Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kampretnya Nada
***
Dafri duduk didepan meja yang membatasi antara bangkunya dan Nada, membuat Nada mengalihkan pandangannya dari bakso yang sedang dia nikmati.
Nada meneguk air sebelum akhirnya membuka mulut, "apa?"
Alis Dafri tertaut, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang menurutnya aneh.
Nada mendengus, "aneh lo" baru saja Nada ingin kembali melanjutkan aktivitas makannya, Dafri akhirnya membuka mutut, "lo tadi pagi lari-lari sama Nethan pake begandengan tangan, itu kenapa? Kok bisa? Lo dipelet sama Nethan?"
Kini gantian alis Nada yang bertaut, padahal dia tidak melihat Dafri tadi pagi, lalu bagaimana Dafri tau.
"Nggak usah heran gue tau darimana. Semua murid juga tau." Ucapan Dafri menjawab rasa penasaran Nada.
"Gue tuh bukan lari-lari sama dia, gue ditarik. Dan gue sama sekali nggak dipelet atau apalah semacamnya" tukas Nada.
Tatapan Dafri kemudian mengarah ke pintu kantin, spontan Nada berbalik melihat ke arah tersebut. Tawa Nada pecah ketika melihat Nethan berjalan sedikit pincang.
"sejak kapan dia pincang?" Tanya Dafri tanpa mengalihkan pandangan dari Nethan yang kini sudah menatap Nada dengan tatapan membunuh.
Nada menahan perutnya, "gak tau. Yang pasti gue happy!"
"Oh no, dia datang"
"Sia--?"
"Heh gombreng!"
Tawa Nada mereda, tetapi dia tidak menoleh. Tanpa melihat siapa yang berada dibelakangnya saat ini, Nada tau kalau itu Nethan. Siapa lagi yang memanggilnya 'nenek gombreng' selain Nethan.
"Woii! Budek ya?" Ucap 'makhluk' dibelakang Nada dengan suara meninggi.
"Nama gue bukan gombreng" Nada berucap dengan santai.
Nethan tersenyum, "Nada Felicya, ketua kelas 11 ipa 2 yang suka pake baju yang belum kelar di jahit dan -- "
"What?" Nada segera menoleh ketika mendengar keganjalan yang baru saja diucapkan oleh Nethan. "Lo bilang apa barusan?" Tanya Nada tak terima.
Nethan tersenyum kemenangan, melihat Nada kesal adalah kebahagiaan tersendiri bagi Nethan. "Gue bilang lo suka pake baju yang belum kelar di jahit. Kenapa?, nggak terima?"
"Iya gue nggak terima. Lo tuh ya, nggak ada kerjaan lain selain ganggu gue. Mau lo apa sih kampret?"
"Lo jadi babu gue"
"apa?"
"Lo budeg? Gue bilang lo jadi babu gue."
"Apa hak lo bilang gitu ke gue!"
"Gara-gara lo kaki gue jadi begini!"
Nada melihat kaki Nethan yang sudah dibungkus dengan perban. Kemudian cewek itu menatap sekelilingnya, ada banyak siswa yang sedang menonton dirinya dan Nethan. Nada mengendus, "seolah-olah gue yang paling salah"
"Emang lo salah!"
Nada hampir terhentak ditempatnya, "yaudah selow, mas."
"Pokoknya gue nggak mau tau, sekarang lo tukang suruh gue alias babu gue."
"Enakan elo kampret!"
"Salah lo gombreng!" Nethan kemudian berkacak pinggang, "kalo lo nggak mau jadi babu gue, gue laporin lo ke kepala sekolah biar di skors atau sekalian dikeluarin dari sekolah."
"Gak bisa gitu dong!"
"Bisa dong."
Nada mendesis kesal, "ishh, lo tuh ya. Sampe kapan?"
"Sampe kaki gue sembuh."
Nada menghembuskan nafasnya dengan kasar, "tapi ada syaratnya"
"Serah lo. Apa?"
"Lo nggak boleh nyuruh gue yang aneh-aneh"
Nethan mengedikkan bahunya seakan tidak peduli lalu berbalik meninggalkan Meja Nada.
"Lo serius mau jadi tukang suruh dia?"
Nada tersenyum menyeringai, "gue punya misi baru" ucap Nada lalu mengangguk seakan paham akan sesuatu yang ada dipikirannya.
"Lo jangan senyum gitu, ngeri gue."
Nada kemudian memasang raut wajah datar, "diem lo, bacot."
"Misi apaan?" Tanya Dafri kali ini serius.
"Anak kecil nggak boleh tau"
"Kita beda nya setahun doang,"
"Bodo."
***
"Wkwk,.gue masih nggak percaya lo jadiin Nada babu lo" ujar Aji pada Nethan yang sedang asik memutar bola basket dengan ujung jari telunjuknya.
"Gimana ceritanya sih sampe kaki lo diperban gitu," tanya Vino kali ini karena melihat Nethan kelihatannya baik-baik saja.
Nethan menghentikan aktivitasnya memutar bola dan berganti meletakkan bola itu disampingnya. "Nada nginjek kaki gue"
"Ah gue nggak yakin, masa di injek doang sampe diperban gitu. Nada itu cewek, tenaganya nggak mungkin bisa bikin kaki lo lumpu," ucap Vino lalu dibalas tatapan tajam oleh Nethan. "Gue punya misi baru"
"Misi penyelamatan dunia?" Tanya Aji lalu mendapat jitakan dari Vino, "busett, kepala gue sakit, bego!"
"Misi apaan?" Tanya Vino beralih pada Nethan.
Nethan tidak menjawab melainkan hanya mengambil bola basket disampingnya dan berlari ke tengah lapangan sambil mendribble dan beberapa kali memasukkan bola itu ke ring.
sedangkan Vino da Aji larut dalam pemikirannya sendiri. Tentang misi apa yang direncanakan oleh Nethan.