- PART 22 | The Englberht's Mansion

26.2K 2.7K 300
                                        

Berlin, Jerman.

   Lucas berjalan menuruni tangga seraya melipat lengan kemejanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

   Lucas berjalan menuruni tangga seraya melipat lengan kemejanya. Ia tampak rapih sekali. Saat ini ia berada di mansion peninggalan The Englberht's, yang dulu sekali ditinggali Tatiana bersama ketiga anaknya, Laluna, Adam dan Alceo.

"Tunggu!" Lucas menghentikan pelayan wanita yang membawa makanan di atas nampan.

Pelayan itu tersenyum pada Tuannya yang berjalan menghampirinya.

"Ada apa, Tuan?" tanyanya.

Lucas melirik makanannya. "Apa ini untuk Serkan?"

"Iya, Tuan. Egon tadi menyuruh saya."

"Ya, aku tadi menyuruhnya. Berikan padaku!"

Pelayan itu menyerahkannya dengan hati setengah ragu. Lalu Lucas melangkah pergi, ia berjalan melewati lorong. Lalu berhenti di depan sebuah pintu. Lucas merogoh sakunya, ia mengambil kunci. Setelah itu membuka pintunya dengan kunci.

Meski rumah besar itu terlihat megah, sisi klasiknya masih kental disana. Tidak ada teknologi canggih untuk mengunci pintunya, yang biasanya Lucas menggunakan kata sandi, finger print, face scan atau iris mata.

Saat ia masuk. Pria yang sedang duduk sambil membaca buku lantas menutup bukunya. Lucas menatap pria itu dengan datar.

"Guten morgen, Serkan Ramazan!" Lucas mengulas senyum dingin.

Serkan berdiri dan menaruh bukunya. Lucas mendekat dan menyerahkan makanannnya pada Serkan.

"Ini jatah pagimu," ucap Lucas.

Serkan menerimanya. Lucas melirik buku yang tergeletak di meja lalu mengambilnya.

"Hem, kau penyuka sejarah juga ternyata. Aku pernah baca ini sekali," gumam Lucas.

Lucas melihat ke rak buku dengan puluhan buku berjajar disana. Ia menyarankan Serkan untuk membaca buku-buku yang lain.

"Membaca akan membuat waktumu lebih berguna selama terkurung disini." Lucas melempar bukunya ke meja.

Lalu duduk di single sofa. Memperhatikan Serkan dengan sorot mata dingin. Lucas meminta Serkan duduk dan memakan makanannya. Awalnya Serkan duduk dan menaruh makanannya di meja saja, tanpa bergerak untuk makan.

Tiba-tiba saja Serkan meringis kesakitan dan berteriak seraya memegang kepalanya. Rasanya otaknya terendam air mendidih. Lalu berhenti. Ia terengah-engah dan menatap Lucas dengan kesal.

"Kau ingin lagi ku buat otakmu terbakar?" kata Lucas. "Turuti perintahku!"

"Kau suka sekali menggunakan sihirmu," ketus Serkan.

Lucas hanya tersenyum licik. Serkan bergerak memegang makanannya dan memakannya dengan sesekali melirik Lucas.

"Sebenarnya aku tidak selalu menggunakan sihir, kecuali ketika ku pikir itu perlu. Tapi kau harus merasa beruntung," gumam Lucas. "Aku memberi tempat yang nyaman dan makanan untukmu. Bagaimana jika bosmu atau Rex tahu perbuatanmu? Apalagi Rex, dia pasti akan mengurungmu di bawah tanah."

The Darkest ReincarnationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang