03. Permasalahan [2]

5K 830 35
                                        

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. Sekolah sudah mulai kosong, namun Adriel dan Kanaya masih harus menjalankan hukuman mereka yang diberi bu Reren. Sedangkan Aldo tidak terlihat sejak pergi di koridor tadi.

Adriel memegang kemoceng di sisi sebelah kiri lab, sedangkan Kanaya sedang menyapu bagian kanan lab.

"Adriel," panggil Kanaya yang tak digubris. Gadis itu memanyunkan bibirnya. "Jangan dikacangin dong!"

"Adriel, kamu marah ya?" Tanya Kanaya yang lagi-lagi diacuhkan Adriel.

Kanaya langsung menghampiri Adriel yang sedang membersihkan debu-debu yang menempel di torso. "Adriel, kamu marah ya?"

Adriel membuang nafas berat. Ia pikir, setelah perkataan pedasnya di koridor tadi, Kanaya akan berhenti menganggu hidupnya. Namun gadis itu... Ah, Adriel bingung bercampul kesal menghadapinya.

Kanaya sekarang sudah menepuk-nepuk bahu Adriel yang membelakanginya. "Adriel, ngomong dong. Satu kata aja..."

Gadis dengan bandana berwarna biru itu masih terus memanggil Adriel membuat cowok itu menahan nafasnya kesal.

"Ad--" Perkataan Kanaya terhenti begitu saja ketika Adriel dengan sigap menarik pergelangan tangan gadis itu dan menarik gadis itu bersandar di meja keramik.

Kanaya mencengkram pinggir meja dengan begitu kencang saat Adriel berdiri di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Kanaya dengan sigap menjauhkan wajahnya ketika Adriel ikut memegang sisi meja, membuat tubuh cowok itu sedikit condong ke arahnya.

"Lo.." Adriel mendesis kesal. Cowok itu menghalihkan pandangannya ke arah lain, membuat Kanaya bisa melihat rahangnya yang mengeras. "Lo bisa diem nggak sih?" bisik Adriel tepat di depan wajah Kanaya.

Kanaya mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mengangguk cepat. Namun Adriel tak kunjung beranjak dari posisinya. Cowok itu menatap Kanaya lama membuat Kanaya yakin bahwa wajahnya sudah memerah sekarang.

Tak lama, terdengar bunyi langkah mendekati lab. Adriel menatap pintu itu, lalu kembali menatap Kanaya sebentar sebelum beranjak dan membersihkan alat-alat lab lainnya.

"Nay," panggil David yang sekarang sudah berada di depan pintu lab. Kanaya masih membeku di posisinya.

"Kanaya," panggil David lagi, membuat Kanaya langsung tersadar. "H-hah?" jawab Kanaya sedikit linglung.

"Hukuman lo udah selesai, 'kan? Cabut yuk," ajak David. Kanaya mengangguk patah-patah, kemudian segera meraih tasnya dan berjalan keluar tanpa menegur Adriel. Ah, cowok itu juga tak peduli.

David menatap punggung Adriel sebentar. Pasalnya, cowok itu terlihat familiar. "Dave, ayok," ujar Kanaya sambil menarik lengan David membuat David mau tak mau ikut melangkah.

Adriel membalikkan tubuhnya, menatap David dan Kanaya yang sedang berjalan melalui jendela lab. Tubuh Adriel menengang seketika, bersamaan dengan emosinya yang memuncak.

"Brengsek," maki Adriel. Cowok itu memukul meja keramik dengan kepalan tangannya.

Ia tidak salah orang.

Ia tidak salah orang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang