Ada yang bisa menebak endingnya?
Happy reading!✨
---
Bahwa di dalam diam
Di bawah kelam
Aku berbisik pada malam
Aku sedang tidak ingin merindumu
Aku sedang ingin merengkuhmu
Hingga malam berlalu
Adriel tidak tahu sudah beberapa hari yang ia lewati tanpa kehadiran Kanaya di sisinya. Tapi yang jelas, semuanya terasa asing bagi Adriel.
Rasanya asing berada di balkon tanpa celotehan Kanaya yang menemaninya.
Rasanya asing bagaimana Kanaya selalu cepat-cepat mengalihkan wajahnya tiap kali tanpa sengaja mata mereka bertemu.
Rasanya asing bagaimana ada jarak yang begitu kentara di antara dirinya dan Kanaya.
Rasanya asing, sekaligus menyakitkan, mengingat bahwa Kanaya kini bukan lagi miliknya.
Semuanya terasa begitu asing. Seperti Adriel harus kembali menyesuaikan dirinya untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.
Dan sebagai pengingat, Adriel benci beradaptasi.
Adriel hampir tak pernah tersenyum lagi. Senyumnya hanya sebatas senyum tanpa rasa yang diberikannya kepada Iren, hanya untuk memberi tahu bahwa pemuda itu baik-baik saja, namun siapapun yang melihat sorot mata Adriel tahu, Adriel jauh dari kata baik-baik saja.
Rasanya tidak adil. Waktunya untuk memiliki Kanaya terlalu cepat. Takdir memisahkan mereka berdua saat Adriel ingin sekali menjadikan Kanaya yang terakhir di dalam hidupnya. Terdengar picisan, namun Adriel memaknainya.
Mungkin memang benar, bahwa sesuatu yang dimulai dengan tidak baik, akan berakhir dengan tidak baik juga. Awalnya, Adriel hanya ingin menjadikan Kanaya sebagai alat untuk menghancurkan David dan keluarganya, apalagi, selain Kanaya merupakan sahabat David, David juga menyayangi Kanaya lebih dari seorang sahabat. Semuanya terdengar sebagai rencana yang sempurna bagi Adriel; memacari Kanaya hanya untuk membalaskan dendamnya.
Namun itu semua tidak sempat terjadi, karena Adriel justru jatuh hati pada gadis itu. Adriel tidak lagi memikirkan rencana yang sempat melintas di benaknya, karena yang Adriel pikirkan hanyalah menjadikan Kanaya sebagai gadisnya. Hanya itu.
Namun sekali lagi, apa yang dimulai dengan tidak baik, akan berakhir dengan tidak baik juga. Pada akhirnya, semesta membencinya.
Kanaya juga.
Gadis itu lepas dari genggamannya hanya dengan satu kalimat paling busuk yang pernah Adriel loloskan dari bibirnya.
Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi kepada Kanaya. Jika biasanya di kantin, Kanaya akan bercanda tawa dengan David, Dira dan Fion, maka beberapa hari terakhir ini menjadi pengecualian.
Hela nafas berat Kanaya terdengar beberapa kali, membuat Dira dan Fion hanya bertukar pandangan bingung, sedangkan David hanya menatap Kanaya khawatir.
Kanaya merasakan hidupnya hambar akhir-akhir ini. Sangat asing, karena hidup Kanaya yang selalu berwarna-warni. Jika biasanya ia menghabiskan waktunya di balkon kamar sembari mengemut permen, maka itu tidak lagi terjadi. Kanaya memilih menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah.
"Nay," panggil David pelan.
Kanaya menatap David tanpa mengatakan apapun. Wajahnya terlihat lesu. Semangkuk bakso di hadapannya hanya tandas setengah membuat David semakin khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsundere [Completed]
Teen Fiction[BAHASA] Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time. *** Kisah ini berawal dari Kana...
![Tsundere [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/114359214-64-k34770.jpg)