Chapter 54 : Eternity

31.7K 2.9K 624
                                        

[Song : Lauv - Never Not]

***

Butuh waktu empat hari lamanya hingga Jungkook dapat kembali pulih. Selama empat hari itu pula, Sara terus saja berkunjung untuk mengetahui kondisi Jungkook. Sekali pun Jihwan ada di sisi Jungkook, Sara seolah menganggap kehadiran gadis itu tidak berarti apa-apa baginya. Tentunya Jihwan tak mau tinggal diam. Dia kerap mencari cara agar dapat mengusir Sara secara terang-terangan, melakukan penyerangan lewat kata-kata tak menyenangkan sehingga menimbulkan kemarahan dari sang lawan. Sayangnya usaha Jihwan seolah sia-sia. Sara itu seperti kuman! Jika tidak dibasmi langsung oleh Jungkook, nampaknya wanita itu akan tetap tebal muka.

Ini hari kelima di mana Jungkook memilih untuk mengambil waktu istirahat. Hari ini Jihwan datang lagi. Bahkan hingga hari kelima, Jihwan tetap tidak menginap di rumah Jungkook. Pria itu mendeklarasikan larangan mengenai eksistensi Jihwan yang tidak bisa tinggal terlalu lama di rumahnya. Jihwan hanya bisa menurut, cukup senang mengetahui bahwa hal itu berlaku pula untuk Sara. Ketika Jihwan sudah terlanjur muak, maka dia akan langsung mengusir Sara yang selanjutnya disetujui oleh Jungkook sebagai tuan rumah. Sejujurnya, Jungkook pun tidak merasa nyaman tiap kali Sara datang untuk mengacaukan kebersamaannya dengan Jihwan; benar-benar membuat wanita itu terlihat sangat mirip dengan parasit.

Pukul tujuh pagi, Jungkook selesai membersihkan diri dan segera menemui Jihwan di lantai dasar. Anak-anak sudah berangkat sekolah sejak Seokjin dan Lizzie menjemput. Sementara kini, yang tersisa di rumah itu hanya Jungkook dan Jihwan saja. Tanpa Yui dan Ai, tanpa Sara si pengganggu. Mungkin inilah waktu yang tepat bagi Jungkook untuk meneruskan niat balas dendamnya pada Jihwan. Karena gadis itu telah banyak menyakiti hatinya, maka Jungkook sudah menyiapkan sedikit serangan balik.

Tepat ketika gadisnya sedang sibuk membereskan dapur, Jungkook datang secara mengejutkan saat sepasang lengannya memeluk perut Jihwan. Kontan gadis itu memekik kaget dan langsung berbalik sehingga mendapati Jungkook hanya mengenakan handuk yang menggantung sempurna pada pinggul, bersama dada telanjang menggairahkan lantas membuat Jihwan mendorong dirinya sendiri agar mundur dari hadapan sang lawan.

"H-hei, kau membuatku syok tahu. Kenakan pakaianmu," ujar Jihwan gugup sambil berniat mengalihkan perhatiannya dari perut kotak-kotak sialan milik pria itu. Oh, ya Tuhan, balas dendam indah macam apa yang sedang Jungkook coba lakukan? Jihwan nyaris tidak sanggup menggulirkan bola matanya ke mana pun selain menikmati waktunya untuk mengamati tubuh Jungkook. Sangat sayang rasanya jika ia harus mengalihkan pandangan dari objek sempurna di hadapannya. Sementara Jungkook malah tertarik untuk menyungging salah satu sudut bibirnya seolah meraih kemenangan penuh. "Berhenti menampilkan senyuman menjijikkan seperti itu. Kau harus ingat kata-katamu beberapa hari lalu. Kita tidak bisa terlalu berdekatan. Apalagi jika orang tuamu sampai tahu hal ini." Jihwan berusaha mengingatkan. Tidak ada yang tahu jika Jungkook mungkin saja melupakan kesepakatan yang mereka buat beberapa hari lalu.

"Aku kemari untuk mengenakan pakaianku."

Jihwan mendelik. "Maaf. Kau konyol sekali. Tidak ada yang menyembunyikan pakaianmu di dapur."

"Oh, ya?" tanya Jungkook menantang. "Di sinilah tepatnya pakaianku berada. Di hadapanku sekarang." Mendengar penuturan Jungkook, Jihwan lantas melipat bibir rapat-rapat. Ya Tuhan, jangan salahkan ia jika nanti tangan kanannya tidak sengaja mendaratkan tamparan mematikan di wajah Jungkook. Pria itu kadang-kadang bisa sangat kelewatan jika sedang menggoda dirinya dan Jihwan akan langsung menyiapkan hukuman saat ia mulai merasa terancam.

"Jeon, kau mau coba merasakan jurus baruku tidak? Sedikit tinjuan di kepala atau perutmu mungkin akan membuatmu sadar," tantang Jihwan sembari melakukan kuda-kuda dengan kedua tangan mengepal di depan dadanya.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang