Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yang kayak gini di bilang ondel-ondel?
***
Nethan menatap Nada dengan tatapan mengintrogasi. Setelah mereka selesai melakukan ganjaran yang diberikan pak Dito, Nethan dan Nada tidak langsung masuk kelas, tetapi Nethan malah menarik Nada masuk kantin.
"Makan sekarang!" Suruh Nethan untuk kesekian kalinya.
Nada tetap saja menggubris, "nggak mau, gue nggak laper."
Nethan mendengus, "nanti gue gambar muka lo."
Mata Nada langsung berbinar, "beneran?"
Nethan hanya berdeham sebagai respon.
"Oke, kalo gitu gue pesen bakso."
"Makan nasi bukan bakso!" Kecam Nethan.
Nada memutar kedua matanya, tetapi akhirnya dia memilih untuk menuruti perkataan Nethan.
"Iya-iya, kayak emak-emak rempong aja lo." Ucap Nada sedikit kesal, "gue pesan nasi goreng"
Nethan segera memesan makanan yang diucapkan Nada tadi.
Sebenarnya Nethan melakukan ini karena dia tau kalau Nada tidak sarapan pagi. Jangankan makan, mandi saja tidak.
***
Istilahnya gue udah nunggu didepan pintu, tapi lo gak pernah buka pintunya.
***
Vania berdeham ketika Nada sudah menempelkan bokongnya dibangku.
Nada yang semulanya sedang mengeluarkan buku, kini langsung menghadap ke samping, "ihhh bukan gitu, Vania ku sayang." Ucap Nada dengan suara yang sengaja dibuat lebay ,"lo tetep dihati kok," ucap Nada lagi.
"Ah masa?"
Nada mengangguk pasti, "iyaa"
"Btw lo sama Nethan darimana sih?, masuk kelas udah jam begini,"
"Gue sama dia terlambat. Terus di hukum sama si gundul, kalo nggak sama Nethan sih gue ogah lari sepuluh kali putar lapangan. Abis lari Nethan langsung narik gue kantin, suruh gue makan, tapi gue nggak mau. Dia maksa gue terus kayak emak-emak, uhhh emak gue aja nggak pernah gitu sama gue. Untung sayang, kalo nggak mungkin udah gue garuk pake garpu. Dan akhirnya gue makan deh gara-gara dia bilang mau gambar muka gue." Jelas Nada panjang lebar.
Membuat Vania mengangguk lalu terkekeh pelan, "pacar lo rada-rada bunglon gitu ya,"
Vania menghela nafas, kadang-kadang dia bingung dengan penampilan Nada yang tidak sesuai dengan kepribadian orangnya. Nada cewek yang polos, itu pendapat Vania. Walau memang jika dilihat dari penampilan, Nada terlihat seperti cewek nakal yang hobi berpakaian sedikit terbuka dan selalu merias wajahnya dengan makeup natural yang menurut Vania cocok untuk wajah Nada yang memang cantik adanya.
"Ih bukan gitu maksud gue." Suara Vania kali ini sedikit berbisik. Takut jika Nethan mendengar. Wajar saja karena tempat duduk mereka hampir bersebelahan dengan tempat duduk Nethan.
"Terus apa?"
"Maksud gue, kadang Nethan cuek kadang juga perhatian, kayak bunglon gitu berubah-berubah. Lo gimana sih, lo yang selalu bareng dia kenapa nggak bisa perhatiin sikap dia."
"iya sih, dia memang aneh." Nada terkekeh pelan. "Van, gue mau cerita sesuatu sama lo. Tapi jangan bilang ke Nethan ya, ini mengenai gue dan dia." Ucap Nada kali ini serius.
"Iya cerita aja."
Nada mulai berbisik ditelinga Vania. Tidak lama kemudian Nada kembali menarik kepalanya.
Mata Vania melebar, Nada menggeleng pelan sambil menaruh jari telunjuknya didepan mulutnya dengan maksud Vania tidak membeberkan hal yang baru saja dia bisikkan ditelinga Vania.
Vania mengangguk, "jadi selama ini lo jadian sama Nethan cuma sekedar misi?" Tanya Vania dengan suara setengah berbisik.
Nada mengangguk pelan, sedikit ada penyesalan diwajahnya. "Iya, gue berencana mau hempasin dia setelah jatuh cinta sama gue. Kemaren-kemaren gue jadi ganjen sama dia gara-gara gue pengen bikin dia jatuh cinta sama gue. Tapi akhirnya gue baper beneran, gue suka sama dia. Cara dia kasih perhatian ke gue, beda. Walau gue sering bilang dia kampret karena mulut dia yang kayak pabrik cabe, tapi dia bikin gue suka sama dia dengan cara dia sendiri." Ucap Nada jujur.
Vania menghembuskan nafasnya, "iya Nad, gue juga bisa liat kok."
Nada menghela nafas, dia lalu berbalik melihat ke arah Nethan yang tengah sibuk main handphone. Sebuah senyuman terukir diwajah Nada. Ya, dia tidak menyangka akan menyukai musuh bebuyutannya itu.
Berawal dari benci, berlanjut menjadi perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.