Chapter 30 : Relationship

26.9K 3.9K 863
                                        

Sesak terasa menghimpit dada selama ia mengatupkan mata tanpa sadar. Kendati rasa pening menghantam begitu dahsyat, Jihwan tetap saja berusaha keras agar dirinya dapat terjaga. Dalam dekapan hangat serta aroma maskulin seorang pria, tubuhnya menggeliat pelan untuk menyingkir. Jihwan masih memejamkan mata dengan berat selama lengannya bergerak setengah daya―mendengar suara dengkuran halus yang menggelitik telinga lalu terdiam begitu tersadar.

Puncak kepalanya seperti menyentuh dagu lantas membuat ia mendongak dan mendapati paras rupawan si pria dalam jarak sangat intim. Kontan leher jenjang Jihwan terasa kaku saat maniknya memaku tatap ke arah pucuk bibir Jungkook yang terlihat sedikit membuka, mendapati debaran jantungnya menggila dalam sekejap beriring dengan hadirnya rasa panas yang menjalar pada kedua belah pipi. Jihwan menarik napas dalam-dalam, menyentuh dadanya barang sesaat hingga telapak tangannya mampu merasakan detak demi detak yang tercipta. Rasanya sangat indah, serta nyaman, sukses membuat ia tersenyum kemudian turut melingkarkan lengan pada punggung sang lawan.

Oh, Tuhan, kenapa Jihwan merasa amat hangat? Bukan hanya pada tubuhnya saja, namun juga hati dan pikirannya. Penghidunya meraup rakus aroma Jungkook yang memabukkan, memejamkan mata selagi paru-paru mulai mencerna udara yang masuk. Tungkai mereka yang kini saling membelit di balik kehangatan selembar selimut terasa sangat intim. Tiap lekukan tubuh mampu dirasa dengan jelas. Ada bagian lain yang lebih rahasia―yang tak dapat Jihwan bayangkan bagaimana rupanya akan tetapi berhasil membuat pikiran gadis itu berubah liar. Jihwan menggigit bibirnya tatkala mendapati tubuh kekar itu bergerak perlahan untuk mengeratkan dekapan.

Di mana ia? Jihwan langsung tersadar saat mendapati bahwa dirinya kini berada di ruangan asing yang tatanannya begitu khas. Cahaya remang dalam kamar membuat pandangannya seolah buram hingga pada akhirnya bola mata pun bergerak panik melirik ke sana kemari. Mengamati mulai dari warna cat, lemari besar yang menghimpit rapat pada dinding, lalu meja khusus berisi berbagai macam produk perawatan serta parfum-parfum berharga mahal.

Pukul berapa sekarang? Jihwan mendadak pening saat mendengar suara lenguhan lelah dari seseorang yang kini tengah memeluknya, kemudian bergerak hati-hati untuk menyejajarkan postur sehingga wajah mereka berhadapan. Jihwan tersenyum tatkala maniknya berhasil menangkap paras tenang Jungkook. Sekilas Jungkook terlihat seperti bocah laki-laki polos ketika sedang terlelap kalem. Tapi mengingat perawakan kekarnya yang luar biasa menggairahkan membuat Jihwan jadi bingung sendiri dalam menggambarkan sosok Jeon Jungkook.

Bibirnya, ya Tuhan. Jihwan nekat menyentuh dengan ujung jari telunjuknya lantas menekan-nekan pucuk merah muda tipis yang saat ini sedikit menyingkap gemas. Belahan bibir yang amat menggoda, tahi lalat di hidung bangir juga bagian bawah bibirnya, gigi kelinci yang menambah kesan menggemaskan―bahkan parut tipis menyerupai goresan di pipi yang alih-alih terlihat mengerikan malah membuat Jungkook jadi terkesan makin tampan. Jihwan akan menyerah jika dirinya diharuskan untuk menyebutkan segala kelebihan yang ada pada sosok Jungkook. Satu kata akan mewakili segalanya; sempurna.

Untuk tidur di sisi pria itu saja terasa bagai mimpi. Jihwan tersenyum saat menyadari bibir itu mengatup, sensitif terhadap gerakan-gerakan kecil namun mengusik lalu melenguh lagi seiring dengan mengerutnya kening yang terlihat magis. Selama memandang teduh paras Jungkook, Jihwan terus membatin dalam hatinya―bertanya-tanya―mengapa Jungkook bersikap begitu baik padanya? Cinta tidak mungkin larut secara instan, bukan? Jihwan tidak bisa percaya begitu saja jika dihadapkan pada suatu hal yang berkaitan dengan persoalan klise namun rumit semacam cinta.

Katanya, perbandingan antara cinta dan nafsu begitu tipis sampai tak terlihat. Lalu bagaimana jika saat ini yang mereka rasakan ternyata hanya nafsu, atau bahkan sepenuhnya hanya diliputi nafsu tanpa sedikit pun cinta? Jihwan jelas tidak berniat untuk terikat dalam hubungan seperti itu, mengedepankan nafsu demi kepuasan semata. Pun menjadi hina hanya untuk kenikmatan duniawi. Tapi dirinya akan memperhitungkan bila memang cinta ikut terlibat di dalamnya, lebih-lebih akan sangat merasa bangga jika sampai cinta murni dapat mengalahkan nafsu. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya cinta dan nafsu telah dikaitkan―ditakdirkan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang