"Mommy, Matvey mau ke toko permen itu!" kata Matvey yang memperhatikan sebuah toko. Sepertinya toko yang baru di buka.
Evgenia menatap Zilya. "Zilya, tolong antar Matvey ya? Aku menunggu di dalam."
Zilya mengangguk dan menggendong Matvey, ia menyeberangi jalan ke toko permen. Matvey bukan satu-satunya anak yang mengunjungi toko permen, ada beberapa anak lainnya. Mungkin bersama orangtua mereka. Zilya mengerutkan kening melihat sebuah papan dengan sticker nama tokonya.
"Adamo Candy?" gumam Zilya.
Namanya cukup familiar, batinnya.
Zilya menurunkan Matvey dan terus memperhatikan seraya mengikuti bocah laki-laki itu yang berkeliling di dalam toko yang lumayan luas. Matvey berhenti di depan sebuah keranjang, ia memegang permen-permen yang terbungkus cantik.
"Matvey mau permen ini?" tanya Zilya dengan sedikit membungkuk.
"Ini kantung untuk menaruh permennya," ucap seorang wanita.
Zilya berbalik badan untuk menerima kantungnya, tapi ia justru terpaku lalu tersenyum lebar.
"Katie!" serunya.
"Hey, kau! Zilya?" balas wanita paruhbaya itu.
Mereka saling berpelukan dan menanyakan kabar satu sama lain. Zilya tidak menduga akan bertemu dengan Katie, wanita yang dulu sempat berhubungan dengan keluarga Mackenzie. Katie sudah lama tidak terlihat dan tidak tahu kabarnya sejak Katie pindah ke Italia bersama Ibu mertuanya, Yoselin Adamo. Katie hidup menjanda setelah kematian Vitale, suaminya.
"Kau terlihat cukup berbeda," kata Zilya.
Katie tertawa. "Aku bertambah tua sekarang."
"Tidak juga, kau masih cantik." Zilya tertawa. "Toko ini pasti punyamu, Adamo Candy."
Katie tersenyum. "Yeah. Aku melanjutkan bisnis Vitale dan ini salah satu cabang kami di Downtown LA."
"Wow! Semoga selalu sukses ya?" balas Zilya. "Oh ya, ini Matvey!"
Zilya mengenalkan Matvey pada Zilya. Katie menekuk lututnya untuk melihat Matvey lebih dekat, ia mengelus pipi Matvey dan menatapnya dengan senang. Ini pertama kali ia melihat Matvey secara langsung, selama ini ia hanya melihatnya melalui internet.
"Aristarkh Matvey Jullien, namanya bagus sekali," gumam Katie.
Matvey memeluk kaki Zilya, ia takut jika bertemu dengan orang yang tidak ia kenal.
"Ya, Mama Litzi dan Andreas yang memberikan nama itu," kata Zilya. "Matvey, jangan takut. Katie orang yang baik, dia teman grandma dan kenal Mommy."
Katie mencubit pelan dagu Matvey. "Itu hal yang wajar. Nanti Matvey juga tidak takut padaku lagi, kita akan jadi teman yang baik. Iya 'kan, sayang?"
Matvey tersenyum dan perlahan melepas eratan tangnnya dari kaki Zilya. Katie berdiri dan mengusap kepala Matvey dengan sayang.
"Anak ini beruntung. Dia cucu pertama Rex dan Litzi. Aku tidak menyangka mereka akan jadi kakek dan nenek secepat ini. Rasanya, baru kemarin mereka hanya sepasang kekasih," gumam Katie. "Mereka menikah, punya anak dan.. cucu. Waktu memang berjalan dengan cepat."
Zilya tersenyum. "Benar, Litzi sangat menyayangi cucunya ini. Sebenarnya banyak orang yang menyayanginya."
Katie menghela nafas. "Seandainya.. Rex ada, dia akan sangat bahagia melihat cucunya."
Tidak mau masa lalu terbahas dalam pembicaran, Zilya mengalihkan topik dengan menanyakan kabar Yoselin dan membicarakan hal lain sambil menuruti kemana Matvey melangkah. Matvey selesai memilih permen. Ada seorang anak dan orangtuanya ingin berfoto dengan Matvey, namun dengan berat hati Zilya tidak bisa mengizinkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Darkest Reincarnation
Misteri / ThrillerEvgenia tidak bisa melihat orang-orang yang tidak bersalah terluka bahkan tewas. Gadis cantik itu harus menerima kenyataan bahwa ia terlahir berbeda. Evgenia inginkan kehidupan yang normal, tanpa merasakan rasanya menjadi reinkarnasi. Melihat banyak...
