Bab 1

21.1K 1.2K 7
                                        

"Arsen! Arsen! Buka pintu!"  Teriak mamanya dengan keras sambil menggedor pintu kamar itu berulang kali.

Namun, Arsen yang masih terlelap tidur nampak sama sekali tidak mendengar teriakan itu. Hingga Novita lelah. Memutuskan untuk mengambil kunci kamar cadangan dari dalam lemari penyimpanan yang ada di dekat dapur.

Seusai pintu kamar itu berhasil dibuka, mamanya pun segera melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan yang nampak sangat berantakan itu. Ruangan tersebut lebih tepat disebut gudang daripada kamar tidur.

Kamar yang cukup luas itu terlihat sangat berantakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamar yang cukup luas itu terlihat sangat berantakan. Baju-baju kotor berserakan di lantai, di atas tempat tidur, dan bahkan di atas meja belajar. Selain itu, di lantai terdapat banyak sisa bungkus makanan dan botol minuman soda.

Barang-barang juga sudah terletak tidak pada tempat yang seharusnya lagi. Laptop ada di atas lantai dekat tempat tidur. Sementara, gitar listrik yang seharusnya ditaruh di sudut ruangan berada di lantai dekat meja belajar dengan kabel yang terurai ke mana-mana.

"Ya ampun! Memalukan! Ini kamar atau gudang?!" Ucap mamanya lebih kepada dirinya sendiri karena Arsen belum juga membuka mata dan tidak mungkin dia mendengar perkataan mamanya itu.

"ARSEN! Ayo cepat bangun! Jangan tidur terus!" Seru mamanya sambil membuka selimut yang sedari tadi masih menutupi tubuh Arsen.

Setelah itu, mamanya pun lantas membuka jendela kamar Arsen agar matahari bisa menerobos masuk dan Arsen dapat segera terbangun akibat terkena silau dari matahari tersebut.

"Huaaah!" Begitu terbangun, Arsen langsung menguap dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Dia berusaha meregangkan tubuh untuk beberapa saat setelah dia terbangun akibat kegaduhan yang dibuat oleh mamanya.

"Mama ngapain sih di sini?" Tanya Arsen yang nampak sangat kesal karena dibangunkan secara paksa.

"Ngapain?! Emangnya kamu pikir sekarang ini jam berapa?! Kamu lupa ya kalau kamu itu masih belum lulus dan masih harus sekolah?!" Sindir mamanya dengan berkacak pinggang.

"Sekarang, cepat mandi dan langsung berangkat ke sekolah!" Seru mamanya tegas.

"Gue gak mau. Gue capek. Hari ini gue gak mau sekolah!" Sahut Arsen dengan nada cuek bebek.

"Hah?! Apa kamu bilang?! Capek?!", desis mamanya.

"Kamu itu capek ngapain? Setiap malam kerjaan kamu cuma keluyuran gak jelas. Mama yang capek ngurusin tingkah laku kamu kalau kamu kayak gini terus!" Kata mamanya dengan nada bicara yang lebih keras dari sebelumnya.

"Ngurusin? Emangnya kapan Mama pernah ngurusin Arsen?! Bukannya dari pagi sampai malam Mama selalu sibuk di kantor. Dan Mama gak pernah ngurusin aku sama sekali!" Sahut Arsen yang mencoba menyuarakan isi hatinya.

"Mama itu kerja cari uang. Kamu jangan bicara seperti itu Arsen. Kamu itu harus introspeksi diri kamu sendiri! Kamu cuma bisanya jadi anak yang bikin malu orang tua. Gak pernah mikirin masa depan. Dan selalu bersikap seenaknya. Yang kamu bisa cuma hura-hura dan menghabiskan uang mama aja. Benar-benar memalukan!" Ucap mamanya dengan tegas.

Nampaknya mamanya sangat kesal dengan perkataan Arsen barusan. Sehingga dia pun membalas perkataan anaknya itu dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi.

Dan kata-kata pedas itu ternyata mampu mengunci mulut Arsen rapat-rapat. Kini Arsen tidak bisa membuka mulutnya untuk membalas perkataan mamanya itu. Mereka berdua akhirnya terdiam. Suasana pun menjadi hening untuk beberapa detik.

"Memalukan?" Desis Arsen. "Ya, Mama emang benar. Aku ini emang anak yang cuma bisa bikin malu Mama aja! Terus, apa yang Mama mau lakuin sekarang? Mau ngerubah aku jadi anak baik? Gitu?!" Arsen menghela napas sejenak, setelah itu dia meneruskan ucapannya.

"Mama harusnya tahu kalau aku jadi seperti ini karena Mama. Jadi, aku akan tetap jadi anak yang memalukan karena memang Mama yang udah bikin aku jadi seperti ini." Ucap Arsen sambil tersenyum sinis.

Novita pun tiba-tiba melemparkan selembar kertas yang sedari tadi dienggam di tangan kanannya ke depan muka Arsen. Sekarang ini dia tidak menghiraukan senyuman mengejek itu dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Itu surat peringatan dari sekolah. Guru kamu bilang kalau kamu sudah terlalu sering tidak masuk sekolah. Jadi, kalau gak mau dikeluarkan dari sekolah, maka suka atau gak suka, hari ini kamu harus pergi ke sekolah. Tapi kalau kamu gak pergi juga, maka terpaksa Mama akan hentikan semua aliran uang Mama dan Mama akan blokir semua credit card kamu." Ucap mamanya lagi sambil kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Arsen dengan langkah yang gontai.

*****

Jangan lupa vote, follow, sama komentar yaa

-XOXO

[END] Blind RainbowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang