[BAHASA]
Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time.
***
Kisah ini berawal dari Kana...
Kanaya meletakkan hair dryer yang sedang ia gunakan ketika ponselnya berdering beberapa kali, menandakan ada pesan yang masuk.
Kanaya memasukkan sandi ponselnya, sebelum membuka aplikasi LINE untuk membaca chat yang baru saja masuk.
Dave sok ganteng Nay Udah tidur?
Gadis itu menghela nafasnya sekali memikirkan hubungan persabatan mereka yang bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan pertama kali ia berkelahi dengan sahabatnya itu. Namun kali ini, penyebabnya tidak 'seringan' penyebab sebelum-sebelumnya.
Kanaya seringkali berkelahi dengan David karena hal sepele. Seperti David yang mengambil permennya lalu memakannya diam-diam, atau telat menjemputnya sehingga mereka harus dihukum bersama-sama, atau David yang lupa mengembalikan catatannya.
Kanaya memilih mengetikkan balasannya di room chat-nya dengan David.
Kanaya P. Belum
Tak butuh waktu lama untuk David membaca pesan itu. Saat pesan itu terkirim, detik selanjutnya tanda terkirim langsung berubah menjadi tanda sudah dibaca, membuktikan bahwa David tidak keluar dari room chat dan menunggu balasan Kanaya.
Dave sok ganteng Oke
Kanaya mengerutkan alisnya bingung, sebelum layar ponselnya berubah menampilkan ada panggilan masuk dari David.
Gadis itu memilih menggeser tombol hijau di layarnya, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga. "Halo."
"Kanaya."
Suara David terdengar tenang, tidak seperti biasanya lelaki itu terdengar. David itu cowok yang petakilan, penuh dengan lelucon-lelucon tidak jelas, dan juga tingkat kepedean yang tinggi yang selalu sukses membuat Kanaya mendengus.
"Maaf soal yang tadi gue berantem sama Adriel," sambung David. "Gue tau lo marah sama gue--"
"Kenapa gue harus marah sama lo?" potong Kanaya. Iya, dia memang bingung mengapa David tiba-tiba saja menarik kerah seragam Adriel dan ingin menghajar lelaki jangkung itu, namun tetap saja tidak ada alasan untuk marah kepada David.
"Karena lo suka sama Adriel," balas David. Ada helaan nafas yang samar di ujung sana, namun Kanaya masih mampu mendengarnya. "Gue tau lo nggak mau Adriel kenapa-kenapa."
"Ck, dan lo itu sahabat gue, David," tukas Kanaya. "Gue tentunya juga nggak mau lo kenapa-kenapa. Kan sayang..." Kanaya menggantungkan kalimatnya.
"Kan sayang apa? Sayang lo sama gue?"
"Sayang, udah enggak putih, bonyok-bonyok lagi," sambung Kanaya membuat David mendengus di ujung sana.
"Nggak usah menghina. Tidur sana lo," kata David dengan nada kesal.
Kanaya tertawa pelan, bukan hanya karana ia merasa lucu dengan nada kesal David, namun juga karena ia dan David yang kembali baik-baik saja.
Setelah berbicara sedikit untuk beberapa saat, akhirnya Kanaya memutuskan panggilan.
Di ujung sana, David menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan nanar. Ia tersenyum muram. "Bahkan lo nggak membantah saat gue bilang lo suka sama Adriel, Nay."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.