Untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh, Litzi memutuskan ke Mkzie group, pusat utama perusahaan properti Mackenzie. Litzi ingin menemui Rex, Santos bilang siang ini Rex bebas. Litzi datang sendirian dengan mobilnya. Litzi turun dari mobilnya. Rex yang keluar dari gedung perusahaannya langsung melangkah cepat menghampiri istrinya, jelas dia terlihat cemas. Litzi berdiri di dekat mobil putih tanpa atap, posisinya membelakangi Rex. Rex diberitahu Alejo bila Litzi pergi ke Mkzie Group.
"Bebe!" panggil Rex.
Litzi menoleh dan ia mendapat kecupan lembut di keningnya. Rex memegang perut Litzi dan menatapnya serius.
"Kau dan anak kita tidak apa-apa kan? " tanya Rex. "Alejo bilang kau shock dan mual-mual."
Litzi tersenyum, "Cuma tegang.. sedikit saja."
"Mau itu sedikit atau tidak, aku tetap berpikir itu beresiko!" balas Rex dengan tegas.
Litzi mencubit hidung Rex, "Setidaknya aku sekarang baik-baik saja kan? Calon bayi kita aman, Rex."
Rex menggandeng tangan Litzi dan membawanya masuk ke dalam gedung. Sesampainya di ruang CEO, dimana Rex bekerja, Rex langsung mendudukan Litzi di sofa. Rex bilang pada istrinya itu bila ini terakhir kalinya Litzi datang sendirian, apalagi dalam keadaan hamil. Meski tak ada bahaya yang mengancam, tidak seperti masa-masa dulu, keadaan tidak selalu dipastikan aman. Sikap Rex memang over, tetapi itu di lakukan semata-mata karena kasih sayangnya.
"Maaf, suamiku. Maaf juga karena aku tidak bilang kalau aku akan kesini," ucap Litzi.
Rex menghela nafas, "Tidak, kau tidak salah. Alejo sudah menelfonku, tapi karena pagi tadi aku dalam pertemuan, jadi aku baru tahu tentang keadaanmu."
Litzi membelai pipi Rex, "Jangan memelas begitu! Aku cium tahu rasa!"
Tiba-tiba saja Rex memegang tangan Litzi yang membelainya dan memajukan wajahnya. Litzi memundurkan tubuhnya, membuat Rex juga bergerak maju. Litzi sudah diujung sofa, wanita itu tersipu malu.
"Cium aku!" kata Rex.
Litzi tertawa kecil dan mengangguk. Rex menunggu hal kecil yang menurutnya hadiah itu dengan tak sabar. Rex mengira Litzi akan mencium bibirnya, tapi justru ke pipinya. Litzi tertawa lepas melihat reaksi Rex, dia tahu Rex ingin dia mencium bibirnya. Rex tersenyum dan dia menyambar bibir istrinya. Rex melepas pagutannya, dia menangkup wajah Litzi dengan satu tangan. Ditatapnya dalam-dalam wajah wanitanya, ia merasakan kegelisahan Litzi.
"Rex.." ucap Litzi. Mata wanita itu terarah ke bawah.
"Katakan, istriku. Aku akan mendengarnya," kata Rex.
Litzi menghela nafas, "Rex aku bingung sekali. Aku tidak tahu apa yang aku lihat itu nyata atau aku.. berhalusinasi."
"Kau melihat apa?" tanya Rex dengan lembut.
Litzi menatap Rex, "Apa kau akan percaya?"
Rex tersenyum, "Aku sangat mempercayaimu."
Litzi pun menceritakan kejadian di mini bioskop. Rex menyimaknya sambil berpikir tuk mengambil kesimpulan.
"Seumur hidupku.. aku tidak pernah mengalami ini," gumam Litzi.
Rex mendekap Litzi, "Tenang, kita pasti menemukan jawabannya. Yakinlah ini hanya tuk sementara."
"Aku sangat mengkhawatirkan Ev," ucap Litzi.
Litzi teringat sesuatu. Dia menceritakan pada Rex apa yang dia perhatikan akan sikap aneh Daevon.
"Litzi, Dad Daevon punya kemampuan istimewa. Apa kau lupa?" kata Rex.
Katie begitu tidak tenang. Dia memutuskan meninggalkan toko tuk pulang ke apartemennya. Katie terngiang-ngiang akan perkataan Yoselin, Ibu mertuanya. Tak hanya Yoselin, Vitale juga mengatakan hal yang serupa seperti Yoselin. Katie masih berdiri di dekat telepon rumah, ia ragu tuk memberitahu tentang itu pada Rex dan Litzi atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
RomansaEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
