. "Kamu tenangin diri kamu dulu, ya. Bunda nggak suka ngeliat kamu nangis kayak gini."
Kanaya masih tersedu-sedu dan tak melepaskan pelukannya dari tubuh Flo sedikitpun.
Mungkin mulai malam ini, Kanaya sudah harus mulai belajar untuk mengenyahkan Adriel dari ingatannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.