Sebenarnya ini tidak sesulit pun separah itu. Jungkook hanya terlalu melebih-lebihkan soal insiden memalukan sekaligus menyakitkan bagi Jihwan. Ya, Jungkook tidak begitu peduli pada rasa malu yang Jihwan rasakan sejak tadi―kaki Jihwan yang mengalami cedera berhasil menyita atensinya.
Bahkan usai mengantar anak-anak, Jungkook kembali dengan kecepatan super hanya untuk membawa seorang dokter―yang malah membuat Jihwan menggigit bibir sambil memegangi keningnya, malu. Bagaimana mungkin pria itu memperlakukannya seperti putri kecil dalam istana yang jika tertusuk duri bunga mawar saja harus langsung mendapatkan pengobatan.
Tapi ya―apa boleh buat. Dengan senang hati Jihwan membiarkan sang dokter mengecek kondisinya. Terima kasih kepada Pak Dokter, telah bermurah hati sekali meluangkan waktu pentingnya hanya untuk melihat luka Jihwan yang tak seberapa. Dan terima kasih pada Jeon Jungkook yang terlalu heboh menyikapinya. Jihwan bisa saja tertawa geli jika tidak mengingat usaha Jungkook yang terkesan mati-matian, masih menatap cemas dengan wajah penuh peluh; membuatnya ingin menyeka menggunakan punggung jari.
Duda yang satu ini punya karisma yang―astaga, tidak bisa didefinisikan. Manis, mesum, menggemaskan yang bersamaan. Tidak perlu diragukan lagi jika sampai ada anak perawan tetangga sebelah yang pagi ini mengantarkan sarapan hanya untuknya. Meski dengan sedikit berbohong. Katanya khusus untuk Yui dan Ai, padahal Jihwan jelas tahu―itu untuk si ayah. Untungnya Jungkook tidak berniat menggoda anak perawan tetangga yang satu itu―kecuali dia berniat mengakhiri relasinya dengan Jihwan yang sudah susah payah dibangun sedikit demi sedikit. Itu artinya sama saja dengan cari mati.
Jihwan tersenyum begitu dokter selesai memeriksa kondisinya dan mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Terlebih Jihwan juga tidak mengeluhkan soal nyeri di bagian pinggang atau tulang ekor. Jihwan tidak merasakan nyeri di bagian sana―hanya sempat dan sebentar; bukan di bagian tulang ekor yang amat penting. Yang dia ingat, saat mengalami kecelakaan kecil itu―Jihwan masih sempat menahan diri dengan kedua telapak tangannya lebih dulu mendarat di atas lantai kayu. Dengan demikian ia bisa menopang tubuh, nahasnya―ia malah membuat kakinya mengalami cedera ringan.
Dari jarak dekat, Jungkook masih memperhatikan sambil menopang dagu dengan satu tangan. Tampak hot jika serius―seperti bos muda kaya raya yang sedang menahan gairah saat melihat sekretarisnya lewat dengan rok span merah ketat.
Oh ya Tuhan! Jihwan rasa pipinya sudah memanas lagi saat tertemu pandang dengan Jungkook yang menatap tajam ke biji matanya. Bagaimana tidak? Tiba-tiba dia ingat lagi. Saat Jungkook bertelanjang dada, dengan delapan pack yang tampak semenggiurkan roti sobek. Juga tubuhnya tampak berkilat saat peluh terpapar cahaya lampu. Belum lagi fokus tajamnya yang begitu panas saat sedang berolahraga―rasa-rasanya akan membuat gadis mana pun kesulitan bernapas. Apa Jungkook juga bercinta dengan tatapan setajam itu? Atau malah memejam sembari―astaga, astaga, lupakan.
"Anda akan baik-baik saja, Nona," tutur sang dokter dengan iringan senyum. "Hanya perlu beberapa hari untuk pulih. Bagus juga jika melakukan pijatan tradisional, tapi sepertinya Anda sudah mendapatkan pertolongan pertama. Apakah kakak Anda yang telah memberikan pertolongan pertama?"
Sejemang Jungkook dan Jihwan mencoba mercerna lebih dalam kemudian saling mengernyit. "Kakak?" sahut keduanya bersamaan.
Dokter tersebut langsung menilik bingung. Maklum saja, Jungkook memang bukan membawa dokter yang biasa menangani keluarganya―melainkan dokter asal tarik mengingat rasa khawatirnya beberapa saat lalu. Dengan begitu, sang dokter tidak begitu tahu mengenai silsilah keluarga Jungkook, hanya mengandalkan praduga semata agar suasana mereka tidak kaku.
"Maaf, dokter. Sebenarnya kami bukan adik-kakak, melainkan pasangan kekasih." Begitulah aku Jungkook―lugas; dengan bumbu kebohongan tentunya, yang membuat Jihwan nyaris menatap tajam kalau saja tidak melihat senyum percaya diri tertanam jelas di wajah pria itu. Jihwan tidak bisa membuat Jungkook merasa malu dengan mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki relasi seintim itu. Tapi kalimat barusan malah terdengar manis seperti biasanya. Jungkook memang ulung sekali untuk perihal menggoda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
FanfictionJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
