Halo!🌟
Semoga nggak bosen ya dengan cerita ini💗
Oh iya, maaf ya kalau akhir-akhir ini jarang balesin comment. Aku takutnya malah spoiler atau gimana, soalnya ini udah mulai bagian-bagian 'puncak'nya🤗
As always,
Happy reading!✨
---
Adriel sudah menghabiskan 1 jam hanya untuk berdiam diri di bangku panjang taman kompleks rumahnya. Jarum jam sudah merambat ke angka 8, dan ia belum berniat untuk kembali ke rumahnya.
Rasanya sepanjang hari ini adalah hari terberat yang pernah Adriel jalani. Mungkin jika ia tidak mengacaukan semuanya, sekarang ia sedang berada di balkon dan mendengar celotehan Kanaya yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya, atau sekedar mengajak Kanaya jalan-jalan. Mungkin sekarang ia bisa mendengar tawa gadis itu, merasakan jemari Kanaya yang terasa pas berada di sela jarinya, atau bahkan membawa gadis itu ke dalam sebuah pelukan erat. Mungkin jika ia tidak mengacau, sekarang ia sedang menyelipkan tangannya di helaian rambut Kanaya, atau hanya sekedar menatap gadis itu tersenyum.
Namun semuanya hanya berhenti di kata mungkin karena kebodohannya sendiri.
Mungkin David benar, bahwa perempuan seperti Kanaya, tidak pantas ia miliki. Namun Adriel cukup egois untuk memikirkan itu semua.
Adriel mengangkat wajahnya saat mendengar bunyi langkah kaki yang mendekat. Adriel harap ia tidak salah lihat saat mendapati Kanaya yang tengah berjalan ke arahnya. Ada setitik harapan di dalam diri Adriel, bahwa Kanaya sudah memaafkannya. Bahwa Kanaya sudah menjadi Kanaya yang seperti biasa. Namun saat ia menangkap ekspresi nanar gadis itu, Adriel tahu yang ia harapkan tidak mungkin terjadi.
"Tadi aku liat kamu lagi jalan kesini," ucap Kanaya.
Adriel masih membeku menatap Kanaya yang tengah tersenyum. Adriel tahu dengan jelas, itu bukan senyum ceria yang selalu menghiasi wajah Kanaya. Bukan senyum yang selalu terukir di bibir Kanaya setiap kali mereka sedang menghabiskan waktu bersama.
Adriel tahu persis, Kanaya sedang tidak baik-baik saja, sama seperti dirinya.
Adriel berdiri dan berjalan mendekati Kanaya. "Kanaya, maaf." Hanya itu yang Adriel mampu ucapkan. Ada begitu banyak kata yang ingin ia loloskan dari bibirnya, namun semuanya hanya tertahan di ujung lidah tanpa mampu ia ucapkan.
Kanaya menarik nafas panjang-panjang, seakan mengumpulkan kekuatan sebanyak yang ia bisa. "Adriel," panggil Kanaya dengan suara bergetar. Adriel menatap Kanaya tanpa mengalihkan pandangannya barang sekalipun. "Kamu inget waktu pertama kali kita ketemu? Kamu mikirnya aku anak ketua RT." Kanaya mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil. Tawa yang jelas tak berasal dari hati.
Gadis itu menunduk sejenak dan sekilas, Adriel menangkap matanya yang berkaca-kaca. Diam-diam, Adriel ingin menarik gadis itu ke dalam rengkuhannya, membisikkan semua kata yang ia mampu ucapkan, dan menyelipkan jemarinya di surai hitam gadis itu. "Kamu jutek banget sama aku, tapi aku tetep aja gigih pengen jadi temen kamu. Karena aku tau, kamu itu orang baik, nggak kayak yang orang-orang kira."
Adriel meraih jemari Kanaya dan menggengamnya erat, dan Kanaya tak menolak. "Kanaya--"
"Dan akhirnya, setelah sekian lama aku berusaha deket sama kamu, kamu nyatain perasaan ke aku," kata Kanaya. "Kamu nggak tahu senengnya aku waktu itu."
Adriel merasakan tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Ia tidak mengerti alasan Kanaya yang tiba-tiba mengtakan hal hal seperti ini. Namun yang jelas, ada sesuatu yang seakan menanti Adriel di ujung sana. Sesuatu yang sampai kapanpun tidak akan ia relakan untuk terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tsundere [Completed]
Novela Juvenil[BAHASA] Tsundere (ツンデレ) is a Japanese term for a character development process that describes a person who is initially cold (and sometimes even hostile) before gradually showing a warmer, friendlier side over time. *** Kisah ini berawal dari Kana...
![Tsundere [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/114359214-64-k34770.jpg)