Klik bintang dulu, baru baca. Kalau males, silakan mundur. Kalau nggak suka, jangan diterusin bacanya. Vote = Suka. Nggak vote berarti nggak suka, jadi jangan dibaca :(
***
[Song : Halsey - Sorry]
Tindakan memaksa yang telah Namjoon lakukan sama sekali tidak dapat dimaafkan. Jihwan bahkan tidak mampu menjernihkan pikirannya dari kata-kata sampah tiap kali sepasang maniknya bertemu dengan milik pria itu. Terkadang Jihwan memalingkan wajah hanya demi menghindari Namjoon yang menatap intens. Kenyataannya, ia sangat membenci situasi ini. Ia merasa diperlakukan seenaknya oleh seseorang yang pernah menyakitinya.
Tepatnya ketika gadis cantik itu menyemburkan napas marah, Namjoon hanya bisa tersenyum kecil dan memandangi secangkir Espresso pesanannya. Di sisi lain, Jihwan sama sekali tak menyentuh secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis yang telah Namjoon pesankan beberapa saat lalu.
"Minumlah. Mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuhmu," kata Namjoon menyarankan.
Jihwan melirik, lalu melayangkan tatapan masam. "Rasa marahku sudah cukup membuat kepala dan tubuhku terasa panas. Terima kasih."
Meski mendapat kalimat penolakan mentah tersebut, alih-alih merasa tersinggung, justru Namjoon malah tersenyum manis hingga lesung pipitnya terlihat. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, rasa nyeri berhasil menyengat nyata. Namjoon terlanjur dalam mencintai Jihwan dan sejak perpisahan itu terjadi, ia nyaris tidak dapat menjalani hidup dengan baik. Ia merasa hancur juga kosong setelah mendapati Jihwan dimiliki orang lain, entah mengapa Namjoon merasa seolah-olah dirinya telah mati.
Andai saja menyerah adalah bentuk kemampuan yang dapat ia lakukan dengan mudah, mungkin Namjoon sudah sejak lama melupakan Shin Jihwan. Akan tetapi, angan yang menggunung malah kian menekannya untuk segera meraih Jihwan kembali.
"Ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi saat berhadapan denganmu, rasanya semua topik perbincangan yang telah kusiapkan seolah lenyap begitu saja." Tangan pria itu saling meremas satu sama lain di atas permukaan meja, sedang Jihwan enggan menatap bahkan sedikit saja, merasa muak tiap kali matanya tanpa sengaja memandang paras Namjoon.
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong semacam permintaan maaf atas penyesalanmu di masa lalu dan lain sebagainya. Apa kau tahu? Aku merasa sakit tiap kali melihatmu." Kali ini, Jihwan memaksakan dirinya untuk menatap lurus, tepat pada sepasang manik hitam Namjoon yang tengah memandanginya dalam. "Apa sekarang aku berhasil menghancurkan harga dirimu, Kim Namjoon?"
Jihwan mendapati pria itu memalingkan wajah sambil mengulum bibirnya, membuang desahan serupa tawa kecut. "Kau kejam sekali, Jihwan."
"Sebut aku demikian, sesuka hatimu. Karena sekarang aku tahu kapan harus bertindak kejam saat orang lain menyakitiku," ujar Jihwan beriring tatapan tajam yang nyaris membuat Namjoon merasa seakan tercekik. Hati pria itu sakit sekali. Setiap kalimat yang Jihwan luncurkan padanya bagai bom waktu dan bisa meledak dalam hitungan detik hingga memorakporandakan pertahanan.
Jihwan tengah berjuang, bermaksud menyingkirkan Namjoon saat ini juga supaya pria itu tidak lagi mengganggu kehidupannya. Ia menyembunyikan tangannya yang gemetaran di bawah meja, di atas pangkuan, meremas satu sama lain dengan kasar guna menutupi rasa gugup serta kacau. Dia harus berhasil mematahkan seluruh harapan Namjoon atau paling tidak⸺membuat pria itu mengerti, bahwa ia tidak akan berubah pikiran.
"Apa kau berharap aku akan menyerah, Jihwan?"
"Ya," kata Jihwan dingin.
"Maka aku tidak akan menyerah. Aku akan bertahan, selagi kau belum terikat pernikahan dengan pria mana pun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
FanfictionJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
