- The Past 20

28.4K 3.2K 261
                                        

        Langit pada malam hari ini begitu pekat dan hembusan angin terasa menusuk sampai tulang. Tubuhnya duduk mematung, sepasang mata abu-abunya menatap langit dengan tajam dan bibir mungilnya terkatup rapat, enggan mengeluarkan satu patah katapun.

Mitzel menyisiri rambut boneka barbienya seraya berdiri di sisi kasurnya. Ada bagian rambut barbienya yang kusut dan sulit disisiri, tiba-tiba Mitzel menjatuhkan sisir barbienya dan masuk ke kolong kasur. Mitzel menaruh barbienya dikasur, lalu tengkurap di lantai. Ia mengulurkan tangannya ke kolong kasur untuk mengambil sisirnya. Mitzel tersenyum saat ia berhasil memegang benda yang dia cari, tapi kemudian senyumnya memudar ketika ia melihat sisirnya. Ralat, telapak tangannya. Dahinya mengkerut, ada abu hitam di tangannya.

"What is this?" tanya Mitzel sendirian.

Mitzel segera mencuci tangannya dan mengambil ponselnya, ia menyalakan lampu ponselnya dan memeriksa kolong kasurnya.

"Eww! Bagaimana bisa ada abu di bawah kasur?"  gumam Mitzel dengan ekspresi jijik dan heran.

"Dasha!" Mitzel memanggil saudara kembarnya.

Tidak ada jawaban.

"Dash!!" panggilnya lagi.

Masih tidak ada jawaban. Mitzel merasa gemas dan berdiri, ia melempar ponselnya ke kasur dan ke balkon untuk menghampiri Dasha.

"Apa susahnya menjawab panggilanku?!" tanya Mitzel dengan kesal.

Dasha yang duduk itu tetap saja diam. Mitzel mengernyit, "What's up? Tumben kau mengabaikanku? Are you okay?"

Dasha mendongak dan tersenyum, "Oh, sorry. I'm fine. Aku hanya ingin sendirian. So ... don't bother me, okay?"

Aneh, satu kata itu langsung terlintas dibenak Mitzel setelah respon kakaknya. Ia menghela nafas dan kembali masuk ke kamar. Ia kembali melihat abu di bawah kasurnya dengan bantuan senter ponselnya. Pintu terketuk dan Evgenia masuk dengan membawa sebuah tas belanja berwarna merah muda. Penampilan Evgenia juga sangat rapih dengan jaket dan tas slepangnya.

"Mitzel, ini pesananmu," kata Evgenia.

"Taruh saja, Ev. Dan.. terimakasih," sahut Mitzel.

Evgenia mengitari penjuru kamar itu dengan matanya, ia mencari keberadaan Mitzel.

"What are you doing huh?" Evgenia mendekat seraya menaruh tas belanjanya dikasur.

Mitzel mengambil posisi duduk dilantai dan mendongak menatap kakak tertuanya.

"Ada abu di bawah kasurku," gumam Mitzel.

Evgenia mengernyit, "Abu? Debu maksudmu?"

"Uh, aku tahu bedanya. Yang aku lihat abu, Ev. Black ash. Lihat ini!" balas Mitzel.

Mitzel membungkuk dan mengarahkan senternya ke kolong. Evgenia ikut membungkuk untuk melihatnya.

Mitzel terkejut, "What?!"

"Mana, Zel? Kolong kasurmu bersih, tidak ada apa-apa. Kau mau mengerjaiku ya?" Evgenia berdiri sepenuhnya, berkacak pinggang melihat adiknya.

"I don't! Tadi abu hitamnya ada! But.. this is strange," balas Mitzel.

Evgenia menghela nafas, "Cukup Athan saja yang mengerjaiku, little princess."

Mitzel menatapnya, "Ev..."

Evgenia tertawa, "Never mind! Coba kau lihat apa baju-bajunya bagus."

Mitzel berdiri dan melirik bawah kasurnya dengan tatapan aneh, lalu mengambil tas belanjanya. Ia mengeluarkan beberapa stel pakaian untuk boneka barbie kesayangannya. Mitzel memang pecinta barbie, ribuan koleksinya tersusun rapih dalam dua lemari besarnya.

The Darkest ReincarnationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang