Nethan itu benci sikap Nada yang tidak ingin mengalah dan selalu merasa benar.
Nada itu benci Nethan karena selalu merusak apa pun yang dia punya. Walau tidak semua sih. Tetapi tetap saja Nada tak suka!. Ditambah lagi mulut Nethan yang suka ceplas...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengarkan ini, aku tidak pergi kemana-mana. Aku tetap menjadi penjaga hatimu.
***
From : ondel-ondel
Than, gue keluar bentar ya, gak lama doang.
Mata Nethan segera melebar ketika membaca surat yang dia ambil dari meja belajarnya. Apakah Nada menaruh surat itu pagi-pagi tadi?. Nethan terdiam ditempatnya, tidak! Mungkinkah Nada akan kembali ke rumahnya?! Nethan segera berlari keluar dari kamarnya.
Dia lalu menuruni tangga dengan langkah cepat, membuat Linda menatapnya bingung.
"Kenapa lari-lari gitu?"
"Mi, aku mau cari Nada, dia keluar pagi-pagi, ini suratnya." Nethan menyodorkan surat yang dia pegang ke tangan Linda.
Linda kemudian membaca surat tersebut. "I-ini?, pantes dia nggak keluar-keluar dari kamarnya, mami kira dia belum bangun."
"Iya mi, aku mau cari dia."
"Iya-iya, kamu cari dia sekarang. Mami bakal telepon papi kamu buat ikut nyariin Nada." Ucap Linda mulai panik.
Nethan tersenyum simpul. "Makasih mi." Ucapnya kalem lalu mengecup sekilas dahi Linda.
Setelah itu Nethan berlari keluar dari rumahnya. Dia segera menyalakan motornya dan mulai berjalan menelusuri jalan. Pikirannya saat ini hanya tertuju satu cewek yang berhasil mencuri hatinya sampai detik ini.
***
"Makasih bang." Ucap Nada sambil menyodorkan uang dua puluh lima ribu pada gojek yang dia tumpangi.
Supir gojek itu tersenyum, "sama-sama neng," ucapnya lalu mengedipkan sebelah matanya.
Nada spontan mundur satu langkah sambil bergidik ngeri. "Dihh sana pergi!"
"Galak amat neng, masih untung saya kasih tumpangan." Ucap supir gojek itu percaya diri.
"Iya tapi kan gue juga bayar!" Ketus Nada.
Supir gojek itu mengerucutkan bibirnya lalu pergi dari situ. Meninggalkan Nada yang kini memandangi rumah besar di depannya ini. Rumah opa nya. Nada sengaja datang pagi-pagi begini supaya Nethan tidak akan ikut dengannya. Dia tidak ingin Nethan juga terseret dalam masalah satunya ini. Dia tidak mau Nethan berada dalam bahaya, Nethan sudah terlalu baik padanya selama ini.
Nada menghela nafas panjang hingga membuat pundaknya juga ikut terangkat. Dia menghembuskannya pelan, "semoga opa baik-baik aja." Gumamnya pelan.