39. Kepercayaan

2.6K 414 19
                                        

Halo🌟

Siapkan hati kalian😂

Happy Reading!✨

---

Kanaya dan David duduk berhadapan dengan dibatasi sebuah meja di sebuah kedai es krim terkenal di Jakarta. Kanaya sudah menghabiskan 3 cup es krim, dan sekarang  tengah menghabiskan yang ke-4, sementara David belum menyentuh cup es krimnya sama sekali.

Pada akhirnya, Adriel mengalah dan membiarkan Kanaya pergi bersama David. Walau begitu, Adriel hanya memberikan waktu satu setengah jam untuk Kanaya pergi bersama David. Satu setengah jam atau nggak sama sekali, katanya.

"Lo nggak makan es krim punya lo?" Tanya Kanaya saat menyadari bahwa es krim cokelat milik David sama sekali tidak tersentuh dan bahkan sudah mencair di dalam cupnya.

"Mendadak jadi nggak pengen," jawab David sekenanya. "Lo masih mau nambah?"

Kanaya masih menggeleng sembari sibuk menikmati es krimnya. "Nggak deh, ini yang terakhir."

"Kalau gitu cepetan, tet. Makan es krim aja lama banget."

Kanaya mendengus kesal seraya mendelik ke arah David. "Sabar kali, sek. Dan gue nggak bantet ya, cuma kalau dibandingin sama lo atau Adriel agak jauh ketinggal aja."

"Sama aja, tet."

"Ih, Dave! Gue nggak ban--"

"Eh, nggak boleh ngomel. Kalau lo ngomel nggak gue anter pulang."

Kanaya mengerucutkan bibirnya. "Dasar. Mainnya ancem-anceman. Nggak seru!"

David tertawa melihat reaksi Kanaya yang menggemaskan. Dari semua tawa yang pernah Kanaya dengar, harus gadis itu akui bahwa David mempunyai tawa yang paling renyah. Ia senang mendengar sahabatnya itu tertawa.

Selang beberapa saat, David teringat hal yang ingin ia bahas yang menjadi tujuannya mengajak Kanaya memakan es krim di kedai ini. "By the way, lo sama Adriel... Gimana?"

Kanaya menandaskan sisa es krim yang tersisa di cupnya sebelum menjawab pertanyaan yang di berikan David kepadanya. "Nggak gimana-gimana. Kenapa emangnya?" Kanaya balik bertanya.

"Kanaya," panggil David walau ia tahu Kanaya sudah menatapnya sedari tadi. "Apa lo yakin kalau Adriel itu tepat untuk lo?"

Kanaya cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan David. Ia sama sekali tidak menduga pertanyaan semacam itu akan keluar dari bibir David. "Kok... Lo tiba-tiba nanya kayak gitu?"

David terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjawab, "karena gue merasa Adriel bukan orang yang tepat untuk lo."

Setelahnya, ada hening di antara David dan Kanaya. Mungkin setelah ini Kanaya akan marah kepada dirinya, namun itu bukan hal yang terpenting untuk sekarang. Untuk sekarang, melepaskan Kanaya dari Adriel adalah hal yang penting bagi David.

"Dave--"

"Dia nggak tulus sama lo, Nay. Gue tahu itu. Dia nggak pernah benar-benar mencintai lo."

"Lo tau darimana?"

"Karena gue juga cowok.  Gue tahu laki-laki yang mencintai dengan tulus, dan mana yang enggak. Dan Adriel jelas nggak masuk opsi yang pertama."

Kanaya membeku mendengar penuturan David. Ada sebagian dari diri Kanaya yang tak terima dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun Kanaya tahu David. Pemuda itu tidak mungkin asal bicara jika ia tidak benar-benar mengetahui sesuatu.

Adriel tidak mencintainya?

David tidak bisa lebih lama lagi membiarkan Kanaya bersama Adriel. Bagi David, Adriel tidak lebih dari seorang bajingan yang hanya memperalat Kanaya agar ia bisa mendapatkan yang ia mau. Dan Kanaya terlalu polos dan lugu untuk menyadari itu semua.

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang