Rasa takut yang sempat tertepis kini kembali lagi. Gadis bermarga Mackenzie itu menatap lokernya dengan ragu. Ia takut setangkai mawar pink ada di dalam lokernya. Saat bel berbunyi nyaring, Ev membuang nafas dan dengan sisa keberanian ia membuka kunci loker dan pintu lokernya. Ev tersenyum lebar, ia berpikir hari-harinya akan kembali normal. Ev tidak menjumpai bunga seperti biasanya. Ev menaruh tasnya dan pergi ke kelas dengan membawa buku dan alat tulis. Ev masuk ke dalam kelas, gadis yang dikenal ramah itu menyapa teman-temannya. Ev duduk di deretan paling depan, tepat berseberangan dengan papan tulis. Seorang anak gadis berambut ikal berlari ke arah meja Ev.
"Hi, Evgenia!" sapa Zoey.
"Hello, Zoey!" balas Ev.
Zoey duduk di samping Ev, ia adalah teman sebangku Ev. Mereka berdua bersahabat. Zoey seorang anak dari produser film Hollywood. Guru masuk dan pelajaran pun dimulai.
Litzi mengantar Daevon dan Caryn ke mini bioskop tuk mempertemukan mereka dengan Alano dan Jelena. Litzi memanggil anak kembarnya, namun Alano menggerutu kesal merasa terganggu. Litzi tersenyum dan mengatakan bila kakek nenek mereka sudah datang. Alhasil! Alano dan Jelena menoleh kemudian berteriak senang dan berlari tuk menyerbu Daevon dan Caryn. Alano dan Jelena mengungkapkan kebahagiaan mereka dengan terus mengoceh. Litzi, Daevon dan Caryn sampai bingung apa yang dua bocah itu katakan. Sebab omongan Alano dan Jelena berbeda, bahkan bocah kembar itu saling memperebutkan perhatian Daevon dan Caryn.
"Duh! Grandma sampai pusing. Satu-satu bicaranya," kata Caryn dengan tertawa.
Litzi ikut tertawa, "Alano Jelena, sayang. Jangan berebut begitu! Kalian bicara kesana kemari."
"Grandpa! Grandpa Dae! Kemarin Daddy belikan mainan untuk Alano! Bagus tahu! Keren!" kata Alano sambil mendongak tuk menatap Daevon.
Daevon mengusap kepala Alano, "Tunjukan nanti pada Grandpa."
Jelena memegang tangan Daevon, "Grandpa Dae! Daddy juga belikan Jelena mainan! Lebih bagus dari mainan Alano!"
"Robot lebih bagus dari barbie tahu!" sambar Alano dengan menatap Jelena.
Jelena berkacak pinggang, "Barbie, bukan robot!"
"Robot!"
"Barbieeeee!"
"Robot!"
Jelena menggeram, "Mommy!!! Alano menyebalkan!"
Jelena berlari memeluk Litzi. Alano tertawa bersama Daevon dan Caryn.
"Mommy, barbie lebih bagus kan dari robot?" tanya Jelena dengan ekspresi sedih.
Litzi tersenyum, "Iya, sayang."
"Kau dengar itu! Wleee!" Jelena menjulurkan lidahnya pada Alano.
"It's okay. Aku mengalah," ucap Alano dengan gaya cool.
Begitulah Alano dan Jelena. Saat Alano yang usil bersatu dengan Jelena yang manja, itu akan membuat perang diantara keduanya mudah datang. Meski Alano suka membuat Jelena jengkel, sebenarnya Alano hanya menggodanya saja. Bocah laki-laki itu tidak sungguh-sungguh menyaingi Jelena saat memperebutkan siapa yang baik diantara mereka. Daevon dan Caryn pun meninggalkan mini bioskop bersama Alano dan Jelena. Tinggallah Litzi sendirian. Melihat betapa indahnya hubungan anak-anaknya dengan Daevon dan Caryn, itu sukses membuat hati Litzi tergores luka. Tiap kali ia melihatnya, itu mengingatkannya akan Kappey, Lilia, Allard dan Harsha.
"Seandainya kalian ada disini bersama anak-anakku," ucap lirih Litzi dan air matanya menetes.
BRAKK!!! PRANGG!!
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
RomanceEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
