Chapter 47 : You're Mine

26.5K 3.3K 1.2K
                                        

[Song : Camila Cabello - Easy]

***

Sepanjang hari ini, segalanya terasa begitu berbeda tiap kali Jungkook melintas di ruangan yang berbeda di rumahnya. Sepi. Satu kata yang sedikit banyak telah bergulir dalam benak saat pria itu tak melakukan apa pun bahkan sekadar duduk untuk menyaksikan acara televisi. Jungkook jelas tahu, bahwa sepi yang ia rasakan bukan disebabkan oleh keadaan rumah yang sunyi, melainkan karena belahan jiwanya telah memutuskan untuk pergi setelah mengucapkan salam perpisahan secara sepihak.

Apakah ini nyata?

Jungkook tanpa sadar mengepalkan tangan kanan saat melihat kamar gadisnya ditinggalkan dalam keadaan kosong. Beberapa jam lalu, Jihwan kembali dan tak berbicara sama sekali dengannya. Si gadis mencoba menutup diri sebisa mungkin, mengemasi barang-barangnya yang tertinggal di rumah Jungkook secepat yang ia bisa lalu menyatakan bahwa ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai asisten rumah tangga sekaligus babysitter. Tentu saja hal itu membuat Jungkook sangat terpukul. Namun alih-alih mencegah, Jungkook justru hanya bisa diam seakan-akan menerima keputusan itu secara pasrah.

Tapi sekarang, ia tampak begitu kacau, menatap keadaan kamar dengan sorot mata yang sendu serta kecewa. Jungkook menyungging salah satu sudut bibirnya sebelum memutuskan masuk dan mencermati setiap hal yang mengingatkan ia pada Jihwan.

Apakah ini sungguh nyata?

Dia bertanya-tanya lagi. Kenapa rasanya begitu menyakitkan dan sesak? Apakah ia akan mati jika eksistensi Jihwan tak lagi dapat ia temukan? Ah, konyol. Hanya pria tolol yang merasa amat tersakiti saat dicampakkan seorang gadis. Dan ya, Jungkook memang tolol karena sekarang ia tahu bahwa hatinya tengah menangis, berdarah dan mungkin hancur. Jungkook bersumpah bahwa ia ingin sekali meneriaki Jihwan. Tapi saat melihat bola mata bundar gadisnya, ia bahkan tidak dapat berbicara sepatah kata pun. Tidak bergerak sedikit pun. Hanya diam seperti patung bisu sebelum akhirnya ditinggalkan sungguhan.

Sejam lalu, Jungkook ingat bahwa ia diam-diam memperhatikan halaman rumah Jihwan hanya untuk menemukan presensi sang empu. Mengintip, berpura-pura merawat bunga-bunga yang berada di halaman atau sekadar mengecek kotak surat. Matanya tak henti menyorot ke rumah Jihwan. Tapi tak nampak tanda-tanda bahwa gadis itu ada di dalam sana, terlebih pagar rumah berwarna putih susu itu diberi gembok yang menandakan bahwa pemiliknya sedang pergi entah ke mana.

Apa Jihwan sungguh ingin mengakhiri hubungan ini?

Jungkook mendesah panjang. Detik ini, ia mulai mengalami serangan batin dan praduga-praduga yang tak mengenakkan.

Lalu bagaimana jika putri dan putranya nanti bertanya mengenai Hwanie mereka? Apa yang harus Jungkook katakan? Jungkook merasa bahwa dunianya kembali mengalami kehancuran untuk kali kedua. Dia tidak tahu bagaimana kondisinya sendiri. Seperti orang yang hilang akal, Jungkook hanya termenung di atas pijakannya. Melamun. Meratapi. Berandai-andai. Jika ia bisa sedikit lebih memahami⸺ah tidak. Jihwan juga tidak memahami bagaimana dirinya. Jungkook meyakinkan diri, bahwa gadis itu juga bersalah. Keduanya saling tenggelam dalam keegoisan sehingga membuat segalanya menjadi rumit.

Sesaat kemudian, Jungkook mencoba menahan napas saat telah mendaratkan bokong di tepi ranjang sehingga tangannya dapat mengusap seprai disertai tatapan sedih. Rasanya jauh berbeda dibanding ditinggalkan oleh Hellen, istrinya. Jungkook merasa⸺sangat hampa. Dia tidak kehilangan. Hanya, hampa dan juga kosong. Mungkin beberapa hari kemudian, ia baru akan menyadari bahwa ia merasa kehilangan.

"Hwanie," bisiknya parau. "Terima kasih. Karena kau telah berhasil menghancurkan duniaku dalam sekejap." Jungkook berbaring di atas ranjang itu, memejamkan mata, meringkuk dengan perasaan sakit, tidak berdaya lalu melampiaskan kemarahannya dengan cara memukul permukaan ranjang yang sama sekali tak bersalah.

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang