Saint Petersburg, Rusia.
One year later...
"Iya, aku tidak benar-benar pergi sendirian. Pengawal mengikutiku di belakang."
Suara manisnya terdengar begitu lembut, keluar dari mulut wanita cantik itu. Rambut pirangnya yang lebat dan panjang dengan poni yang membuatnya terlihat menggemaskan. Wanita yang dikenal barbie itu mengenakan outfit serba putih, potongan bajunya yang seksi hingga memperlihatkan belahan dadanya dan perutnya. Rok sebatas paha yang begitu pas melingkar di pinggulnya. Pakaian itu cocok sekali untuknya.
"Ev sayang Mama. See ya." Ia memutuskan panggilan teleponnya dan menaruh ponselnya di bangku yang kosong, tepat di sisinya.
Evgenia Mackenzie, nama yang sangat familiar. Wanita berdarah empat Negara itu berada di Saint Petersburg karena pekerjaan yang berjalan sejak enam hari yang lalu. Berkat usaha, doa dan dukungan banyak orang, wanita itu berhasil melewati masa terpuruknya. Bukan hal yang mudah untuk selama satu tahun ini, tapi akhirnya ia bisa membuktikan jika ia akan baik-baik saja. Meskipun kenangan Andreas Jullien masih kerap kali menghantuinya.
Evgenia mengendarai mobil yang cukup besar, sendirian. Satu mobil pengawal mengekorinya. Sampai di tempat tujuan, Evgenia menghentikan mobilnya. Ia mengambil ponselnya, memasukan ke dalam dompet. Setelah itu keluar. Kehadirannya membuat orang-orang disekitar menatapnya. Supermodel dan trillionaire itu menarik perhatian. Ia memberikan senyuman kepada orang-orang yang melihatnya.
Sebuah toko ternama berdiri kokoh di depannya, Evgenia segera meluncur. Kedatangan Evgenia di toko di sambut hangat oleh manager dan pegawainya tokonya. Evgenia mengendarkan pandangannya, puluhan pakaian mewah terpajang dengan rapih.
"Bisakah kau biarkan aku sendiri? Aku akan melihat-lihatnya dulu," ucap Evgenia pada manager toko yang menuntunnya.
"Baik, Nona Mackenzie." Wanita si manager itu tersenyum.
Dua pengawal berbadan cukup kekar mengawasi Evgenia dari jauh. Evgenia melihat-lihat pakaian wanita. Ia berkeliling dan mengambil beberapa pakaian, ia bergegas ke ruang ganti untuk mencobanya. Setelah memakan waktu beberapa menit, ia membayar belanjaannya. Tapi ketika ia melihat bagian pakaian pria, ia mengurungkan niat untuk pergi.
Evgenia meninggalkan tas-tas belanjanya dan melangkah ke bagian pakaian pria. Bayangan terlintas dibenaknya.
"Coba kau hadiahkan aku baju. Seleramu atau seleraku yang lebih bagus."
"Andreas, aku tahu gaya pakaian seperti apa yang kau suka. Tapi akan ku buat seleramu berubah. Lihat saja!"
"Kau takkan bisa mengalahkanku, sayang."
Evgenia tertawa mengingat perkacapannya dengan Andreas. "Dasar konyol!" katanya.
Lalu Evgenia melihat-lihat pakaian-pakaian pria. Ia ingin sekalian membeli pakaian pria, meski ia tidak tahu akan memberikannya untuk siapa. Karena Andreas sudah tiada. Ketika Evgenia sedang menaikan sedikit roknya, ia tidak sengaja menjatuhkan dompetnya. Evgenia menekuk lutut untuk mengambilnya.
"Aku pikir yang ini saja."
Suara bariton itu membuat Evgenia seketika membeku, dahinya berkerut. Ia mendengar suara langkah kaki mendekat, ia juga melihatnya. Dua sepasang kaki yang menuju ke arahnya. Evgenia mengambil dompetnya dan berdiri. Kemunculan Evgenia yang secara tiba-tiba dari balik baju-baju yang tergantung, membuat kedua pria itu terkejut. Terutama pria berjaket putih yang menenteng dua pasang pakaian. Evgenia memasang wajah shock sama sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
RomanceEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
