Chapter 14 : Let's Fight

25.3K 4.4K 1K
                                        

Tangan lentiknya menyapu surai lembut Ai tanpa henti. Ia mencurahkan tatapan penuh perhatian, mengiringi dengan senandung lullaby sebab Ai baru saja terbangun dengan mata menilik sayu.

Jihwan tersenyum manis saat tahu bocah itu kembali terlelap manis sedang kan Yui sudah memejamkan mata sejak setengah jam lalu―tepat di sisi sang adik, berdalih bahwa dirinya rindu tidur bersama Ai.

Cukup lama Jihwan menemani kedua bocah manis itu. Ia menghabiskan waktu sejam lebih untuk membuat keduanya terlelap nyaman, sempat membacakan sebuah dongeng untuk Yui tanpa memedulikan kondisinya sendiri yang sedang tak baik-baik saja.

Jungkook menunggu di luar. Ia pikir kedua buah hatinya butuh waktu penting hanya bersama Jihwan mereka. Ya―Jungkook pikir gadis itu telah benar-benar memenangkan hati Yui dan Ai. Ia tidak bisa berbuat apa pun selain membiarkan waktu mengalir apa adanya. Namun tetap saja, Jungkook tidak bisa berharap lebih untuk hal ini. Ia menyadari posisinya sebagai seorang single parent. Ia tidak begitu mengharapkan Jihwan―masih harus mengobati luka di hatinya sebab selalu terbayang wajah mendiang sang istri. Ia terlalu mencintai istrinya sampai tak mampu membuka hati lagi.

Jihwan masih terlalu muda untuknya. Ada banyak hal yang pastinya ingin gadis itu raih―sedangkan ia pria matang yang tidak lagi berpikir tentang kesenangan semata. Ia punya kehidupan yang berbeda dengan Jihwan. Ia punya sejuta kesibukan, jadwal kerja yang padat, juga dua orang anak yang semakin membuat sibuk. Jungkook pikir Jihwan belum mampu menangani hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga.

Ah―kenapa ia jadi seolah-olah tengah berharap? Jungkook menggeleng sambil mendesah berat, mengusap wajah kusutnya kebingungan.

Sudah pukul sepuluh lewat lima belas menit, Jungkook berusaha untuk tetap terjaga di ruang duduk. Televisi dibiarkan menyala, menyajikan acara pertandingan tinju. Bukan selera Jungkook―tapi tidak ada acara menarik di stasiun televisi yang lain.

Ia nyaris memejam ketika mendapatkan posisi nyaman dengan punggung bersandar pada sofa―lalu tiba-tiba suara gesekan lembut sandal rumah yang menyentuh anak tangga membuatnya kembali melebarkan kelopak mata.

Jungkook memandang lama. Lampu dari arah tangga masih menyala hingga akhirnya sosok seorang gadis muncul dengan raut berantakan. Jantungnya berdentum acak, mendadak khawatir saat tahu Jihwan menghentikan langkah dengan mata memejam erat hingga keningnya menunjukkan kerutan halus. Tubuhnya langsung beranjak meninggalkan sofa untuk mengunjungi gadis itu. Ia menunggu di ujung tangga―masih menyisakan enam anak tangga lagi di antara mereka.

Menyadari Jungkook tengah menunggunya di bawah sana, Jihwan bergegas mengeratkan pegangan pada pembatas lalu menghela napasnya. Ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. "Mereka sudah tidur, aku harus segera pulang," katanya berusaha untuk terus menyembunyikan rasa lelah dan sakit yang mendera. Jihwan ingin segera pulang agar dapat beristirahat. Peduli setan dengan kuliahnya besok, ia terlalu lelah hari ini.

Tungkainya kembali bergerak hati-hati, sementara Jungkook terlihat waspada di bawah sana―ia yakin Jihwan akan limbung sebentar lagi. Butiran peluh sudah menimbun pelipis gadis itu sampai ia dapat melihat dengan jelas.

Hanya tinggal dua anak tangga lagi―tiba-tiba Jihwan merasa persendiannya melemas. Wajahnya terlihat lebih pucat, hingga mendadak tubuhnya limbung menuju Jungkook dan membuat pria itu merangkumnya ke dalam dekapan.

Napasnya berembus menderu kemudian tangannya meremat piyama yang Jungkook kenakan. Jungkook membuat Jihwan merasakan perih lagi di punggungnya sebab kedua tangan itu merangkumnya terlalu erat.

"Apakah seperih itu?" tanya Jungkook lembut hingga membuat Jihwan mendongak otomatis. Mengernyit keheranan.

"Kau―tahu?" tanyanya tercekat. Jungkook mengembuskan napas pelan, menyeka keringat di pelipis gadis itu dengan ibu jarinya lalu bergegas membopong tubuh Jihwan menuju sofa. Jihwan tidak tahu harus melakukan apa selain membisu. Kedua tangannya mengalungi tengkuk pria itu―bertemu pandang dengan lekat.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang