Jungkook berusaha untuk tetap fokus selama melakukan rapat tim. Maniknya menyorot tenang, memberikan penjelasan dengan tepat dan mendengar beberapa pendapat partner kerjanya. Seharusnya hari ini mereka bersantai menikmati akhir pekan―namun akhirnya dengan terpaksa mengambil satu free day menjadi jam kerja demi menyiapkan presentasi yang akan dipaparkan pada klien untuk hari Senin di minggu berikutnya. Tapi meski begitu, Jungkook tetap tak dapat sepenuhnya bersembunyi jika sudah berhadapan dengan orang-orang terdekatnya.
Park Jimin menjadi orang yang pertama kali mengudarakan suara setelah rapat berakhir. Menyindir saat melihat wajah muram sahabatnya―ingin menertawakan sebab tidak biasanya Jungkook seakan kehilangan gairah dalam hidupnya. "Hei, Bro. Kenapa? Ada masalah? Atau―mau kupesankan barang bagus untuk dibawa ke hotel?" Jungkook tidak menyahut, tetapi matanya langsung mendelik usai mendengar tawaran Jimin. Bukan satu atau dua kali pria itu memberi penawaran menggiurkan padanya, tapi demi Tuhan, Jungkook tidak suka melakukan one night stand.
Memikirkan ibunya, memikirkan kakak iparnya, Lizzie―membayangkan Hellen, ah, Jungkook sungguh tidak ingin dirinya berubah menjadi seorang biadab. Tidak seorang pun dari keluarga Jeon berniat merendahkan kaum perempuan. Ayahnya jelas akan murka.
Tapi sekarang masalahnya berbeda. Jungkook berstatus single dan Jimin selalu merasa heran tiap kali mendapati Jungkook menghindar dari para wanita yang mengejarnya, mendamba, memohon-mohon agar pria itu mau membawa naik ke atas ranjang. Cih, murahan sekali. "Jangan bilang kau sudah tidak bertenaga lagi? Astaga! Jungkook, kau baru dua puluh delapan tahun."
"Tutup mulutmu, Hyung. Berisik sekali," geram Jungkook seraya merapikan kumpulan sketsa yang berserakan di atas meja rapat. Jung Hoseok, pria lain yang ada di sana hanya menyimak sambil sesekali menertawai tatkala menangkap raut jengkel―sebenarnya menggemaskan―terpancar dari wajah Jungkook.
"Ey, aku takut engsel di pinggulmu berkarat karena tidak pernah di um―goyang. Setidaknya satu kali saja agar tidak kaku ketika menunggangi―"
Suara gebrakan keras pada meja menjadi satu-satunya ancaman yang berhasil membuat Jimin bungkam hingga melipat bibir nyaris rapat.
Choi Sara adalah pelakunya dan gadis itu tersenyum paksa seakan tidak senang mendalami topik yang kini sedang berseliweran di telinganya. Oh ayolah, Sara ingin sekali menjahit bibir tebal Jimin hingga berlapis-lapis agar berhenti mengoceh. "Park Jimin," seru Sara seraya menelengkan kepala, serta merta menyorot tajam, "agaknya tidak pantas membicarakan hal yang kurang sopan selama jam bekerja."
Si pembuat onar memutar bola mata sesaat. "Kita sedang rapat santai sekarang, tepatnya sudah selesai," katanya enggan menatap satu-satunya gadis yang kini berada di dalam ruangan. Sara memang musuh abadi Jimin dan sampai kapan pun keduanya tidak akan menjadi akur karena keajaiban. Sementara di sisi lain, Hoseok hanya mengamati sambil sesekali menyungging salah satu sudut bibirnya. Oh, tentu saja ia terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Sangat membosankan sekaligus memuakkan. Kadang rasanya Hoseok ingin membawa serta Jungkook untuk membiarkan keduanya berdebat.
Kalau Sara sudah menangis karena Jimin, semua akan berubah merepotkan. Atau jika Sara yang membuat Jimin mengamuk, maka akan lebih merepotkan lagi. "Sebaiknya kalian hentikan, sekarang sudah pukul lima sore. Seharusnya kita segera pu―"
"Kita punya janji untuk minum-minum setelah ini. Jangan bilang kau lupa, atau aku akan memotong lehermu, Hosiki," ancam Sara sembari membantu Jungkook membereskan berbagai macam kekacauan di atas meja lalu tanpa sengaja menyenggol lengan pria itu hingga berujung saling pandang. Sara suka situasi menguntungkan seperti itu―tapi salah seorang yang berada di sana tentu akan merasa sangat muak. Jimin berdecak malas, dan Hoseok mulai mendorong kursinya sambil menjinjing tas. "Hosiki―ancamanku nyata―"
KAMU SEDANG MEMBACA
Young Lady
Fiksi PenggemarJeon Jungkook; single parent, tampan, mapan, kaya. Duda muda yang mumpuni menjaga kedua buah hatinya itu akhirnya harus mencari belahan jiwa kembali, untuk menjadi pengasuh bagi putra-putrinya yang masih harus mendapat perlakuan khusus dari seorang...
