Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading♡
***
Nethan mendesah ketika melihat Nada yang belum saja mengganti seragam yang menurut Nethan sangatlah kekurangan kain.
"Seragam lo perlu di ganti." Protes Nethan.
Nada menggeleng, "nggak mau, ini udah dari kelas sepuluh udah nyatu sama badan gue."
"Ganti yang memang buat ukuran badan lo!"
Nada menggeleng, "enggak mau, Nethan ku sayang."
"Iya, awas aja kalo sampe gue beliin terus nggak lo pake, gue pakein!" Kecam Nethan yang justru membuat mata Nada berbinar, "beneran atau boongan?."
Nethan mendengus, lalu mengetuk-ngetik dahi Nada dengan jari telunjuknya. "Ini otak lo udah kayak Aji semua. Nggak ada yang bener."
Nada menyengir sambil menggigit bibir bawahnya. Baru saja dia ingin naik di motor Nethan, tetapi Nethan menahannya.
"Gue lupa bawa helm satu, lo punya helm?." Tanya Nethan sembari menatap garasi rumah Nada, "Dafri udah pergi?" Tanyanya lagi.
Nada mengangguk, "duhh gue nggak usah pake helm, lo aja. Biar lo fokus bawa motornya, tanpa gangguan serangga ganjen."
Nethan tidak merespon ucapan Nada, dia malah mengambil sesuatu diranselnya. Nada kemudian menjadi bingung ketika melihat Nethan yang baru saja mengeluarkan topi berwarna putih dari ransel cowok itu.
"Buat gue ya?" Tanya Nada dengan percaya diri.
Nethan lalu memakaikan topinya itu dikepala Nada, "Balikin bentar."
Nada tidak mengangguk, melainkan dia langsung naik di motor Nethan dan menaruh kedua tangannya diatas pundak Nethan. Nada sedikit berdiri, "Let's go to schoolll!"
Nethan melajukan motornya, membuat Nada hampir terjatuh karena Nada masih berdiri. "duduk!" Perintah Nethan walau tidak terlalu jelas suaranya.
Cewek yang dibonceng Nethan itu terkekeh pelan, "siap, kapten!" Ucapnya kemudian duduk dengan posisi yang benar.
Nada memeluk perut Nethan. Berasa seperti meluk balok, itu pendapat Nada.
Sinar matahari menyilaukan pandangan Nada. Pagi yang indah, Nada belum pernah ke sekolah jam begini. Nada menempelkan kepalanya dipunggung Nethan, matanya terpejam, merasakan detik demi detik dirinya bersama orang yang dia cintai ini.