Daevon Maximiliano, pria lansia yang memiliki penglihatan yang tidak semua orang memilikinya. Ayah dua orang itu berdiri dengan keraguan, satu sisi ia ingin memberitahu mereka, namun disisi lain ia tidak ingin membuat mereka khawatir. Daevon menatap kehangatan keluarga Mackenzie di meja makan. Tampak mereka sedang sarapan bersama dengan canda dan tawa. Senyuman Rex dan Litzi membuat Daevon tidak tega untuk mengatakannya, apalagi melihat betapa cerianya Evgenia.
Caryn Maximiliano, wanita paruhbaya yang mana adalah sahabat karibnya mendiang Harsha itu menatap Daevon dengan sendu. Dia paham apa yang Daevon rasakan dan dipikirkan. Caryn dan Daevon memiliki kemampuan luar biasa, namun berbeda. Dan Tuhan menjodohkan mereka untuk saling melengkapi. Caryn yang bisa membaca pikiran, Daevon yang bisa melihat makhluk tak kasat mata dan berkomunikasi dengannya. Caryn berjalan menghampiri suaminya dan memeluk satu tangannya.
"Aku sudah terbiasa melihat keluarga Rex damai seperti ini. Aku ragu untuk mengatakannya. Aku takut.. keluarga ini akan berubah menjadi tegang dan penuh kecemasan. Tidak ada senyum, tidak ada tawa." gumam Daevon.
"Segalanya akan semakin kacau bila kau tidak memberitahu Rex dan Litzi," balas Caryn.
Caryn tersenyum lembut, "Jika kau mengatakannya, itu lebih baik. Karena kita bisa lebih waspada. Terutama melindungi Evgenia. Lihat cucu cantik kita! Keceriaannya, ketulusannya. Lebih menyakitkan jika kita kehilangannya."
Litzi melihat keberadaan mereka. Wanita itu sedikit mengernyit melihat Daevon dan Caryn yang sedang bicara serius dengan sesekali melihat Ev. Kemudian Daevon dan Caryn berlalu. Litzi melirik Ev yang duduk di depannya dan tercenung. Tingkah Daevon yang aneh pada Ev kemarin pagi dan tadi, membuatnya berpikir pasti Daevon lihat sosok pria yang pernah Yoselin ungkapkan.
"Litzi," panggil Rex.
Litzi mengerjap, "I.. ya."
Rex mengernyit, "Ada apa, sayang?"
"Tidak," jawab Litzi dengan senyumnya.
Rex tersenyum, "Jangan melihat Ev dengan cemas, okay? Bagaimana jika Ev menyadari ada keanehan pada tatapanmu lalu bertanya?"
Litzi mengangguk.
"Dasha, Ayah tidak pernah mengajarkanmu melempar makanan ya?" kata Rex melihat puteri kembarnya melempar apel kepada Mitzel yang duduk berseberangan dengannya.
"Maaf, Ayah. Mitzelnya tidak sabaran sih," balas Dasha dengan tawa kecil.
"Ev, awas!" teriak Athan.
Apel itu tidak berhasil di tangkap Mitzel. Justru melesat ke arah Ev. Alhasil! Apel merah tersebut mengenai pipi Ev. Ev memegang pipinya dan meringis kesakitan. Litzi dengan cepat beranjak dan menghampiri Ev.
"Ini karena Dasha! Dasha melemparnya tidak becus!" kata Mitzel.
"Mitzel.." kata Rex dengan suara lembut meski tatapannya penuh peringatan.
Dasha tercengang, "Kenapa aku?! Aku kan sudah menuruti kemauanmu! Kau yang ingin cepat-cepat makan apel! Kau yang menyuruhku melempar apelnya!"
Rex memegang tangan Dasha yang duduk di sampingnya, "Sudah, Dasha. Adikmu tidak sungguh-sungguh mengatakannya, sayang."
"Dia menyalahkan aku, Dad!" kata Dasha menatap marah Mitzel.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
RomanceEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
