"I'm pregnant."
Mendengar ucapan barusan, Lucas nampak terkejut. Serkan mengernyit, ia mendengarnya. Evgenia kembali membelakangi Lucas dan menunduk melihat wastafel. Wajahnya muram.
Lucas menghela nafas. "Andreas tahu soal kehamilanmu?"
Evgenia menggeleng. Lalu Lucas mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Evgenia lantas mendekati Lucas yang berkutat pada ponselnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" Evgenia terlihat panik.
"Memberitahunya," jawab Lucas dan menggerakan jarinya ke bibir untuk menyuruh Evgenia diam.
Tentu saja Evgenia tidak bisa diam, ia ingin merebut ponsel itu. Lucas benar-benar menghubungi Andreas dan menempelkannya ke telinga.
"Lucas, aku mohon jangan! Lucas!" kata Evgenia.
Merasa Lucas mengabaikan permintaannya, Evgenia melangkah pergi. Wanita itu melewati lorong dan berdiri di balik dinding lorong lain, ia bersandar di sana dan meneteskan air mata. Tiba-tiba Lucas sudah ada di dekatnya, berdiri di depannya. Evgenia memalingkan wajahnya. Lucas mengulurkan tangan untuk menyeka air mata wanita itu, tapi tangannya ditepis. Evgenia hendak pergi, namun Lucas segera mendorongnya kembali ke dinding.
"Lepaskan aku, Lucas!" kata Evgenia.
"Hey, hey! Dengar!" Lucas memegang kedua bahu Evgenia. "Aku tidak memberitahunya."
Evgenia mendongak untuk menatapnya. "Really?"
Lucas mengangguk pelan dan menghapus air matanya. Hati Evgenia begitu lembut, sehingga ia mudah menangis. Ah, Lucas mengerti perasaan Evgenia.
"Nomornya tidak aktif. Jadi aku tidak bisa menghubunginya," kata Lucas.
Evgenia menghela nafas. "Tolong, jangan beritahu dia atau siapapun."
Lucas membaca pikirannya, kemudian ia memberi ruang agar Evgenia bisa bergerak. Evgenia jalan beberapa langkah agak jauh dari Lucas.
"Hanya aku dan kau yang tahu soal ini?" Lucas mengerutkan dahi.
Evgenia menghela nafas. "Ya."
"Kau tidak memastikan kehamilanmu ke dokter atau rumah sakit?" tanya Lucas.
Evgenia duduk di sofa. Ia membenarkannya, ia mengungkapkan rasa takutnya sekalipun ia meminta dokter untuk merahasiakannya. Ia tidak mau karena kehamilannya, Andreas kembali. Bukan merasa benci atau sombong, hubungan mereka benar-benar terasa tidak bisa berjalan seperti dulu. Ada Nadya.
"Aku tahu aku salah menyembunyikan ini. Tapi jika Andreas tahu, dia akan memanfaatkan ini agar aku kembali padanya," gumam Evgenia.
Lucas menghampirinya, ia menekuk lututnya di kaki Evgenia dan menggenggam kedua tangan wanita berdarah Amerika-Indonesia-Spanyol dan Rusia itu.
"Aku mengerti. Aku akan menyimpan tentang ini, okay? Tapi jika ada apa-apa, atau perutmu merasa sakit, harus beritahu aku." Senyum tulus Lucas terutas.
Evgenia tersenyum seraya mengerutkan dahi. "Tapi ada yang tidak aku mengerti."
Lucas mengernyit. "Apa?"
"Oh ayolah, Lucas! Kau bisa baca pikiranku, so... tell me."
"Na na na... meski aku bisa membaca pikiranmu, bukan berarti aku setiap waktu menggunakannya."
Evgenia mendengus seraya memutar bola matanya. Kemudian tatapan menunggu Lucas membuat Evgenia merasa jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba ia merasa malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
Storie d'AmoreEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
