Chapter 35 : Hurt for Me

23.7K 3.9K 932
                                        

Entah mengapa, Jihwan merasakan adanya sesuatu yang tampak berbeda tepat ketika Jungkook telah kembali. Pria itu belum bersuara sejak sampai di rumah, bahkan menatap matanya saja seolah enggan sehingga membuatnya merasa heran. Terkadang, saat Jungkook terlihat melintasi ruangan dan melewati Jihwan begitu saja, gadis itu hanya mampu menelengkan kepala sambil bertanya-tanya dalam hati. Rupanya bukan hanya Jihwan yang diperlakukan dengan begitu asing, bahkan Yui dan Ai pun sempat melontarkan protes yang sama sekali tak digubris oleh sang ayah.

Tepat ketika makan malam berlangsung, pria itu tidak keluar dari kamarnya, membiarkan Jihwan serta kedua buah hatinya melangsungkan kegiatan tersebut tanpa kehadirannya. Pada akhirnya, makan malam tidak dapat berlangsung dengan lancar sebab Yui dan Ai berulang kali menanyakan ayah mereka; sementara Jihwan sendiri bingung untuk memberikan jawaban yang cukup masuk akal.

"Daddy tidak bicara apa pun sejak pulang kerja. Apakah Daddy marah pada Ai karena tadi tidak membereskan mainan ya?" gumam bocah itu selagi mengaduk makan malamnya lalu mengerucutkan bibir, memandang kosong ke arah garpu dalam genggaman. Jihwan menggigit bibir bawahnya mendapati air muka kedua bocah di hadapannya berubah sedih. Sejak tadi, sebetulnya dia sudah merasa prihatin. Hanya karena sang ayah mendadak jadi pendiam saja rupanya telah berhasil memancing wajah sedih dari dua malaikat kecil itu.

Jihwan meloloskan sumpit dalam genggaman tangannya, mengembuskan napas lembut lalu tersenyum ke arah Yui pun Ai. Keduanya telah menyingkirkan tangan mereka dari piring, kehilangan selera makan. "Yui dan Ai tidak makan lagi? Kenapa tidak dihabiskan?"

Seketika yang ditanya pun mendongak dengan bibir sama-sama mengerucut, memandang sedih. "Sudah kenyang, Hwanie," jawab Yui―sementara Jihwan meyakini bahwa sebenarnya jawaban tersebut tidak sinkron dengan apa yang saat ini Yui rasakan, sebab rungunya berulang kali mendengar suara khas mengerikan dari perut gadis kecil di seberangnya. Sesaat Jihwan hanya mampu menyungging salah satu sudut bibir, memejam sepersekon.

"Oke, aku tidak masalah jika kalian tidak menghabiskan makan malam kali ini. Tapi tolong habiskan susunya ya?" pinta gadis itu lembut setelahnya langsung mendapat anggukan pelan dari Yui pun Ai, membuat kedua bocah kesayangannya lekas meraih gelas susu mereka.

Sejemang Ai menatapnya lekat dengan pijar berupa harapan. Lalu Jihwan tersenyum dan kembali berbicara, "ada apa Prajuritku? Katakanlah jika memang ada sesuatu yang mengganjal di pikiranmu." Seketika Yui pun menjauhkan gelas susunya, menanti sang adik melontarkan suara.

"Apakah menurut Hwanie, Daddy sedang memiliki masalah?" kontan Jihwan pun menahan napas sejenak lalu menjilat bibir dengan kilat. Bocah-bocah itu pandai sekali dalam mengenali perubahan. Mungkin karena Jungkook jarang bersikap demikian, sebab itulah Yui pun Ai langsung tanggap mencerna. Selama beberapa detik, Jihwan hanya mengetuk ujung jari telunjuknya pada permukaan meja makan seolah berpikir.

"Sepertinya Daddy cukup sibuk, bukan begitu? Mungkin Daddy sedang lelah. Sebaiknya jangan diganggu dulu untuk sementara waktu. Berdoa saja, semoga suasana hati Daddy akan segera membaik," katanya menenangkan sambil mengukir senyum manis setelahnya mendapati anggukan lemah dari Yui dan Ai.

...

Jihwan telah melirik berulang kali ke arah jarum jam yang berada di ruang santai dalam waktu satu jam. Yang ada di pikirannya kini hanyalah menunggu Jungkook dan berharap pria itu akan segera keluar dari ruang kerjanya, sementara ia menanti―duduk tenang di atas sofa sambil menyorot bosan ke arah televisi yang menyala. Kaki kirinya menopang kaki kanan selagi kedua tangan bersedekap, mengembuskan napas tak sabaran ketika mendapati jam dinding telah menunjuk angka sebelas malam.

Lampu di ruangan itu telah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu duduk yang berada di permukaan nakas―di sisi kanan dan kiri televisi. Sekejap Jihwan langsung menoleh saat rungunya menangkap suara derit pintu dari arah ruang kerja, kemudian mengernyit khawatir tatkala mengetahui Jungkook keluar dalam keadaan kacau. Cahaya temaram di ruangan itu masih mampu menerangi keberadaan Jungkook sehingga membuat Jihwan bergegas mematikan televisi lalu bangkit dari posisinya untuk menghampiri.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang