07. Wrong

3.5K 627 31
                                        

Double update! Semoga suka <3

---

"Biar gue yang cuci piringnya," kata Kanaya setelah keduanya selesai menikmati nasi goreng yang Adriel buat. Harus Kanaya akui bahwa masakan lelaki itu benar-benar enak, membuat Kanaya semakin merasa gagal menjadi perempuan.

Adriel hanya bergumam yang artinya ia mengiyakan. Kanaya menyusun piring makannya dengan piring makan Adriel, kemudian membawanya ke tempat mencuci piring.

Sementara mencuci piring, ponsel Kanaya yang ada di atas meja makan bergetar. Adriel meliriknya, dan tanpa sadar mengeratkan cengkramannya pada gelas yang ia pegang saat melihat nama David tertera disana.

Adriel kemudian menatap Kanaya yang sepertinya tidak mengetahui ponselnya bergetar karena gadis itu terus bersenandung. Adriel, untuk beberapa alasan, juga tidak berniat untuk memberitahu Kanaya.

Gadis itu baru melihat ponselnya ketika ia selesai dengan tugasnya. "Kok kamu nggak ngasih tau sih kalau ada telfon? Jangan bilang kamu cemburu?"

Adriel menghela nafas. Demi apapun, gadis di depannya ini punya rasa percaya diri yang berlebihan. "Gue nggak liat."

Gadis itu melarikan jemarinya di ponsel, mengirimkan David sebuah pesan, sedangkan Adriel bangun untuk pergi kembali ke ruang tamu.

Kanaya menyusul cowok itu, melihat Adriel yang tengah menutup dan membereskan bukunya, sepertinya tak berniat untuk melanjutkan belajar setelah makan malam.

"Adriel," panggil Kanaya.

"Hm?" Adriel hanya bergumam sebagai jawaban, itupun tanpa menatap manik mata Kanaya.

"Main truth or dare, yuk," ajak Kanaya untuk mengisi kebosanannya.

Adriel menatap gadis itu sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya lagi yang merupakan sebuah bentuk penolakan.

Kanaya duduk bersila di sisi meja ruang tamu. "Plis... Ayo dong. Aku nggak akan ngasih pertanyaan yang aneh-aneh, kok."

Adriel tak menjawab, namun Kanaya juga tidak menyerah. Gadis itu terus mendesak Adriel membuat lelaki itu akhirnya mengalah karena kepalanya yang ingin pecah akibat rengekan Kanaya.

Kanaya meraih pulpen miliknya. "Kita pakai ujung yang ini, ya," ujar Kanaya sambil menunjuk tutup pulpen itu.

Kanaya kemudian memutar pulpen itu, yang kemudian ujungnya mengarah ke Adriel.

"Truth or dare?" tanya Kanaya dengan semangat.

Untuk mengantisipasi Kanaya akan menyuruhnya yang tidak-tidak, karena memang gadis ini memiliki jalan pikiran yang aneh menurutnya, Adriel pun memilih truth.

Kanaya tampak berpikir keras untuk menemukan pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Adriel. Ada senyum yang tiba-tiba muncul di wajahnya, menandakan ia sudah menemukan pertanyaan yang tepat.

"Kamu... Punya mantan?" tanya Kanaya tiba-tiba. Adriel menoleh sembari mengangkat alisnya. Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Kanaya benar-benar tidak ia duga.

"Ada," jawabnya singkat, dan yang pasti, jujur.

"Cantik nggak?" Kanaya mulai bertanya lebih lanjut, entah kenapa ia tak bisa menahan rasa penasarannya.

Adriel bergumam sebagai jawaban 'iya'.

Kanaya terdiam untuk alasan yang tidak jelas. "Orangnya... kayak gimana?" tanya Kanaya pelan.

Setelahnya, ada bagian dari dalam diri Kanaya yang tertohok saat Adriel mengatakan, "yang jelas, dia nggak nyusahin dan ganjen kayak lo."

Melihat sorot mata Kanaya yang berubah, Adriel baru sadar bahwa kalimatnya salah.

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang