Jungkook memandangi pintu rumah Jihwan yang belum juga terbuka. Ia belum menunggu lama sementara anak-anak sudah berada di dalam mobil―menempati jok kedua dengan begitu riang, menyanyikan lagu favorit mereka; Do You Want to Build a Snowman dan meneriakkan nama Olaf sesekali―si manusia salju dalam film Frozen favorit Yui.
Sesaat ketika si gadis muncul dari balik pintu rumahnya yang berwarna abu-abu terang, Jungkook lekas tersenyum dan berlari menuju rumah di seberang sana. Jihwan mengulum bibir sejenak lalu tersenyum kecil tatkala mendapati sosok jangkung telah berada di hadapannya―bersiap merangkul. "Aku bukan bocah lagi, Jungkook."
"Kakimu masih sakit, Sayang." Detik itu Jihwan berhenti bernapas dan langsung menyorot manik jelaga Jungkook yang tampak begitu menjerat. Dia hanya bungkam dan berusaha menelan saliva―mengontrol detak jantung saat lengan Jungkook melingkari pinggang.
Lakonnya yang terkesan posesif membuat Jihwan merasa nyaman sekaligus gemetar. Mata Jungkook bersinar, dan senyumnya mengagumkan―saat Jihwan menatap ke arah bibir, dia tentu ingat bagaimana rasa manis serta hangatnya ketika mereka bercumbu. Jihwan lekas mengalihkan pandangan ketika menyadari Jungkook menyeringai. "Membayangkan adegan romantis kita pagi ini, Nona Muda?"
Kening gadis itu mengerut beriring dengan bibirnya yang mengerucut tak senang. "Tidak," katanya dingin kemudian menyikut perut Jungkook agar sedikit menyingkir sebab posisi mereka terlalu rapat. Jantungnya masih berdebar dan wajahnya terasa hangat selagi manik hitam itu tetap menyorot lekat. Kepalanya terisi penuh dengan bayangan ketika Jungkook mencium lembut―membuatnya menggeleng frustrasi seraya memejam.
Senyuman menggoda kembali terukir di wajah Jungkook dan dengan gerakan pelan ia mulai menuntun Jihwan untuk melangkah bersama. Tangannya memegangi sisi lengan kurus Jihwan, berpura-pura menatap lurus saat gadis itu mendongak. "Aku sudah bilang, seharusnya kau tidak masuk kuliah dulu." Jungkook berujar dengan tenang hingga akhirnya mereka sampai di halaman rumah mewahnya, tepat di dekat mobil sedan yang terparkir dalam kondisi mesin tengah dipanaskan.
Menyadari kehadiran Jihwan di dekat sana, Yui dan Ai segera menurunkan kaca mobil dan mengukir senyuman. "Asyik! Akhirnya kita bisa berangkat ke sekolah bersama Hwanie!" seru gadis kecil di dalam sana.
Jungkook tersenyum. Dia bernapas lega ketika mendapati putra-putrinya tersenyum bahagia. "Sebegitu bahagianya?" tanyanya lalu melirik Jihwan tengah tersenyum dengan tangan terulur mengusap puncak kepala Ai yang menyembul dari balik jendela mobil.
"Sepertinya Ai pernah bermimpi tentang Hwanie yang ikut mengantar ke sekolah," kata si Jeon kecil―jagoan yang kini tampak berpikir keras mengenai mimpinya. Jungkook tidak yakin apakah putranya itu benar-benar memimpikan hal demikian, tapi jika dilihat dari rautnya―dia pikir Ai hanya mengada-ada. Sebab jika betul itu terjadi, Jungkook pasti sudah mendengar cerita mengenai mimpi, sebab Ai selalu heboh mengenai mimpi―baik yang indah pun buruk. Bocah itu akan selalu menceritakannya dengan antusias, lalu memperagakan dengan penuh drama. Kali ini pasti Ai hanya bicara soal khayalannya. "Eh, tidak. Sepertinya waktu itu Ai hanya membayangkannya," lanjut bocah itu sembari menyengir lebar dan membuat Jihwan terkekeh pelan.
Jungkook sudah menduganya, lantas tertawa kecil dan mulai membukakan pintu untuk Jihwan. Satu tangannya digunakan untuk menghalangi tepian pintu lalu mempersilakan Jihwan untuk masuk ke dalam mobil. "Silakan, Tuan Putri―ah maksudku, Ratu," ujarnya manis sehingga mendapat tatapan datar dari si gadis.
Yui dan Ai berdecak dari dalam mobil, melipat lengan di depan dada lalu menggeleng heran. "Daddy mulai melakukan drama lagi, ya ampun," cicit Yui, membuat Ai mengangguk setuju. Sekejap Jungkook menoleh dan menatap tajam―total membuat kedua bocah itu bergegas menaikkan kaca jendela dan duduk dengan tenang sedang Jihwan masih mengawasi pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
FanfictionJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
