Chapter 4 : Signal and Response

28.6K 4.8K 527
                                        

Suasana rumah yang berisik karena eksistensi dua orang anak kecil, kondisi ramai di luar rumah yang juga lagi-lagi karena para anak-anak kecil tengah bermain membuat Jungkook menyita sedikit waktunya untuk membiasakan diri sejenak akan keributan-keributan menyenangkan itu.

Dari kamarnya ia dapat mendengar suara berisik Ai yang tengah asyik memainkan game pada ponsel dengan volume kelewat batas. Dan di luar sana―tepat di tengah jalanan komplek rumah yang terlihat sepi dari kendaraan, anak-anak tengah bermain dengan riangnya. Hanya berlarian, bersembunyi di balik pohon gingko pun maple, bersepeda atau bermain sepatu roda. Sepertinya akhir pekan yang berisik sudah menjadi rutinitas di daerah yang baru ia huni itu.

Cukup lama Jungkook berdiri di pinggir balkon sembari mengamati anak-anak kecil yang bermain di bawah sana, tersenyum kecil dan berharap putra serta putrinya mau bergabung; bermain dengan teman baru, namun sayangnya yang nampak secara gamblang adalah ketidakmauan dua bocah itu untuk keluar dari kandang. Yui bahkan beralasan ingin menyelesaikan pekerjaan rumahnya saat Jungkook membujuk agar mereka mau bermain di luar barang mengenal beberapa orang teman sebaya.

Setelah ia sadari―Yui dan Ai masih terhubung pada kebiasaan sebelumnya dimana mereka memang tidak begitu pandai bersosialisasi. Bahkan di sekolah saja, keduanya dikenal sebagai murid yang pendiam, sangat berbeda ketika di rumah dan melihatnya begitu aktif―berlarian ke sana-kemari, menjerit dan mengotori lantai rumah dengan remah camilan, mencoret dinding kamar dengan cat warna, seperti kebanyakan anak-anak normal lainnya.

Jeon Jungkook paham kedua bocah itu sebenarnya membutuhkan seseorang yang dapat menaruh perhatian lebih, tapi hingga kini, ia masih belum bisa mewujudkannya. Ia ingin―tapi tiap kali netranya telah menangkap gambar mendiang sang istri yang terpampang jelas di kamar, lagi-lagi pria itu hanya dapat mendesah gusar. Sebab tanpa gambar besar itu pun, hati dan pikirannya masih sama seperti dahulu―masih tertuju pada Jung Hellen, wanita pertama yang ia terima untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun apa daya, Tuhan telah menakdirkan kisah keduanya yang harus kandas karena perpotongan usia salah satu pihak.

Pria itu tidak menyalahkan Tuhan, tidak pula bermaksud menyalahkan takdir, hanya saja merasa waktunya tak begitu pas. Hellen harus menutup mata untuk selamanya setelah melahirkan putra mereka sewaktu itu. Bahkan Jungkook sempat menganggap kehadiran buntalan lucu itu sebagai malapetaka, namun sekali lagi―bukan salah Tuhan pun takdir sebab umur memang telah digariskan sebelum seseorang terlahir ke dunia.

Menyadari telah melamun tanpa tahu waktu, pria itu pun menggeleng pelan sambil memejam sejenak untuk menarik kesadarannya.

Ia masih punya banyak tugas hari ini sebab barang-barang lainnya harus segera ditata dan bagian terburuknya, setelah banyak melamun―rasa malas pun mulai menyerangnya untuk lekas berselonjor di sofa dan bermanja dengan benda persegi pintar miliknya barang melihat-lihat hasil foto bangunan yang menjadi proyeknya dalam sebulan terakhir.

Saat tubuh jangkungnya nyaris berputar untuk melangkahkan tungkai kaki, tiba-tiba saja keseluruhan saraf pada tubuhnya seakan berhenti bekerja tatkala menemukan presensi seorang gadis muda yang baru saja keluar dari pekarangan rumahnya untuk membersihkan halaman luar dengan sebuah alat garpu sampah.

Awalnya Jungkook hanya berniat menuangkan atensinya barang beberapa detik, tapi kemudian tumitnya terasa sangat sulit digerakkan. Manik jelaganya terpaku hanya pada satu titik yang kini tengah menyibukkan diri, mengumpulkan satu persatu daun maple pada tempat yang sama dan sesekali tersenyum guna menyahuti sapaan bocah-bocah yang tengah bermain riang di sana, bahkan beberapa di antaranya nampak menghentikan aktivitas bermain hanya untuk membantu gadis itu.

Bukan tak mungkin bagi seorang Jeon Jungkook untuk memerhatikan seorang gadis terlebih lagi jika sang objek sudah sempat menyita atensinya hingga dua kali.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang