- The Past 11

34.1K 3.4K 94
                                        

Moskow, Rusia.

     Rumah sakit ternama di kota Moskow itu pagi ini mendadak ramai dengan awak media ketika kabar kedatangan istri dari seorang trillionaire asal USA berhembus. Mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pelataran rumah sakit dan Santos datang untuk membukakan pintu mobilnya. Keluarlah Rex, Litzi lalu anak kembar mereka, Alano dan Jelena. Beberapa pengawal membuat formasi untuk memberi batas awak media. Rex melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan menggendong Jelena seraya menggandeng Litzi yang menggandeng Alano.

Mereka menuju ruang perawatan Zilya Hemsey, melewati salah satu lorong yang ada dilantai dua belas. Mereka pun sampai diruang perawatan kelas VIP. Zilya merasa gugup sekali, sungguh. Ini pertama kalinya ia melihat langsung seorang Litzi Mackenzie, wanita populer sejak remaja itu.

"Selamat datang, Tn dan Ny. Mackenzie!" kata Claire menyambut mereka.

"Terimakasih," Litzi tersenyum.

Claire melihat Alano dan Jelena secara bergantian, "Selamat datang juga untuk, Alano dan Jelena.. alright?"

Litzi mengangguk seraya tertawa pelan, "Yup."

"Terimakasih, Claire. Oh ya, sayang, ini Claire. Ibunya Zilya. Claire, ini Litzi istriku," kata Rex.

"Halo! Claire Hemsey," ucap Claire seraya mengulurkan tangannya pada Litzi.

Litzi menyambut uluran tangannya, "Hi! Litzi Mackenzie. Senang berkenalan denganmu, Claire."

"Me too. Tapi mungkin aku yang lebih senang, bisa berjabat tangan dengan wanita ternama," ucap Claire.

Litzi tertawa, "Oh, nope. Jangan menyebutku begitu."

"Istriku memang begitu, Claire. Meski sudah bertahun-tahun, dia masih tidak terbiasa dengan reputasinya," gumam Rex.

Litzi meliriknya dengan sedikit mengangkat satu alisnya. Rex tersenyum padanya, tersenyum meledek. Lalu Rex menurunkan Jelena, ia bergantian mengenalkan Alano dan Jelena pada Claire.

"Oh, kita melupakan Zilya," kata Rex dengan nada seperti orang terkejut.

Zilya yang mendengarnya tertawa kecil. Rex mendekat ke ranjang pasien Zilya bersama Litzi.

"Selamat datang, Ny. Mackenzie. Senang bisa melihatmu," kata Zilya dengan jantung berdegup kencang.

Litzi tersenyum, "Terimakasih, Zilya. Aku juga senang bisa melihatmu. Rex sudah cerita tentangmu. Dia benar, kau gadis yang cantik."

Zilya tersipu malu.

"Bagaimana kondisimu, Zilya?" tanya Litzi.

"Baik, Ny. Mackenzie. Dokter memperbolehkan aku pulang siang ini."

"Itu bagus. Oh ya, panggil aku Mama atau Mom saja. Aku lebih senang dipanggil seperti itu, okay?"

Rex menyambung, "Litzi suka anak-anak memanggilnya begitu, Zilya."

"Ya, sangat menyukainya," balas Litzi melirik Rex.

"Lebih dari panggilan sayang dariku," balas Rex.

"Maybe," balas Litzi dengan tatapan sedikit sinis.

Rex mendekatkan bibirnya ke telinga Litzi lalu berbisik, "Aku akan menghukummu di atas ranjang. Camkan itu!"

Litzi menatapnya dengan menahan senyum. "Fuck you," katanya dengan nada pelan.

"Kalian pasangan idaman," gumam Zilya.

Rex dan Litzi sama-sama melihatnya. Tampak Zilya tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Dalam hati Zilya, ia merindukan mendiang Ayah dan Ibunya ketika melihat mereka.

The Darkest ReincarnationCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang