B20 - Semakin Rumit

329 47 139
                                        

WARNING!!
CERITA INI HANYA KHAYALAN AUTHOR SEMATA
NB: jadi berimajinasilah sesuai deskripsi yang Author paparkan.

Selamat membaca 😘 baca dengan teliti ya, sekalian dikoreksi. Hehehehe..

Budayakan Vote kapanpun, tinggalkan jejak Comment dimanapun itu. Lebih baik Voment - Vote & Comment terlambat, daripada tidak sama sekali ~ De'en

⏯️

Setelah mengantar Elle ke rumahnya, Axe langsung memutar balik mobilnya. Beruntung Axe menyimpan satu kendaraan di basement apartemen ini untuk berjaga-jaga. Dan ternyata ada gunanya juga.

Sebenarnya bisa saja dia menggunakan Reption-nya saat itu juga, tetapi dia memilih mengantar dengan cara manual. Karena dia masih belum bisa berterus terang dengan jati dirinya. Ditambah dengan kejadian siang itu, dia masih belum menemukan kejelasannya.

"Apa benar gadis itu yang narik gue dari tahanan terlaknat itu?"

"Gimana bisa? Dia punya sihir?"

"Atau mungkin dia emang punya sihir?"

"Lalu dari kalimat yang gue ucapkan kemarin maksudnya apa?"

Selalu saja pertanyaan itu yang berulang-ulang ia gumamkan sepanjang perjalanan kembali ke apartemen. Matanya menatap lurus ke jalan. Dalam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya sesekali menerawang. Meskipun sedang dalam banyak pikiran, dia harus tetap tenang mengemudi.

Jalanan kota Kagya di malam ini cukup ramai. Banyak pasangan muda-mudi yang hilir mudik menggunakan sepeda motor, dan banyak juga yang berjalan kaki di jalan trotoar. Toko-toko makanan dan hiburan di pinggir jalan, penuh sesak dengan kunjungan malam mereka.

Axe menghiraukan hiruk pikuk perkotaan. Dia tetap melajukan mobilnya lurus ke arah jalan apartemennya. Selama berada di kota Kagya dia sama sekali tidak pernah singgah ke tempat ramai seperti itu selain ke cafe Inmole, dan beberapa tempat yang ia butuhkan.

Cafe Inmole merupakan tempat hiburan pertama yang dia singgahi dan di sana pula dia mempunyai teman manusia biasa. Itupun karena paksaan Finn untuk berteman dengan mereka. Namun akhirnya dia senang juga mempunyai teman seperti mereka.

Axe memarkir mobilnya. Setelah itu dia menggunakan Reption-nya menuju kamar apartemennya. Saat hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba angin agak kencang masuk menyapanya. Pesan mantra Airix dari Dion berdengung di telinganya.

Ax, kamu di mana? Cepat ke pohon Akasia sihir hitam dekat Air terjun, sekarang!

Axe mengernyit mendapati pesan tersebut. Begitu menyimak pesannya, seketika itu pula berbagai pertanyaan berjajar di benaknya. Namun dia tidak bisa bertanya saat ini karena tidak bisa membalas pesan Dion. Dengan segera Axe menggunakan Reption-nya ke tempat yang disuruh.

****

"Ke mana aja seharian ini, Dek?!"

"Pulang sekolah gak segera pulang malah keluyuran!"

"Pinter gitu, pulang malam masih aja pakai seragam."

"Kok bukan sama si merah? Tadi siapa, Dek?!"

"Tapi kalau diperhatikan, lo cocok sama laki-laki itu, Dek."

Begitulah omelan Rangga ketika melihat adik semata wayangnya baru pulang ke rumah. Elle menjawab seadanya, dari pingsan di perpustakaan hingga dibawa laki-laki itu ke apartemennya. Tetapi dia berbohong saat tidur satu ranjang dengan laki-laki itu. Kalau dia jujur, bisa-bisa Rangga tiada henti bertanya hingga berjam-jam. Jika terjadi, hal itu akan menyiksa Elle dengan perutnya yang kosong.

Life But UnlifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang