Evgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
📚
Menikmati segelas coklat panas di pagi hari seraya merenung adalah hal yang di lakukan Evgenia Mackenzie. Wanita berusia 21 tahun itu memikirkan kejadian di pesta semalam. Evgenia berdiri di dekat tepi kolam renang, piyama masih membungkus tubuhnya dan rambutnya diikat.
Kedengarannya tidak mungkin, tapi.. diamnya seperti menyatakan itu benar. Evgenia membatin.
"Morning, gorgeous!" Alec datang.
Evgenia meneguk coklat panasnya. "Morning."
Alec duduk di kursi. "Nanti siang kau mau pakaian yang seperti apa untuk ke rumah Annita?"
"Monochrome," jawab Evgenia.
"Okay. Aku akan menyiapkannya nanti."
"Ya, kau jago soal memilih pakaian."
Evgenia duduk di kursi dekat asisten pribadinya itu, menaruh gelas di meja kaca lalu kembali merenung.
"Kau mau cerita padaku?" tanya Alec.
Evgenia menghela nafas. Menurut Alec, cara Evgenia melempar tatapan padanya seperti ada kebingungan.
"Apa kau percaya jika Lucas seorang pembunuh?" tanya Evgenia.
Alec mengernyit. "Are you serious? Hell nah, itu tidak mungkin!"
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Ya... tidak mungkin saja. Aku merasa tidak percaya dia sampai melakukan itu. Apa dia mengatakan dirinya pembunuh padamu?"
Evgenia menghela nafas, ia bercerita dari Alceo yang tiba-tiba menghampirinya dan membeberkan hal yang mengejutkan.
"Aku juga tidak percaya, Alec. Tapi Lucas diam saat aku bertanya," gumam Evgenia.
Alec menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Wah, kalau responnya seperti itu memang mencurigakan."
"Itulah mengapa aku merasa kecewa dan pergi meninggalkannya."
"But wait, think again. Diam bukan berarti benar, right?"
Evgenia tercenung, menatapnya dengan pikiran tertuju pada perkataan Alec barusan. Alec mengungkapkan pendapatnya, menurutnya mungkin Lucas terjebak. Kematian dr. Massimo dan Misha benar karena dibunuh. Lucas terlibat dalam peristiwa itu, tetapi sebenarnya pelakunya bukanlah dia.
"Plot twist?" Evgenia mengerutkan dahi.
"Ya! Cerita dengan akhir atau fakta yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Hal mengejutkan," kata Alec.
Evgenia berpikir, pendapat Alec ada benarnya juga.
"Ku rasa kau bicara lagi dengannya, Ev. Minta dia menjelaskannya. Jika dia memang pelakunya, kau harus dengar pengakuannya," ujar Alec.