[BAHASA]
Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time.
***
Kisah ini berawal dari Kana...
Adriel tidak menyangka akan bertemu Kanaya tadi. Lelaki itu tadi hanya sedang ingin melepas beban dengan caranya sendiri. Mengendarai motor dengan kecepatan tinggi tanpa arah. Menerobos lampu merah, menyalip pengendara lain. Itu yang ia lakukan.
Tapi tidak, Adriel juga tidak merasa itu kebetulan. Seperti teori yang di kemukakan Edward Norton Lorenz pada tahun 1961, bahwa sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Itu artinya bahwa seluruh kejadian dalam kehidupan kita pada dasarnya adalah rangkaian dari kejadian acak atau random.
Kalau tadi Hendra tidak datang, mungkin Adriel masih mendekam di rumahnya, menghabiskan novelnya yang sudah setengah ia baca. Dan Kanaya...
Tok tok!
Adriel seketika menoleh ke kaca balkonnya. Iya, ketukan itu berasal dari sana. Dan tidak ada orang lain lagi yang bisa ada di balkonnya selain Kanaya.
Adriel menggeser pintu balkonnya. Kanaya langsung tersenyum lebar, dan terlihat lucu karena matanya yang masih sedikit bengkak.
Kanaya menyerahkan satu kotak berisi 3 donat dengan rasa yang berbeda; stroberi, coklat dan karamel. "Buat kamu."
"Sekali lagi makasih ya, Adriel. Sesuai dugaan aku, kamu itu baik, nggak kayak yang Dave bilang."
"Dave bilang?"
Kanaya mengangguk. "Dave minta aku jauhin kamu, katanya kamu nggak baik. Tapi dia ngomong kayak gitu karena dia belum tahu kamu, pasti kalau dia udah kenal dia nggak mungkin mikir kayak gitu."
Hati Adriel meringis mendengar ucapan Kanaya. "Menurut lo gue orang baik?"
"Kalau kamu orang jahat, kamu nggak mungkin nolongin aku tadi," balas Kanaya. "Eh, ambil dulu donatnya. Ini sebenernya punya aku dikasih sama Ayah, tapi aku kan keingetan kamu," sambung Kanaya kemudian tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang rapi.
Adriel meraih kotak donat itu. "Lo balik sana."
"Nggak ngucapin makasih kek, atau apa," ucap Kanaya sambil mengerucutkan bibirnya. Kemudian Kanaya sedikit berjinjit agar kepalanya bisa melewati bahu Adriel. Gadis itu melongok ke dalam kamar Adriel membuat lelaki itu berdecak kesal. "Apa?"
Kemudian Kanaya terkekeh. "Ehehe. Seneng deh kamu gantungin dream catcher-nya. Aku udah takut duluan loh kamu buang."
Adriel hanya diam. Suasana hati gadis di hadapannya ini cepat sekali berubah. Tadi ia menangis, lalu tersenyum, lalu memberengut, lalu tersenyum lagi.
"Aku balik ke kamar ya, Adriel. Jangan lupa dimakan donatnya."
Gadis itu sudah akan melompat ke balkon kamarnya, sebelum ia membalikkan tubuhnya lagi untuk menatap Adriel. "Oh iya, cukup dream catcher aja yang digantungin, akunya jangan."
Adriel hanya menatap gadis itu datar. "Iya-iya, bercanda, Adriel." Kanaya mengangkat dua jarinya membentuk huruf 'v'.
"Aku ke kamar ya. Sekali lagi, makasih udah nolongin aku." Kanaya tersenyum. Berbeda dengan senyum sebelumnya, Adriel mampu menangkap rasa tulus dan berterima kasih di senyuman itu.
Kanaya menggeser pintu balkon, masuk ke dalam kamarnya lalu menutup kembali pintu tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.