08. Flow

3.5K 581 4
                                        

Sore ini, Adriel yang sedang berdiri di balkonnya untuk menjernihkan kepalanya dari penatnya belajar mendapati Kanaya yang sedang menggerakan kakinya untuk keluar dari rumahnya dan menyusuri jalan di depan rumah.

Adriel sendiri tidak tahu kemana gadis bertubuh mungil itu akan pergi, namun tak tahu apa yang membawanya untuk keluar dari rumah dan mengekori gadis itu setelah mengunci pintu rumahnya karena Iren yang sedang tidak berada di rumah.

Adriel pikir gadis itu tidak berada dalam rumah karena hari ini seharusnya gadis itu berada di tempat bimbel.

Kanaya berjalan kira-kira 300 meter, sampai ia berhenti di tempat tujuannya. Taman bermain di dalam kompleks. Ia duduk disalah satu ayunan berwarna kuning yang sudah mulai berkarat. Begitu ia mulai menggerakan ayunan, ada bunyi deritan yang begitu kontras dengan kesunyian yang ada.

Adriel berhenti beberapa meter dari Kanaya, memperhatikan gadis yang sore itu menggunakan baju kaos kebesaran berwarna putih dengan motif tulisan, celana jeans pendek dan sendal jepit hitam. Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai diterpa angin dan ia tidak terlihat terganggu sedikitpun.

Ah, Adriel merutuki dirinya sendiri tiba-tiba. Apa yang ia lakukan disini? Seharusnya ia senang jika Kanaya menjauhinya. Ia tidak akan terganggu lagi dengan suara dengan suara nyaring gadis itu. Diluar dari permintaan ibunya, Adriel seharusnya merasa untung dengan hal ini.

Seharusnya.

Adriel berdecak pelan, kemudian memilih berbalik dari sana untuk kembali ke rumah. Namun sepertinya nasib baik tidak sedang berpihak kepada Adriel, karena secara tidak sengaja, kaki lelaki itu menginjak kaleng minuman soda yang sudah kosong membuat bunyi yang cukup membuat Kanaya berjengit dan membalikkan tubuhnya.

Adriel mengumpat di dalam hatinya sebelum berbalik, menatap Kanaya yang sedang menatapnya dengan matanya yang membulat. "Adriel? Kamu ngapain disini?!"

Namun sedetik kemudian ekspresi gadis itu berubah. Ia melipat tangannya dibawah dada, kemudian mengalihkan wajahnya ke samping. "Ngapain? Ngikutin aku? Buat apa? Mau bilang aku genit dan nyusahin lagi?"

Kata-kata yang Kanaya pilih tak terkesan serius, namun rasa bersalah itu kembali menekan Adriel. "Maaf," ucap Adriel. Baru Kanaya ingin membuka mulut, Adriel langsung menyambung, "dan gue memaknainya."

Kanaya reflek menoleh, menatap Adriel dengan keterkejutan di wajahnya. Adriel masih dengan wajah datarnya, walau ada rasa aneh yang menelusup.

Ia tahu ia tidak seharusnya merasa sebersalah ini, karena menghindari Kanaya dan suara berisiknya itu adalah keinginan Adriel, namun apa yang dilakukan Adriel sekarang berbanding terbalik. Cowok itu tidak tahu harus menganggap ini benar atau salah.

"Kamu..." Kanaya tampak kehabisan kata. "Beneran?"

Adriel bergumam membuat Kanaya terdiam walau ada senyum yang akan keluar dan tertangkap mata Adriel. "Nanti kamu bakal bilang aku genit dan nyusahin lagi kalau aku maafin," sindir Kanaya.

Adriel menghela nafas pelan saat mengingat ucapannya itu. "Sorry, gue nggak mikir waktu ngomong itu."

"Ya udah, aku maafin," ucap Kanaya. "Tapi ada syaratnya!"

"Apa?"

"Beliin aku es krim!"

"Beliin aku es krim!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang