Chapter 12 : Shy Girl

25.7K 4.4K 833
                                        

Suhu udara bertambah dingin saat memasuki bulan November. Jihwan harus mengenakan pakaian hingga berlapis-lapis, juga kaus kaki tentunya. Ada perasaan malas ketika harus keluar di pagi hari yang dingin hanya untuk mengambil tiga botol susu di depan pagar, tapi Jihwan tidak punya pilihan―sebelum botol susunya dibawa pergi oleh anak-anak iseng di komplek.

Ada tiga orang anak sekolah menengah pertama yang Jihwan ketahui sering berbuat iseng. Kadang menginjak koran yang belum sempat diambil, juga menumpahkan susu di dalam kotak surat. Itu hal biasa, tapi seminggu terakhir sepertinya tidak ada gangguan seperti itu. Tepatnya semenjak ia memiliki tetangga baru bermarga Jeon di seberang rumahnya.

Jihwan mengetuk ujung sepatunya ke permukaan rumput setelah mengambil tiga botol susu di luar pagar rumah. Sejenak ia menilik rumah bertingkat di seberang sana. Masih terlihat sepi, tetapi setiap jendela di lantai atas sudah terbuka lebar. Ia masih berdiri di depan pagar rumahnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah pagar rumah di seberang. Tiga botol susu pagi ini masih tergantung di pagar, kemudian Jihwan mendongak lagi tatkala mendengar teriakan seru seorang bocah.

Ada Ai di balkon lantai dua, melambaikan tangan sambil berjingkrak-jingkrak karena tubuhnya tak cukup mampu mencapai pagar balkon. Ai tampaknya berusaha nekat untuk menaiki pagar hingga membuat Jihwan melotot panik lalu berteriak.

"Ai! Jangan memanjat ke pagar, nanti kau jatuh!" Jihwan berteriak kencang sambil menggeleng. Raut wajahnya kelihatan cemas. "Ai! Astaga―anak nakal." Gumamnya bingung. Saat dirinya nyaris berlari menuju pagar rumah di seberang untuk memberi tahu ayah dari bocah itu, tiba-tiba saja Jihwan menghentikan langkahnya. Presensi Jungkook muncul dari arah pintu balkon, menjewer pelan telinga putranya hingga Ai mengerucutkan bibir.

"Tadi Daddy bilang apa hm? Buka pakaian dan mandi."

"Tapi Daddy lama. Ai sudah menunggu dari tadi."

Jungkook melengos sambil melipat lengan di depan dada. "Sekarang Daddy sudah selesai. Ai buka pakaian lalu tunggu Daddy di kamar mandi."

"Yes, Sir." Dengan wajah murung, Ai sempat menilik ke arah Jihwan yang juga masih menatap bocah itu lewat celah pagar balkon. Jungkook beralih menatap Jihwan setelah putranya berlalu pergi. Lalu Jihwan tiba-tiba menatap canggung, teringat percakapan mereka semalam. Terlebih Jungkook menatapnya intens seolah ingin menelanjangi. Dasar cabul, pikirnya―berakhir mengeratkan coat. Siapa tahu Jungkook bisa menerawang pakaian dalam seperti apa yang tengah ia kenakan. Jihwan mengendikkan salah satu alisnya beriring menatap sengit. Jungkook balas mengendikkan alis lalu menyungging salah satu sudut bibirnya. Kedua lengannya bertumpu di tepian pagar balkon, masih menatapi Jihwan yang mulai mengangkat dagu dengan pongah.

Rupanya Jungkook benar-benar paman cabul berkaki panjang, pikirnya. Lihat saja dari cara pria itu menatap atau bahkan memainkan lidahnya untuk membasahi bibir. Terkesan seksi untuk para wanita, tapi menjijikkan bagi Jihwan. Seminggu mengenal Jungkook ternyata sudah bisa membuatnya menyimpulkan seperti apa perangai duda beranak dua itu.

"Nasty," bisiknya pelan lantas bergegas membalikkan badan. Berniat pongah, hanya saja Jihwan tidak mengira bahwa dirinya akan menabrak pagar dan hampir saja merusaknya lagi, untung saja tidak sampai tersungkur ke depan. Jihwan merutuk sambil memejam kesal. Ia melirik Jungkook lewat ekor mata. Tadinya pria itu kelihatan menahan tawa susah payah, tapi akhirnya meledak juga―terkikik sambil memegangi perut lalu terbatuk dan berlari memasuki rumah. Jihwan makin kesal, rasanya ingin menangis dan mengutuk insiden pagi ini. Image gadis itu rusak seketika.

Kembali berbalik, Jihwan hendak menendang pagar rumah yang sudah membuatnya malu―tapi ia teringat janjinya semalam. Tidak ada lagi yang namanya menendang pagar, lalu Jihwan memukulnya dengan tangan; hanya pukulan pelan. "Tidak akan menendang, bukan berarti aku tidak bisa memukulmu. Kau membuatku malu pagi ini. Ah! Kesal sekali rasanya!" gadis itu merutuk lagi sebelum akhirnya memasuki pekarangan sambil mengoceh sendiri.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang