B26 - Glad or Sad? | Elle Pov

310 45 83
                                        

WARNING!!
CERITA INI HANYA KHAYALAN AUTHOR SEMATA
NB: jadi berimajinasilah sesuai deskripsi yang Author paparkan.

Selamat membaca 😘 baca dengan teliti ya, sekalian dikoreksi. Hehehehe..

Budayakan Vote kapanpun, tinggalkan jejak Comment dimanapun itu. Lebih baik Voment - Vote & Comment terlambat, daripada tidak sama sekali ~ De'en

⏯️

"Sedih atau senang?" tanyaku bergumam.

Tidak ada yang menyahut. Tentu saja, tidak ada orang lain didekatku. Aku bertanya kepada diriku sendiri.

Setelah mengeluarkan semua kata-kata kasar kepadanya aku merasa lega. Aku juga tidak tahu dari mana aku mendapatkan keberanian seperti itu. Tetapi ada gunanya juga untuk mengusir laki-laki itu.

Aku mengembuskan napas kasar. Dengan pelan tubuhku kuhempaskan di kasurku. "Aku senang ... tetapi entah kenapa aku merasa ini salah...."

"Apa ucapanku terlalu menyakitinya?" tanyaku. Mengingat raut wajahnya yang datar namun tatapan matanya yang terluka saat pergi dari pandanganku, entah kenapa hatiku nyeri. Seakan-akan aku bisa merasakan rasa sakitnya.

Aku menggeleng pelan. "Tahu ah!" serahku. Aku menyingkirkan perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul.

Kupejamkan mataku. Teringat ucapannya sebelum pergi tadi aku bergumam menimpali, "Aku tidak akan pernah merindukanmu."

Mau tak mau aku juga harus melupakan semua keingintahuanku yang belum terjawab oleh laki-laki itu. Tak apalah, yang penting dia pergi, keanehan yang terjadi denganku juga akan pergi. Lama kelamaan semua keanehan akan hilang, karena semua berawal dari dia.

****

Pagi hari yang indah semakin indah tanpa gangguan dari laki-laki itu di malam hari. Matahari yang bersinar pun terasa ikut tersenyum bahagia seakan-akan ia ikut merasakan kebahagianku hari ini. Tetapi entah mengapa hari ini ada yang hilang dari otakku. Bagian dari diriku ada yang terasa kosong. Aku tidak tahu apa, namun sepertinya hal itu cukup penting bagiku.

Pukul 06.45 a.m aku baru sampai di sekolah. Mungkin saking nyenyaknya aku tertidur, sampai-sampai baru bangun tidur jam 6 pagi. Beruntung Aina diantar kakaknya. Kalau tidak, aku akan terkena omelannya karena tak cepat-cepat menjemputnya. Namun baru kali ini bangun pagiku terasa puas setelah beberapa hari diganggu laki-laki itu.

Saat sampai di sekolah, suasana sekolah jelas sudah ramai dengan kehadiran murid-murid lain. Banyak dari mereka yang berbincang-bincang di depan kelas. Aku melangkah menuju kelasku. Beruntung untuk menuju kelasku hanya melewati satu kelas XII Society 4. Jadi tak perlu banyak orang yang harus kulewati. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Aku tersenyum senang.

Bruk.

"Awh," erang seorang laki-laki yang bersimpuh di lantai. Laki-laki itu bersimpuh tepat di depanku.

Aku mengernyit. Kenapa dengannya? Tanyaku dalam hati. Mataku mengedar, semua mata terfokus ke arahku dan laki-laki itu berada. Aku masih tak mengerti mengapa mereka memperhatikan kami dengan wajah terkejut.

Laki-laki itu mengusap siku dan bokongnya yang mungkin terbentur lantai. Melihatnya akan berdiri aku mengulurkan tanganku. "Mari kubantu," ucapku.

Life But UnlifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang