[BAHASA]
Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time.
***
Kisah ini berawal dari Kana...
Senang sekali baca comment-comment kalian di part sebelumnya!🌟
Ah, terima kasih juga untuk 2K votesnya!🤗🤗
YOU GUYS ROCK!
By the way, ada yang ingin double update? Hehehe.
Happy reading!✨
---
Adriel memasuki rumahnya dengan langkah ringan. Langit diluar sudah gelap, hujan juga sudah reda.
Cowok itu mengacak rambutnya yang basah dengan satu tangan, kemudian tersenyum sebelum satu tawa kecil lolos dari bibirnya.
"Adriel--" Iren tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat sekujur tubuh Adriel yang basah karena air hujan. Iren baru saja keluar dari kamarnya, masih lengkap dengan setelan kerjanya, hanya jasnya yang sudah ia tanggalkan, membiarkan kemeja kerjanya di tubuh. "Kamu darimana? Kenapa hujan-hujanan?"
Bukannya menjawab, Adriel malah tersenyum lebar membuat Iren heran bukan kepalang, namun ada rasa senang di hatinya, melihat Adriel yang sepertinya sangat bahagia.
Melihat senyum sumringah Adriel membuat Iren juga ikut tersenyum walau guratan wajahnya menunjukkan rasa heran. "Kamu kenapa, sih?"
"Adriel... Lagi senang," jawab Adriel dengan senyum yang belum juga pudar.
"Mama bisa lihat betapa senangnya kamu," balas Iren. "Sekarang cerita sama Mama, apa yang bisa bikin anak mama yang jarang senyum ini bisa jadi kayak orang jatuh cinta."
"Tepat sasaran."
Iren menatap Adriel takjub sekaligus senang. "Biar Mama tebak. Kanaya?"
Adriel hanya mengedikkan bahunya, memberikan ibunya kecupan ringan di pipi sebelum berlari menuju tangga untuk pergi ke kamarnya.
Iren masih tersenyum. Ia tidak tahu bagaimana lagi mendeskripsikan rasa bahagianya saat ini. Rasanya sudah lama, sudah sangat lama melihat Adriel seperti ini.
Selama ini, senyum yang Adriel berikan hanya sebatas senyum yang selalu Adriel tunjukkan untuk Iren agar wanita itu yakin anaknya baik-baik saja, walau kenyatannya tidak. Tapi senyum yang tadi, itu berasal dari hati.
Dan Iren begitu mensyukuri satu hal, bahwa takdir membawa putra tunggalnya bertemu dengan seorang Kanaya Catania Putri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dira merapikan roknya sembari melangkahkan kakinya keluar dari toilet cewek. Ia memekik kecil saat tubuh tingginya hampir saja menabrak seorang laki-laki yang kebetulan juga melintas di depan toilet.
"David?"
"Eh, elo. Gue baru aja mau minta maaf, tapi saat tau itu lo, sepertinya nggak usah," cecar David, membuat Dira langsung mendaratkan satu pukulan ringan di lengan cowok itu.