Chapter 21 : Confession

28.8K 4K 292
                                        

Tangan ringkih dan lembut itu terasa dingin dalam genggaman. Jungkook tidak akan melepaskannya barang sedetik pun. Tapi pikiran seperti itu nyatanya harus segera berakhir saat pemandangan pagar berwarna putih susu yang mengelilingi rumah Jihwan mulai tertangkap netra. Dari reaksinya kini kentara sirat kecewa cukup jelas hingga membuat si gadis memutuskan untuk tersenyum tipis. Bagaimana pun juga, Jihwan sangat berterima kasih karena pria itu bersedia mengantarkannya agar sampai ke rumah dengan lebih mudah saat kedua tungkainya dalam kondisi pincang dan sulit untuk dibawa melangkah.

Dalam sekejap, hatinya semakin terbebani dengan segala kebaikan yang telah ia dapatkan. Sejujurnya Jihwan tidak mampu menerka arti dari setiap perlakuan pria itu terhadapnya. Jika memang rasa cinta, entah kenapa hal itu malah terkesan seperti sebuah keajaiban bagi Jihwan. Pasti terlalu sulit bagi Jungkook untuk jatuh cinta padanya secepat itu. Hanya melihat kedekatan mereka saat ini tidak berarti bahwa dinding tebal yang berdiri kokoh sebelum saling mengenal itu akan runtuh begitu saja. Jihwan rasa, kata mustahil adalah yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan mereka dalam waktu amat singkat. Ini hanya permulaan. Bukan cinta. Jihwan pikir Jungkook hanya merindukan sosok perempuan dalam kehidupannya, dan tidak lebih dari itu.

"Sampai sini saja. Terima kasih untuk hari ini," ucapnya dengan suara lembut kemudian melepaskan genggaman hangat Jungkook yang sedari tadi membuatnya merasa nyaman. Sekarang tanpa tangan itu Jihwan kembali kedinginan tapi degup jantungnya masih tidak teratur saat kembali menatap manik hitam Jungkook.

Sejemang pria di hadapannya mendengus sembari bersedekap. Suhu udara yang dingin dan kering seakan menekan kinerja otak dan berusaha melumpuhkan hingga Jungkook hampir kehabisan stok kalimat. Ia ingin cepat-cepat kembali ke rumahnya, atau berharap―paling tidak Jihwan mau mempersilakannya untuk mampir beberapa menit sambil memastikan gadis itu telah baik-baik saja. Tapi Jungkook yakin Jihwan tidak akan membiarkannya kali ini. Raut wajah si gadis tampak cukup rumit, seakan ingin mengatakan sesuatu namun diselimuti rasa ragu kelewat kental.

Tangan kanannya terulur menuju puncak kepala Jihwan kemudian tersenyum, mengacak surai hitam itu hingga terlihat berantakan. "Seharusnya kau mempersilakanku masuk barang sebentar. Kau bahkan tidak menawarkanku untuk minum kopi atau teh." Mendengar hal itu Jihwan lantas menyemburkan napas, tanpa sadar jemarinya sudah saling meremas sejak beberapa detik lalu. Bibirnya mengatup rapat saat manik hitam itu senantiasa menatap.

"Namjoon akan datang, mungkin sebentar lagi. Aku tidak bisa membiarkan dia melihatmu. Dia akan salah paham lalu memancing pertengkaran―"

"Tunggu dulu," kata Jungkook tiba-tiba memotong kalimat si gadis. Ia tampak berpikir beberapa sekon lalu mengernyit. "Jadi kau masih mempertahankannya? Pria itu? Ya Tuhan." Dari suaranya, Jihwan dapat menemukan rasa frustrasi yang mencekam. Bahkan reaksi Jungkook tampak berlebihan seperti biasanya―mengusap wajah dengan kasar lalu menatap lagi. Manik hitam itu seakan telah menusuknya tajam. "Kau sama sekali tidak mendengarkan saranku, Hwan."

"Bukan begitu Jungkook. Aku―aku memikirkannya, kau tidak tahu. Aku bingung harus mengatakan apa pada Namjoon. Dia akan sangat marah, dia akan melukaiku lagi―"

"Lalu kenapa? Aku akan melindungimu. Apa hanya itu yang kau takutkan? Jihwan, apa kau tidak menganggap kehadiranku sama sekali sampai detik ini?" nada bicara serta sirat marahnya kini terasa sinkron hingga membuat Jihwan menatap beku. Ini kali kedua ia melihat Jungkook marah sekaligus bersikap dingin atas perbuatannya. Suhunya bertambah dingin, tapi kepala Jihwan seakan hampir meledak mendapati tatapan menusuk dari lawan bicaranya. "Aku tidak ingin menjelaskan berulang kali, Hwan. Kau jelas lebih tahu yang terbaik. Tapi aku seorang pria dewasa, aku pernah menjadi seorang suami, dan aku juga seorang ayah―aku hanya menyampaikan pendapatku, memikirkan bagaimana kalau kau adalah kekasihku, istri atau putriku. Aku akan melakukan hal yang sama."

Young LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang