"Kau sudah dapat apa yang kau inginkan. Pergilah!" ucap Andreas.
Selepas Alceo pergi membawa Evgenia, Zilya bingung bukan main dengan tingkah Andreas. Ia menurunkan Matvey dan menarik pundak Andreas.
"Damn, man! Kau sadar dengan apa yang kau lakukan barusan?!" ketus Zilya.
Andreas menatapnya dingin tanpa mengatakan apa-apa. Zilya mendesah. Sudah tepat sesuai rencana menculik Evgenia, tapi kemudian Andreas melepasnya lagi.
"Kau tidak mau Ev bersama Lucas, tapi sekarang kau justru membiarkan saudaranya."
Matvey mengedarkan pandangannya. "Dimana Mommy?"
Zilya menekuk lutut dan mencubit pipi Matvey pelan, ia meminta Matvey untuk tenang dan berbohong kalau Evgenia sedang pergi sebentar. Sebuah mobil datang, keluarlah dua orang pria bersetelan serba hitam lengkap dengan kacamata hitam. Mereka menghampiri Andreas dan Zilya yang masih berada di teras.
"Mau apa kalian?" tanya Zilya sembari memegang Matvey kuat-kuat.
"Kami diutus Tn. Lucas Englberht untuk membawa Matvey," ucap salah satu dari mereka.
Zilya mengerutkan dahi. "Lucas? Sekarang.. pria Englberht itu juga.."
"Tidak!" Zilya melempar tatapan tajam.
"Biarkan mereka membawanya." Lagi-lagi keputusan Andreas membuat Zilya tercengang.
Andreas melepas tangan Zilya dari Matvey, lalu memberikan Matvey pada mereka.
"Daddy." Matvey terlihat takut.
Andreas membungkuk dan tersenyum. "Mereka akan mengantar Matvey ke Mommy. Jangan takut, okay."
Matvey tersenyum. "Yes, Dadda Adam."
Zilya membelalak matanya, barusan Matvey menyebut nama Adam. Matvey pun pergi dengan dua pria utusan Lucas.
"Adam?! Kenapa Matvey memanggilmu Adam?" Zilya menunjukan reaksi shock. "What the... oh my God, are you Adam? Adam Englberht!"
Andreas berbalik ke arahnya dan tersenyum miring. Tiba-tiba saja Andreas seperti orang terkejut. Pria itu mengerutkan dahi dan melihat sekitar.
"Dimana Alceo dan Evgenia? Matvey?" tanya Andreas.
Zilya tersenyum hambar. "So, kau tadi kerasukan roh Adam Englberht."
Zilya memberitahu apa yang telah terjadi, Andreas marah. Ia melepas Evgenia atas kendali demon itu.
×××
"Tenanglah, aku tidak mengakui ini kemenangan. Silahkan saja jika kau ingin perang ini berlanjut." Lucas mengulas senyum devil-nya.
Alceo merasa sangat ditantang, ia mengepalkan satu tangannya dan mengetatkan rahangnya. Ia menahan emosi yang menjalar sampai ke ubun-ubun.
"What the hell, what's going on?" timpal Evgenia. "Perang apa maksudnya?"
"Mendapatkanmu," jawab Lucas.
Evgenia tercengang. "What?! Kalian berperang untuk--oh, no! Jangan jadikan aku alasan perang kalian ini, okay?!"
"Faktanya kau yang kami inginkan," ucap Lucas.
Evgenia menautkan alisnya. Alceo melangkah mendekat. Pria itu beradu tatapan dengan sepupunya, Lucas.
"Benar. Kami dan Andreas Jullien," kata Alceo.
"Ini gila!" balas Evgenia. "Aku bukan barang yang bisa kalian perebutkan. Jangan persulit hidupku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
RomanceEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
