- PART 04 | Mysterious Guy

37.5K 3.3K 260
                                        

       Pagi-pagi sekali Evgenia sudah bangun dan melihat Mamanya. Senang rasanya ketika ia bisa mengobrol bersama Litzi tanpa terganggu dengan paniknya yang kerap kali kambuh. Mereka membicarakan tentang Andreas dan Matvey. Setelah itu Evgenia mengajak Litzi ke taman samping mansion dan menyuapinya. Sekarang Evgenia beralih untuk melihat Mitzel, ia datang ke kamarnya dengan membawa sarapan. Sarapan kesukaan Mitzel sejak kecil. Tirai masih tertutup rapat dan Mitzel terlelap. Jam hampir menunjukan pukul delapan. Evgenia membuka tirainya, cahaya matahari yang menyorot mengenai wajah Mitzel.

"Siapa sih?! Mengganggu tidurku saja." Mitzel mendengus, matanya masih terpejam.

Mitzel perlahan membuka matanya. "Oh, curse! What the fuck you bother me!"

Dia suka sekali memanggil Evgenia, kakak tertuanya itu dengan sebutan curse atau petaka.

"I'm sorry. Tapi kau harus bangun," kata Evgenia.

Mitzel menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut. "Aku tidak mau sekolah!"

"Okay, lagipula sudah terlambat. Mama ingin kau menemuinya," kata Evgenia.

"Pasti kau mengadu padanya 'kan? Dasar wanita sial!" Mitzel mencibirnya.

Evgenia tersenyum dan memberitahunya kalau sarapannya ada di atas meja. Ia tahu setelah persoalan semalam, Mitzel tidak akan mau makan di ruang makan. Evgenia keluar dari kamar adiknya itu. Baru tiga langkah, ia mendengar suara pecahan kaca dari kamar Mitzel. Sesak, itu yang Evgenia rasakan. Athan berjalan menghampirinya.

"Setelah ini jangan peduli lagi padanya, Ev. Dia tidak pernah menghargaimu," ucap Athan.

Evgenia tidak berkata apa-apa, ia melenggang pergi. Athan merasa jengkel sekali dengan Mitzel, ia masuk ke dalam kamar adiknya itu dan menatap sarapan yang berserakan di lantai dengan kesal. Lalu menatap Mitzel yang berbaring dikasur membelakanginya.

"Tidak bisakah kau menghargainya sedikit saja? Keterlaluan!" ketus Athan dan pergi tanpa menutup pintu kamar.

Duduk sendirian dan hanyut dalam lamunan sudah menjadi hal yang biasa Evgenia lakukan. Ia duduk di bangku taman menghadap ke arah air mancur dengan pandangan kosong. Kadang ia bertanya-tanya tentang hidupnya yang kacau, kenapa harus dia yang mengalaminya dan sampai kapan? Kadang ia marah pada Tuhan, merasakan ketidakadilan. Tapi kemudian ia menyesal setelah mengunjungi gereja. Air matanya mengalir, yang ia inginkan saat ini hanya tahu di mana keberadaan Rex untuk kesembuhan Litzi dan perubahan Mitzel.

"Aku tahu apa yang dia rasakan," gumam Athan pada pria yang ada di sampingnya. Mereka memperhatikan Evgenia dari jauh.

"Tolong, hibur dia. Andreas, kau pereda rasa sakitnya," kata Athan.

Andreas berjalan mendekati istrinya yang menyendiri di taman. Ia duduk di samping Evgenia, tapi wanita cantik itu tidak menyadarinya. Andreas mendekapnya. Evgenia mengerjap dan menghirup aroma khas yang familiar. Ia mendongak untuk melihat wajahnya, alhasil senyum langsung mengembang di wajah cantiknya.

"Oh gosh, Andreas!" Evgenia memeluknya dengan erat.

Andreas mengecup puncak kepalanya dan membelai rambutnya. Lalu menangkup wajah Evgenia dan menghapus sisa air matanya.

"Aku tidak terima ada satu orangpun yang menyakitimu," ucap Andreas.

Evgenia mencubit pipi kirinya. "I'm okay, hubby!"

Andreas menggenggam tangan Evgenia yang mencubit pipinya dan perlahan menurunkannya.

"Berhenti menutupinya dariku. No me gusta, Ev. Serapat apapun kau menyembunyikannya, aku tetap tahu. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku." Andreas mengatakannya dengan lugas.

The Darkest ReincarnationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang