Mari kita lihat seperti apa kondisi Jungkook saat ini. Hanya demi menuruti putra tercintanya―ia telah melewatkan rencananya untuk merapikan barang-barang yang belum sempat ditata, malah berkutat serius di dapur dengan kedua tangan yang tak henti mengolah tepung menjadi adonan. Mengenakan apron cokelat yang selalu menemani hari-hari sibuknya ketika berada di dapur.
Ia melirik ke arah Ai yang nampak antusias, menumpu lutut di atas kursi dengan kedua tangan menyangga wajah, mengamati gerakan lihai tangan sang ayah dalam mengolah adonan dan acap kali bertepuk tangan dengan girang tanpa sebab.
Ada Yui juga di sisi lainnya, sama-sama menatap antusias dan sesekali ikut membantu barang menuangkan air atau apa pun yang bisa ia lakukan dengan gampang. Dua kali sudah tangannya terangkat ke atas, mengusap tepung yang menempel pada pipi sang ayah dengan menggunakan selembar sapu tangan dan disambut senyuman.
"Terima kasih, Sayang." Jungkook mulai membentuk adonan kue beras dan memotong-motongnya. Ayolah, hal itu terkesan merepotkan―sebenarnya. Tapi melihat raut antusias tercetak jelas pada wajah dua buntalan kesayangannya itu, Jungkook jadi tak bisa mengabaikannya begitu saja.
Bukan berarti ia melakukan dengan setengah hati, hanya saja ia teringat akan kesibukan yang semestinya telah ia selesaikan, bukan malah bermain dengan bahan dapur hanya untuk memberikan sesuatu semacam―salam perkenalan atas kepindahan mereka pada gadis tetangga di depan rumah.
Dalam hati, Jungkook sempat bersyukur masih mengingat resep kue beras yang pernah istrinya ajarkan. Bukan kue beras yang amat spesial, tapi ia jelas masih mengingat rasa kue beras buatan tangan istrinya itu selalu tiada tanding, bahkan mengalahkan buatan sang ibu.
Tangan Yui mengudara lagi hingga membuat Jungkook menunduk paham. Ia tersenyum saat gadis kecilnya itu sibuk menyeka keringat di dahinya, senantiasa berdiri di sisinya seperti seorang sekretaris andalan sementara Ai yang berada di sisi lain malah iseng mencolek sisa adonan yang telah jadi untuk dicicipi.
"Daddy, ini tidak ada rasanya―tidak enak! Uwek ...." mengundang sirat gemas dari Jungkook yang kemudian malah mencolekkan tepung pada pipi gembil bocah itu.
"Ini bahkan belum jadi, Nak. Kita harus menanaknya terlebih dulu," sahutnya lantas mengandalkan kedua tangan kekarnya untuk kembali bergerak gesit.
"Mena―apa?"
"Menanak, Sayang."
"O―menanam, eh―" refleks bocah itu membekap mulutnya dengan kedua tangan, agaknya frustasi karena selalu salah menyebut, lalu Jungkook dengan raut dongkolnya mulai membungkuk ke arah Ai.
"Me―na―nak," kata sang ayah hati-hati, berusaha mengajari anaknya agar mampu melafalkan apa yang ia katakan dengan lebih baik. Ai mengeja dengan cara berbisik-bisik lalu menyengir ke arah ayahnya.
"Menanak!" serunya dengan nada girang, membuat Jungkook tersenyum gemas sambil mengacak rambut bocah itu tanpa menyadari bahwa saat ini tangannya masih berlumur tepung.
"O―ow," gumam pria itu sembari mengamati tangannya lalu beralih pada surai halus Ai yang kelihatan kotor. Barulah Ai mengerti akan gumaman sang ayah, berusaha mencapai puncak kepalanya, meraba dengan jemari kecilnya lalu melotot dengan bibir mengerucut.
"Daddy! Rambut Ai malang―kena tepung!" rajuk si kecil hingga membuat Jungkook serta Yui tertawa kencang karenanya. Dengan sedikit terburu akhirnya Ai melompat pelan dari kursi, mendekat pada Yui dengan bibirnya yang senantiasa mengerucut, menggemaskan.
Dirinya pura-pura terisak, minta dikasihani oleh sang kakak yang masih saja menertawai, "Ui, Daddy jahat. Bad Daddy!" nada rajuknya yang menggemaskan sukses membuat dua presensi lain di sana menatap luluh, membuat Yui dengan senang hati mengusap kepala bocah itu untuk membersihkan tepung-tepung yang menempel pada surainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
Fiksi PenggemarJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
