06. Belajar Bersama

3.9K 605 4
                                        

Adriel menuruni tangga menuju ruang makan seraya mengancing seragam SMAnya. Ransel hitamnya sudah tersampir di bahu kanannya.

"Pagi, mah," sapa Adriel pada Iren yang sedang menyiapkan makanan, sembari cowok itu duduk di kursi yang mengelilingi meja makan.

Iren yang sudah tampak anggun dengan jas kerjanya langsung berkata saat melihat Adriel, "Eh, kamu jangan duduk dulu. Panggilin Kanaya dulu sana."

Adriel menatap ibunya dengan wajah datarnya, walau rasa heran dan kaget bercampur di dalam kepalanya. "Semalem ibunya nelfon mama, katanya tolong perhatiin Kanaya. Jadi mulai beberapa hari ke depan, Kanaya akan sarapan dan makan malam bareng kita."

Ada penolakan di sorot mata Adriel, namun tak mungkin cowok itu utarakan. Ia tidak mungkin berkata tidak pada Ibunya.

Adriel menghela nafas, meletakkan ranselnya di kursi lalu melenggang keluar menuju ke rumah Kanaya.

Di rumah Kanaya sendiri, gadis itu sedang mencebikkan bibirnya ketika tidak menemukan makanan yang bisa langsung dimakan di dalam kulkas atau kitchen set. Semuanya bahan mentah. Kanaya sendiri sangat tidak pandai dalam hal memasak. Dan jika ia harus pergi ke restoran di depan kompleks, pasti akan memakan waktu banyak.

Kanaya langsung menutup kulkas begitu ada yang mengetuk pintu. Ia menatap jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih pukul 06.15, dan Dave biasanya akan datang pada pukul 06.40.

Gadis itu terbelakak saat membuka pintu dan mendapati Adriel tengah berdiri di depan pintu rumahnya.

"Adriel? Ada ap--"

"Sarapan."

Kanaya mengernyit seketika saat satu kata itu terlontar dari mulut Adriel. "Hah? Sarapan?"

"Maksud kamu gimana sih? Ak--"

"Sarapan di rumah gue. Nyokap gue yang minta." Sebelum telinga Adriel panas, ia memilih untuk langsung memotong kalimat gadis itu.

Kanaya mengerti sekarang. "Oh, ngomong dong dari tadi. Makanya jangan irit-irit banget ngomongnya."

Seperti biasanya, Adriel memilih tak merespon. Dan entah kenapa, daripada pergi ke rumahnya terlebih dahulu, Adriel malah menunggu Kanaya yang sedang mengunci pintu rumahnya.

Setelahnya, Adriel berjalan mendahului Kanaya untuk kembali ke rumahnya. Mereka langsung menuju ke ruang makan dan disana, Iren sudah menunggu mereka.

"Pagi, tante," sapa Kanaya dengan senyum menghiasi wajahnya. Iren tampak senang saat melihat Kanaya. "Pagi, Kanaya. Ayo sini makan bareng tante sama Adriel."

Kanaya tersenyum, kemudian mengambil tempat disamping kiri Iren, sedangkan Adriel duduk disebelah kanan Iren, membuat posisi Adriel dan Kanaya sekarang berhadapan.

"Mama kamu semalem telfonin tante, dia minta tolong untuk jagain kamu. Jadi untuk beberapa hari ke depan, kamu sarapan sama makan malamnya bareng tante dan Adriel," ucap Iren sembari menyendokkan nasi ke piring Kanaya.

"Eh, nggak pa-pa kok, tante. Takutnya ngerepotin. Aku bisa beli makanan kok diluar," ucap Kanaya.

"Nggak ngerepotin. Malah tante seneng karna sekarang kalau makan nggak berdua aja sama Adriel. Jangan ngerasa sungkan, kamu main aja disini sepulang sekolah. Apalagi kalian 'kan lagi ujian, jadi kamu belajar bareng aja sama Adriel," cecar Iren. Kalimat terakhir Iren membuat Adriel langsung menatap ibunya, seakan ingin membantah, walau tak dihiraukan Iren.

Kanaya mengangguk sopan. Ketiganya menikmati sarapan masing-masing. Sesekali Iren bercerita dengan Kanaya sedangkan Adriel hanya diam. Toh kalaupun diajak bicara, Adriel hanya akan merespon singkat atau bergumam.

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang