01. Tetangga Baru

13.2K 1K 152
                                        

Kanaya sedang berdiri di balkon kamarnya sambil memperhatikan mobil mini bus yang sedang terparkir di pekarangan milik rumah yang berada di samping rumahnya.

Gadis itu memiringkan kepalanya, mengeluarkan lolipop yang ada di mulutnya tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun dari orang-orang yang sedang sibuk berlalu lalang sambil mengeluarkan dus-dus dari mobil itu.

Rumah disebelah memang kosong beberapa bulan lalu. Sebelumnya, rumah itu ditinggali oleh sepasang suami istri yang belum mempunyai anak. Yang Kanaya dengar, sang suami harus pindah karena pekerjaan, dan sang istri memilih untuk ikut.

Kanaya hendak berbalik menuju dalam kamarnya begitu ia melihat seorang laki-laki yang datang dengan sebuah motor sport hitam. Saat cowok itu membuka helmnya, Kanaya hampir lupa cara bernafas. Tampan, satu kata yang begitu akurat untuk menggambarkannya.

Cowok itu turun dari motornya, mengobrol sebentar dengan seorang wanita yang sepertinya ibunya. Jantung Kanaya berdebar begitu kencang saat cowok itu mendongak ke atas, tapi tak lama. Walau begitu, Kanaya begitu yakin cowok itu sempat melihatnya.

Dengan semangat, Kanaya turun ke bawah. Tak menghiraukan panggilan Bunda yang bertanya ia hendak kemana.

Kanaya sampai diluar bertepatan dengan mobil mini bus itu berlalu dari pekarangan rumah tetangga barunya. Tanpa ragu, Kanaya mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu depan yang terbuat dari jati tersebut.

Tak lama kemudian, cowok yang tadi dilihat Kanaya keluar membukakan pintu, membuat senyum Kanaya melebar. "Hai!" Sapa Kanaya ceria, tapi cowok itu hanya mengernyit. Tak menunjukkan kesan tertarik sama sekali.

"Ada apa?" Tanyanya singkat. Kanaya mengulurkan tangannya. "Selamat datang ya, disini! Semoga betah!"

"Lo anak ketua RT? Atau malah ketua RT-nya?" Tanya anak lelaki itu sarkastik. Tapi, Kanaya menggeleng, tak mendapat maksud sebenarnya cowok itu.

"Aku bukan anak ketua RT, apalagi ketua RT," Kanaya mengambil jeda sebentar, kemudian menunjuk rumahnya. "Aku tetangga baru kamu, itu rumah aku. Oh iya, karena rumah kita satu tipe, berarti ada dua kamar utama di bawah dan sa--"

"To the point," ketus cowok itu. Kanaya berdecak gemas, "makanya tunggu dulu, aku belum selesai ngomong. Ada satu kamar tidur di atas. Kamar kamu yang mana?"

"Lo punya pertanyaan yang lebih penting?" Cowok itu sudah mulai terdengar tidak sabar.

Baru Kanaya akan membuka mulut untuk membalas, seorang wanita keluar dari dalam rumah. "Adriel, nggak boleh begitu sama tetangga baru kita."

"Halo, nak. Kamu anaknya pak Dimas ya?" Tanya Wanita itu yang dibalas oleh anggukan Kanaya. "Iya, tante. Saya Kanaya. Panggil aja Naya."

"Saya Iren, kalau ini anak saya, Adriel. Maaf ya, dia emang begitu anaknya. Jangan tersinggung ya nak Naya," jelas Iren disertai senyum ramah.

Ibunya ramah gini. Anaknya? Titisan es batu. Atau malahan cabe? Udah dingin, pedes lagi.

"Iya, nggak pa-pa kok, tante. Saya udah biasa diginiin," ucap Kanaya dengan ekspresi yang didramatisir membuat Iren tertawa pelan melihat anak ekspresif di depannya ini.

"Semoga tante betah ya disini," ucap Kanaya bersemangat, lalu menatap Adriel, "Adriel juga."

Adriel menatap Kanaya datar, lalu berbalik masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata. Kanaya sama sekali tidak tersinggung dan tetap tersenyum ceria.

"Aduh, maklumin Adriel ya, Kanaya," kata Iren merasa bersalah.

Kanaya terkekeh. "Aduh tante, aku udah bilang nggak pa-pa kok." Kemudian Kanya teringat sesuatu, "aku balik dulu ya, tante. Ada bimbingan belajar soalnya."

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang