Apakah kali ini Jungkook benar-benar serius dengan perkataannya? Jihwan tidak menyangka bahwa pria itu bersungguh-sungguh menjaga sikap, bahkan sampai tidak mengajaknya berbicara sehingga bisa membuang waktunya.
Saat keduanya berpapasan di dapur, Jungkook hanya melirik dan buru-buru pergi sembari membawa sekaleng bir sementara Jihwan hanya memandang punggung si pria dengan perasaan bingung sebelum akhirnya mengambil segelas air sambil mengerucutkan bibir serta menautkan sepasang alis.
Kalau saling diam begini, kenapa rasanya sangat asing ya? Jihwan menggaruk kepala sambil mendengus. Ia tidak bermaksud membuat pria itu diam dan menghindarinya. Tidak mengganggu pekerjaannya, bukan berarti Jungkook harus berlaku bisu ketika bertemu pandang dengannya. Jihwan sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi di antara mereka.
Perasaan asing ini pada akhirnya malah membuat Jihwan merasa frustrasi lantas gadis itu memutuskan untuk menemui Jungkook. Setelah beranjak dari dapur, ia melintasi ruang tengah dan menuju ke tangga. Belum sempat si gadis menapakkan kaki pada anak tangga, maniknya sempat melirik ke arah pintu ruang kerja Jungkook yang sedikit tersingkap, melambungkan lantunan nada-nada relaksasi dari sebuah piano. Ah, Jihwan ingat bahwa di ruangan itu memang terdapat sebuah piano yang jarang dimainkan.
Jihwan sedikitnya mengenali nada ini. Nada yang pernah ia dengarkan saat menonton konser piano bersama Seohee dan Taehyung. Nada yang dimainkan dengan sepenuh hati oleh seorang pianis muda. Kabarnya, pianis tersebut tertarik menampilkan permainan pianonya karena dukungan dari sang gadis setelah sempat vakum selama setahun. Pianis itu memainkan lantunan nada klasik River Flows In You milik Yiruma. Persis dengan lantunan nada yang saat ini tengah dimainkan oleh Jungkook.
Sejenak Jihwan memejamkan mata ketika sekujur tubuhnya berdesir hebat. Ia mulai mencermati makna dari lantunan nada-nada yang tengah Jungkook mainkan lalu kelopaknya kembali menyingkap sembari tungkai mengambil langkah panjang namun perlahan. Tangannya segera menyentuh permukaan pintu dan mendorong perlahan tatkala merasa tak sabar hendak menyaksikan pria itu bermain piano. Jantungnya masih bertalu dan sekejap berkedip satu kali saat mendapati Jungkook yang tengah menekan tuts-tuts piano dengan begitu lihai sekaligus terkendali.
Pria itu memejam mata dengan khidmat, namun tak lama kemudian menyingkap kelopak mata saat menyadari bahwa dirinya tak lagi sendiri di ruangan tersebut. Jihwan datang ke arahnya dengan tatapan lekat seolah terbius, mengabaikan pintu yang terbuka lebar. Sesaat Jungkook menghentikan aktivitasnya dan memandangi sang kekasih, tersenyum kecil dan mempersilakan si gadis untuk menempati bangku luang di sisinya. "Aku tidak bermaksud memanggilmu kemari," kata Jungkook saat Jihwan telah duduk di sampingnya.
Jihwan menyapukan jemarinya di sepanjang tuts piano kemudian menghela napas. "Piano ini sepertinya sudah menyimpan banyak kenangan, bukan begitu?" tanyanya, kemudian menekan satu tuts hingga menciptakan sebuah lengkingan nada singkat.
"Piano ini milik Hellen," kata pria itu sembari tersenyum. "Dulu sekali, kami sering memainkannya bersama-sama," jelasnya, membuat sang gadis menoleh sambil menyorot intens.
"Sekarang Hellen sudah tidak di sini, tapi aku memilikimu. Aku tidak merasa kosong lagi, berkat kehadiranmu." Jungkook menoleh kemudian meraih tangan Jihwan, menautkan jemari lantas mengecup lembut punggung tangan si gadis, setelahnya tersenyum lebar.
Sejemang Jihwan hanya mampu bungkam sambil menyorot prianya dengan perasaan gelisah lalu memutuskan untuk mengukir senyum kecil. "Syukurlah."
"Kenapa?" tanya Jungkook singkat.
"Aku bersyukur karena kehadiranku bisa membuatmu merasa lebih baik." Jihwan balik menarik tangan Jungkook dan mengecup punggung tangan pria itu. "Aku harap, kau bisa menjadi pria tegar setiap waktu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
FanfictionJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
