Chapter 11 : A Separation

25.5K 4.2K 328
                                        

Bibi Kang itu wanita luar biasa dan tidak pernah mengenal kata lelah. Setidaknya itulah yang mampu Jihwan gambarkan dari sosok yang kini tengah sibuk membersihkan tiap meja pelanggan. Kedai sudah tutup setelah sepasang kekasih keluar dan Bibi Kang bergegas membalik tanda di kaca kedai menjadi; closed. Sudah pukul sepuluh malam, suasana semakin sunyi. Hanya ada suara beberapa kekacauan kecil saat Bibi Kang dan Jihwan sibuk membersihkan kedai. Bibi Kang fokus pada setiap meja dan mengumpulkan piring-piring kotor, sementara Jihwan menyapu lantai.

Aktivitas Jihwan terhenti sesaat ketika Bibi Kang datang mendekat, memberikan senyuman hangat lalu membenarkan kunciran rambutnya. "Terima kasih, Bi." Ia merasa terharu telah diperlakukan dengan begitu baik. Bibi Kang memang sudah seperti ibu baginya. Ia jauh dari ibunya, sementara Bibi Kang jauh dari anak-anaknya. Jadi mereka bisa saling mengasihi selayaknya ibu dan anak.

"Hwanie sedang buru-buru tidak?" Bibi Kang bertanya lembut usai menyelesaikan kesibukannya sedang Jihwan yang baru selesai menutup pintu bergegas menengok. Ada sebersit rasa ragu yang nampaknya menyelimuti Bibi Kang. Keriput halus di wajahnya membuktikan seberapa lelahnya wanita itu menjalani keseharian hanya seorang diri.

Sesaat Jihwan hanya memandang, ia bisa melihat keraguan yang Bibi Kang torehkan. "Tidak, Bi. Memang ada apa?"

"Ayo minum teh bersama. Ada yang ingin kubicarakan, Nak."

Kurang lebih delapan bulan Jihwan bekerja di kedai Bibi Kang, tapi ia belum pernah sekali pun melihat raut serius dari wanita itu. Biasanya mereka akan berbincang sehabis membereskan kedai. Tapi Bibi Kang tidak pernah berbincang hal yang serius mengenai masalah pribadi. Wanita paruh baya itu hanya akan mendengar keluhan yang Jihwan utarakan mengenai persoalan kuliah atau kekasihnya. Tapi malam ini, mungkin adalah gilirannya untuk menyimak apa yang akan Bibi Kang sampaikan.

"Boleh, Bi."

Bibi Kang tersenyum lagi lalu bergegas menuju konter untuk membuatkan teh herbal yang ia simpan disebuah kabin. Jihwan menarik salah satu kursi pelanggan sembari melepaskan apron yang membalut tubuhnya. Kemeja yang ia kenakan tampak kotor karena percikan saus kue beras juga kecap. Terlihat sangat buruk, sementara rasa lelah terlihat membebani wajahnya. Ia tidak sempat melakukan perawatan seperti teman-teman kuliahnya. Bahkan untuk membeli pakaian saja harus berpikir matang. Teringat beberapa hari lalu, ia membeli sebuah kemeja baru dan memeluknya begitu erat saat menaiki bus. Jihwan tidak ingin barang yang ia beli susah payah berakhir cacat sebelum sempat dipakai.

Jihwan sempat mengecek ponselnya sejam lalu. Seohee mengirim sebuah pesan dan mengatakan bahwa ia tak bisa menjemput Jihwan. Seperti biasa―Jihwan tahu betul kalau temannya habis bermesraan di atas kasur bersama dengan Kim Taehyung. Ia tahu itu dari dari voice note yang Seohee kirimkan. Suaranya serak juga kelelahan beriring gemerusuk selimut lalu disusul lenguhan seorang pria. Ah―dasar, Min Seohee itu terlalu ceroboh menurut Jihwan. Jika diingat-ingat, ia dan Namjoon bahkan tidak pernah melakukan hal lebih selain berciuman. Itu pun karena terpaksa.

Suara seretan langkah Bibi Kang yang menyentuh lantai kayu kedai perlahan membuyarkan lamunan Jihwan. Dengan hati-hati gadis itu menatap wanita paruh baya yang sedang menujunya sembari membawa nampan berisi dua cangkir besar teh herbal. Malam ini ia benar-benar akan menjadi penyimak terlebih tidak memiliki hal apapun untuk diutarakan.

Bibi Kang meletakkan secangkir teh herbal di depan gadis muda itu, lantas menarik kursi untuk dirinya sendiri. "Minumlah. Di luar pasti sangat dingin ya," katanya sedikit basa-basi. Ia seringkali mengkhawatirkan Jihwan yang harus pulang sendirian jika temannya tidak dapat menjemput. Delapan bulan mereka melakoni kesibukan juga tertawa bersama, mendapat komentar pedas dari pelanggan pun pelecehan dari beberapa orang tak bertanggung jawab. Keduanya saling melindungi satu sama lain, benar-benar seperti ibu dan anak sungguhan.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang