Lisa menatap lurus kedepan dengan posisi duduknya yang sangat sempurna. Duduk tegak dengan pandangan lurus dan fokus ke depan.
Gadis berponi itu sedang berada di kelasnya, sudah tiga puluh menit Lisa berada disini dengan posisi seperti ini. Bukan karena ia memang sangat serius ingin belajar akan tetapi ini semua karena dosen yang sekarang berada di depan ruangan.
Ingat dosen killer yang menyuruh Lisa keluar dari kelas nya? Benar, ini adalah mata kuliah si dosen killer tersebut. Ia tidak ingin telat lulus hanya karena dikeluarkan dari mata kuliah ini.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, pria tua ini bahkan tak segan - segan memasukkan siapa saja kedalam daftar hitamnya.
Lagian itu semua juga bukan sepenuhnnya salah Lisa tetapi juga Jisoo. Tapi, bicara soal Jisoo sekarang
'Dimana dia?' gumam Lisa masih mengamati satu persatu wajah di ruangan yang tak terlalu penuh itu.
"Hey gadis berponi"
"Sstt bentar jangan ribut, ntar ketahuan sama pak Albert" ucap Lisa setengah berbisik dengan badan yang hampir setengah berputar kearah belakang.
Beberapa teman yang tanpa ssengaja bertemu tatap dengan Lisa lebih memilih menunduk daripada harus membantunya, membantu Lisa berarti sama saja berurusan sama dosen paling killer di jurusan ini. Siapapun pasti lebih memilih menghindari nya daripada harus terseret bersamanya.
"Pa--k Al--bert? Pak Albert?!!" Pekik Lisa spontan setelah ia mengikuti gerakan bibir salah satu teman yang berusaha memberitahunya.
Tepat saat Lisa memutar badannya kembali ke arah depan sudah ada lelaki tua berkumis tebal yang sedang berkacak pinggang tepat di depan nya.
"Ah"
"Kamu tahu kan saya orang yang tidak terlalu mengingat seseorang dengan baik, tetapi saya sangat ingat kalau kamu adalah mahasiswi yang saya usir keluar beberapa minggu yang lalu kan?
Lisa terhenyak, meskipun kenyataannya memang seperti itu tetapi tetap saja siapa yang tidak akan malu di umumkan seperti itu di depan kelas?
"Ah, ti..." Lisa memberhentikan kalimatnya dan memilih bungkam.
Kalau ia mengelak sama saja artinya ia menggali kuburannya sendiri, tetapi kalau ia membenarkan akan terasa aneh jadinya.
Lelaki tua yang bernama Albert itu pun menatap Lisa sinis "Apa--kau memang tak niat untuk melanjutkan kuliah lagi?"
"Tidak! Bukan--bukan seperti itu" ucap Lisa cepat, tentu saja ia ingin lulus dan bekerja walaupun sebenarnya ia tak perlu repot - repot untuk bekerja.
Lisa membulatkan matanya saat melihat lelaki tua itu mengeluarkan sebuah notes kecil dari saku celana nya. Siapapun yang menempuh pendidikan dijurusan ini pasti sangat tahu tentang notes itu.
Notes kecil berukuran saku yang selalu ia bawa kemana - mana. Notes yang berisi daftar hitam nama mahasiswa yang dianggapnya layak untuk masuk ke dalam daftar tersebut. Daftar mahasiswa bermasalah.
"Maafkan saya!" Ucap Lisa dan spontan bersujud di depan lelaki tua yang masih memandang buku kecil di tangannya itu.
Pak Albert itu mengalihkan pandangannya pada Lisa tanpa eskpresi sama sekali. Ia hanya diam mengamati Lisa yang bersujud dan bahkan hampir mencium sepatunya.
"Ini pelajaran untuk kalian semua, jangan seperti perempuan di depan kalian ini. Masa depan kalian akan suram" ucapnya angkuh sembari melemparkan pandangannya pada mahasiswa yang menatapnya takut.
"Bangun lah"
Lisa medongak sekilas keatas untuk memastikan bahwa memang dosen killer itulah yang menyuruhnya berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
ICE BOY [PP]
Teen Fiction[Beberapa part sudah dihapus untuk kepentingan penerbitan] "Dia adalah pria dingin yang berbicara dengan mulut pedasnya" "Dia adalah pria dingin yang membentengi diri dengan ekpresi datarnya" "Dia adalah pria dingin yang tertidur diruang kerja hanya...
![ICE BOY [PP]](https://img.wattpad.com/cover/131775754-64-k218538.jpg)